#BAB 9

Bu Rahma masih terdu duk le mas di sofa beludru merah marun. Ma tanya kosong. Wajahnya pu cat. Ponsel tergel etak di lantai dengan komentar yang terus mengalir.

Rojali berdiri di dekat pintu, diam. Kayla duduk di samping ibu, masih sesenggukan. Amelia berdiri di sudut, ma tanya mengamati.

"Kay... ada apa sih? Kenapa Ibu sama Abang Jali jadi gitu?" tanya Amelia.

Kayla mendongak. "Karena vid eo vi ral ini, Mbak. Tadi aku diben tak-ben tak orang pas makan di kafe. Mereka menghi na aku. Kayaknya mereka kenal Zainab. Aku malu sama Doni."

Amelia hendak mengambil ponsel, tapi Rojali merebutnya. "Udah, Mel. Jangan tonton. Itu semua fitnah."

Rojali lalu menghampiri ibunya. "Bu, semua komentar itu b o h o n g. Netizen ba yaran suruhan Zainab."

Ibu Rahma mulai mengerjap. "Benar juga... nggak mungkin Zainab punya banyak u a n g cuma dari jua lan ja mu."

Amelia bertanya, "Abang jadi mau menjemput Mbak Zainab?"

"Iya, Mel. Harus secepatnya."

"Ke mana, Bang?" tanya Kayla.

"Ke r u m a h ibunya. Dia tak punya saudara lagi."

*

Rojali berpamitan. Amelia berbi sik li rih, "Abang hati-hati, ya."

Setelah setengah jam, Rojali memasuki kampung mertuanya. Suasana sangat sepi. R u m a h-r u m a h gelap.

Tak ada suara kucing atau anjing. Hanya debu beterbangan di bawah cahaya bulan yang redup. Angin malam bertiup dingin, membawa daun-daun kering bergerak pelan di aspal.

Hanya kesunyian yang m e n c e k i k.

Ia turun dari motor. Matanya melihat sekeliling, berharap menemukan bayangan so sok mertua atau Zainab. Tapi tidak ada.

TOK! TOK! TOK!

Ia mengetuk pintu. "Assalamualaikum... Bu... Zainab... Kalian di dalam?" Tak ada jawaban. Sunyi. Terlalu sunyi.

Ia mengetuk lebih k e r a s.

TOK! TOK! TOK!

Hampir memu kul. "Assalamualaikum! Bu! Zainab! Saya Rojali!"

Masih tak ada jawaban. Hanya suara angin yang m e m b a l a s.

Keringat dingin memba sahi pung gung nya. Da danya berde bar kencang, seperti mau mele dak.

Ini tidak mungkin. R u m a h ibu Zainab tidak mungkin kosong.

Dia pasti di sini. Atau... atau mereka sudah pindah? Tapi ke mana?

Ia berteriak lebih ke ras, "BU! ZAINAB! AKU TAHU KALIAN DI DALAM! KELUAR!" Tak ada jawaban.

Rojali tidak kuat lagi. Rasa takut yang ia tahan sejak tadi akhirnya mele dak. Ia pergi, meninggalkan kampung yang terasa seperti kampung ma ti.

*

Ia berhenti di warung kopi kampung sebelah. "Mas, ko pi su su satu ya."

Di sampingnya dua bapak-bapak sedang ngobrol.

"Wah, kampung sebelah udah pada kosong semua ya, Pak?" ujar yang pakai kaus oblong.

"Iya, sepi banget. Kayak kampung ma ti," timpal yang pakai kemeja kotak-kotak.

Pemilik warung ikut nimbrung. "Lho, Mas-Mas ini belum tahu? Itu kampung udah dibe li peru saha an tam bang tahun lalu. Ganti ruginya selangit. Satu r u m a h bisa tembus mi lia ran."

Rojali melongo. "Mi lia ran, Bang?"

"Iya, Mas. Ada yang sampai dapet lima mi liar lebih. Tergantung luas tanah."

"Pantesan warga pindah semua. Kalau dapet u a n g segitu, saya juga pindah."

Rojali terdiam. Pikirannya a cak-a ca kan. Ia teringat Zainab. Teringat r u m a h mertuanya yang kosong. Teringat r u m a h mewah yang ia tempati sekarang.

Jangan-jangan... u a ng buat bangun r u m a h me wah itu... berasal dari u a n g....

Bersambung...

Baca di Aplikasi KBM App

Judul : Maaf, Bang R u m a h Ini Aku H a n c u r kan!

✍️ Penulis: Juwita JS

Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!

#kbmapp #MaafBangRumahIniAkuHanCurKan #JuwitaJS #RekomendasiNovel

1 minggu yang laluDiedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman saya membaca kisah ini sangat mengaduk emosi, terutama ketika Rojali mencoba mencari keberadaan Zainab di rumah mertuanya yang kosong. Situasi sunyi di kampung yang dulu ramai berubah drastis, terasa seperti simbol dari dampak viralnya sebuah video yang menebar fitnah dan membawa perubahan besar secara sosial. Dalam kehidupan nyata, fenomena seperti ini juga dapat terjadi di lingkungan sekitar kita. Ketika sebuah isu viral menyebar tanpa kontrol, tidak jarang masyarakat menjadi terpecah dan individu yang terlibat menghadapi tekanan psikologis yang berat, seperti yang dialami Kayla yang merasa malu dan dihina di tempat umum. Hal ini membuat saya menyadari betapa pentingnya untuk menjaga etika digital dan tidak mudah percaya pada komentar-komentar berbahaya di media sosial. Cerita tentang kampung yang dijual oleh perusahaan tambang dan membuat penduduk pindah semua dengan kompensasi besar juga menggambarkan realitas sosial tentang perubahan ekonomi dan lingkungan yang tidak selalu berjalan mulus. Kondisi ini seringkali menimbulkan dilema antara keuntungan materi dengan kehilangan ikatan sosial dan kenangan di suatu tempat. Saya merasa kisah ini mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap dampak dari berita viral, serta menyadari bahwa di balik rumah mewah dan kekayaan yang tampak, mungkin tersimpan cerita kelam yang belum terbuka. Semoga kelanjutan cerita ini bisa memberikan solusi sekaligus pengingat agar kita tidak mudah terpengaruh oleh informasi negatif tanpa mencari kebenaran terlebih dahulu.

Cari ·
jaket satpam hitam keren