#BAB 8

“Jali, kita la por po lisi saja. Ibu yakin ini ulah Zainab. Dia sengaja mengha sut warga," ucap Ibu Rahma, sua ranya geme tar.

Rojali terdiam, surat di tangannya dire mas e rat.

"Jali! Kamu dengar Ibu tidak?!"

"Bu... kita pikir-pikir dulu," potong Amelia cepat. "Kalau la por po lisi, masalah ini makin besar. Nama baik Abang dan Ibu bisa ru sak."

"Rusak bagaimana?! Yang rusak itu nama baik kita sekarang! Warga sudah telanjur memben ci kita karena ha su tan Zainab!" Ibu Rahma mene puk da danya.

"Ibu tidak terima keluarga kita di hi na seperti ini!"

Rojali meng he la na pas. "Bu, aku mengerti. Tapi Amelia benar. La por po lisi hanya akan memperu mit."

"Lalu kita diam saja?!"

"Tidak. Aku akan menemui Zainab. Aku akan marahi dia, lalu menyuruhnya bilang ke warga kalau kejadian tadi pagi cuma sa lah paham."

Ibu Rahma menghentikan langkah. "Kamu pikir Zainab akan menurut?"

Rojali tersenyum percaya diri. "Zainab sangat mencin taiku, Bu. Dia pasti menurut kalau aku minta maaf dan memo hon untuk tidak jadi berce rai."

Amelia tersentak. "Maksudmu, Bang? Jadi kamu nggak jadi mence rai kannya? Lalu mau membawa kembali Mbak Zainab ke r u m a h ini?!"

"Mel, ini demi kebaikan kita. Kalau Zainab kembali, warga akan tenang."

"Tapi Bang... Amel... Amel harus tinggal di mana?"

"Kamu tetap di sini, Mel. Kamu kan istriku juga."

Jadi aku hanya dijadikan is tri kedu a yang disembunyikan?! batin Amelia mur ka.

"Sudahlah, Mel. Rojali benar," po tong Ibu Rahma. "Kita pura-pura baik saja dulu dengan Zainab."

*

Belum sempat Rojali keluar, motor sport merah berhenti di depan r u m a h. Kayla turun, wajahnya pu cat, matanya sem bab.

"Bang! Jangan pergi dulu! Cepat masuk!" te riak Kayla keta kutan.

"Kay? Kenapa?"

"Buka HP, Bang. Buka TikTok. Gawat, Bang!"

Kayla menyo dorkan ponselnya.

Thumbnail pertama: Ibu Rahma me luda hi Zainab.

Kedua: Kayla mendo rong Zainab hingga ter sung kur.

Ketiga: Rojali mematung penge cut.

Keempat: Amelia bersembunyi di balik pung gung Rojali.

Semua video sudah ju taan tayangan. Kolom komentar me le dak.

"Astagfirullah ... tega banget sama Zainab."

"Mertua paling ke jam sedunia!"

"Itu adik ipar juga ikut dorong. Kuliah dibi a yain Zainab, kok tega?!"

"Suaminya diem aja. Penge cut!"

"D a s a r p e l a k o r!"

Kayla meng gulir. Jarinya berhenti pada sebuah komentar.

Akun @bangtono_78: "Aku kenal Rojali. Dia kerja di mess tempatku. Bukan pe ga wai tambang. Cuma pekerja bersih-bersih mess. Ga ji nya U M R. Setiap bulan nyi cil uta ng ke saya."

Ibu Rahma meraih ponsel. Wa jahnya pu cat. "Tidak... tidak mungkin. A nak ku... a nak ku bukan pembo hong..."

Komentar lain: "R u m a h me gah itu murni dibangun pakai u4ng Zainab! Rojali cuma pem ban tu mess!"

Komentar @bangtono_78 lagi: "Rojali mengha mi li wani ta la in sambil berbo hong ke istrinya. Astagfirullah..."

Kebo hongan Rojali berakhir malam ini. Seluruh negeri berbalik menyerang. Zainab tidak perlu mengotori tangannya sendiri untuk membuat hidup mereka han cur sehan cur-han curnya.

Bersambung…

Baca di Aplikasi KBM App

Judul : Maaf, Bang R u m a h Ini Aku H a n c u r kan!

✍️ Penulis: JuwitaJS

Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!

#fyp #kbmapp #MaafBangRumahIniAkuHanCurKan! #JuwitaJS

8/7 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman pribadi saya pernah menyaksikan bagaimana sebuah isu kecil di lingkungan keluarga bisa menjadi besar dan viral karena media sosial. Dalam kasus seperti yang dialami Rojali dan keluarganya, apa yang awalnya hanya masalah internal, dapat meluas menjadi perbincangan publik yang tidak terkendali. Penggunaan media sosial ternyata bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, media sosial memungkinkan seseorang untuk berbagi cerita dan mendapatkan dukungan. Namun di sisi lain, informasi yang belum tentu benar dapat menyebar dengan cepat, memicu kesalahpahaman, bahkan sampai menghancurkan reputasi sekeluarga. Video-video yang beredar seperti yang menggambarkan perlakuan buruk kepada Zainab, sekaligus komentar-komentar pedas dari netizen memperlihatkan bagaimana mudahnya penilaian publik dipengaruhi oleh angle dan narasi tertentu. Memang penting untuk mengingatkan diri agar tidak langsung percaya begitu saja dengan apa yang kita lihat di media sosial. Memverifikasi fakta dan memahami situasi dari berbagai sudut pandang sangat diperlukan agar tidak terjebak menjadi bagian dari penyebar fitnah atau pemicu konflik. Sama seperti Amelia yang harus menghadapi kenyataan pahit menjadi istri kedua yang tersembunyi, banyak orang mungkin bisa merasakan dilema serupa dalam hubungan mereka. Solidaritas antar keluarga dan komunikasi terbuka bisa menjadi kunci mengatasi konflik internal sebelum menjadi konsumsi publik yang lebih besar. Dari kisah ini, saya jadi lebih waspada dan mengambil pelajaran bahwa menjaga keharmonisan keluarga tidak hanya harus dilakukan di ranah pribadi, tetapi juga dengan cermat merespons dan mengelola eksposur di media sosial yang bisa berdampak besar. Semoga kisah Rojali dan Zainab menjadi pengingat pentingnya kejujuran, komunikasi, dan keteguhan hati menghadapi badai kritik sosial yang tak terduga.

Posting terkait

Empat porsi tumis ayam brokoli dan jamur kancing tersaji dalam wadah. Terlihat potongan ayam yang dibumbui, brokoli hijau segar, dan irisan jamur kancing. Hidangan ini tampak siap disantap.
TUMIS AYAM BROKOLI
Tumis ayam Brokoli ✨️ Bahan: 250 gr daging ayam 150 gr brokoli 150 gr jamur kancing 4 siung bawang merah 3 siung bawang putih 3 sdm saus tiram ½ sdt lada 1 sdt kaldu ayam Garam Gula #Cuci bersih daging ayam dan potong dadu. #Cuci bersih brokoli dan jamur, potong sesuai selera. #H
🇸🇬Triizta gorengan🇸🇬

🇸🇬Triizta gorengan🇸🇬

1070 suka

Gambar menunjukkan seorang wanita berhijab dan seorang anak perempuan tersenyum sambil berpegangan tangan, dengan judul "Parenting ala Sayyidina Ali bin Abi Thalib" di atasnya.
Gambar menampilkan seorang wanita berhijab dan anak perempuan tersenyum, dengan teks yang menyatakan upaya menerapkan metode parenting Sayyidina Ali bin Abi Thalib menggunakan rumus 7x3.
Gambar seorang wanita berhijab dan anak perempuan tersenyum, disertai teks tentang perlakuan anak usia 0-7 tahun sebagai raja/ratu, dilayani tulus, dan menahan emosi.
PARENTING ALA SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB
Hi lemonade 🍋 Kali ini, aku mau sedikit sharing tentang salah satu gaya parenting yang bisa kita jadikan panutan untuk mendidik anak kita. Yakni parenting ala Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Parenting ala Sayyidina Ali bin abi thalib menggunakan rumus 7×3, yakni : 1. Usia 0-7 tahun, perlakukan an
Chaytsr

Chaytsr

1677 suka

Gambar sampul menampilkan dua orang, satu dengan wajah ditutupi emoji marah, dan satu lagi tersenyum. Teks utama berbunyi "7 PINTU Selingkuh No 7 Paling Nyesek!!", mengindikasikan topik pembahasan tentang penyebab perselingkuhan.
Dua wanita berhijab duduk berdampingan, tersenyum ke arah kamera. Teks di atas mereka bertuliskan "1 Ipar yg gak mawas diri", dengan penjelasan di bawahnya tentang pentingnya memahami batasan mahram untuk mencegah perselingkuhan.
Beberapa orang berdiri di tangga, beberapa memakai kacamata hitam. Teks di atas mereka berbunyi "2 Campur Baur Di tempat kerja", dengan keterangan di bawahnya tentang risiko perselingkuhan yang berawal dari interaksi di tempat kerja.
NO 7 PALING NYESEK😭 PENYEBAB SELINGKUH TERJADI😤🤬
Hai #lemonade Kalo ngurusin selingkuh tuh rasanya nyesek sampe ga bisa berkata² lagi ya bebs, entah itu alasannya karena mata manusia ga pernah ngerasa puas, kebosanan yg melanda atau bahkan gaada rasa saling menghargai satu sama lain, yg menyebabkan pintu selingkuh itu terbuka 😞 Ga melulu
shintahri

shintahri

880 suka

Lihat lainnya