BAB 1
"Le paskan pa kaian pengantinmu sekarang, atau mereka akan menemukanmu dalam hitungan detik!"
Suara bariton itu tidak memberikan pilihan. Aini geme tar he bat. Pria dengan seragam loreng yang ko tor oleh tanah dan da rah menatapnya ta jam, meme gang laras pan jang yang masih menyi sakan b a u me siu.
Aini mena tap gaun pengantin putihnya yang kini com pang-cam ping dan berlum pur. Gaun saksi bi su penjua lannya kepada rente nir tu a demi menu tupi hu tang ju di ibu tirinya, Siska. Demi mela rikan diri, Aini nekat melom pat dari jendela ka mar ho tel setinggi tiga meter, berla ri menem bus hutan kota hingga mencapai perbatasan zona militer terla rang.
"Siapa... siapa Anda?" suara Aini terce kat.
"Saya Kapten Dirga. Dan mulai detik ini, kamu adalah tawa nan sekaligus tanggung jawab saya."
Hutan ini ternyata jauh lebih ke jam. Aini terjebak di tengah ba ku tem bak antara pasukan khusus dan kelompok pemberon tak. Sebelum pelu ru nyasar mereng gut nya wanya, ta ngan ke kar Dirga menyen taknya ja tuh dan menyelamatkannya.
Dirga mena rik ka sar tangan Aini masuk ke pos penjagaan tu a yang la puk. Di luar, suara tem bakan dan te riakan komando masih bersahutan.
"Duduk di sana," perintah Dirga dingin sambil menunjuk peti kayu be kas amunisi dan memeriksa magasin sen jata.
Melihat Aini menggi gil dengan gaun t i p i s berpotongan ba hu terbu ka, Dirga mele pas jaket loreng tebalnya lalu melem parkannya. "Pakai. Aroma parfum m a h al mu bisa mengun dang mu suh. Di hutan, ba u menye ngat adalah lonceng kema tian."
Aini meme luk jaket itu. Hangat, membawa aroma maskulin yang memberi rasa aman. "Kenapa Anda m e n o l o n g saya?"
"Prajurit dilatih untuk menyelamatkan nya wa," sahut Dirga tegas. Namun tatapannya melunak saat melihat me mar biru di pergela ngan ta ngan Aini serta papan nama almarhum Pak Surya di meja. "Ayahmu pernah membantu saya. Hu tang budi pada ayahmu akan saya ba yar dengan keselamatanmu."
Tiba-tiba, deru me sin truk besar meme cah kesunyian. Dirga m e m a t i k a n senter, mena rik Aini ke dalam deka pannya di sudut yang paling ge lap.
"Markas dalam status Siaga Satu," bisik Dirga di telinga Aini. "Warga sipil tanpa identitas jelas akan dita Han dan diintero gasi berhari-hari oleh intelijen sebagai ma ta-ma ta."
"Lalu saya harus bagaimana?" Aini pa nik, mencengke ram le ngan baju Dirga.
Dirga mencengke ram ba hu Aini dengan mantap, mengunci pandangannya. "Hanya ada satu cara agar kamu aman di bawah pengawasan saya tanpa dicu ri gai. Ikut saya ke barak. Saya akan mengumumkan bahwa kamu adalah istri yang saya nikahi secara siri sebelum penugasan ini."
Aini terbela lak. "Menikah? Tapi kita bahkan tidak saling mengenal!"
"Ini bukan soal romansa, Aini. Ini soal berta han hidup. Di ba rak nanti, kamu akan t i d u r di ka mar saya, makan bersama saya, dan tunduk pada perintah saya sebagai istri prajurit. Berperanlah dengan sempurna, atau kita berdua akan tamat."
Suara langkah sepatu bot berat mendekat ke pos, disusul sorotan senter militer dari jendela.
"Pilihan ada di tanganmu," bi sik Dirga ta jam.
"Keluar dan ditang kap o rang-o rang yang menge jarmu, atau masuk ke barak saya dan menjadi Nyonya Dirga?"
--
PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?
Yuk, baca bab selengkapnya sekarang juga cuma di KBM APP!
📚 Judul: Malam Pertama di Barak
✍️ Penulis: Muntaha H. S SKMM
Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!
Pengalaman membaca "Malam Pertama di Barak" menggugah emosi saya karena mengangkat tema yang jarang dibahas, yaitu perpaduan antara pelarian dari masalah sosial dan kondisi perang di zona militer terlarang. Cerita ini sangat menarik dengan tokoh utama Aini yang harus menghadapi situasi ekstrem setelah melompat dari jendela hotel demi menolak pernikahan yang dipaksakan karena utang. Salah satu aspek yang saya apresiasi adalah bagaimana penulis menggambarkan suasana mencekam di hutan yang menjadi zona militer terlarang. Bayangkan ketika Aini, yang mengenakan gaun pengantin lusuh dan kotor, tiba-tiba harus bertahan hidup di tengah baku tembak antara pasukan khusus dan pemberontak. Ini memberi kesan nyata tentang bahaya yang dia hadapi dan ketakutan yang menyelimuti situasinya. Selain itu, dinamika antara Aini dan Kapten Dirga yang tiba-tiba harus menjalani peran sebagai suami istri secara siri membuka konflik emosional yang sangat kompleks. Saya merasa ini bukan sekadar soal roman, melainkan juga strategi untuk bertahan hidup. Ketika Dirga menyatakan bahwa pernikahan ini bukan untuk romance melainkan bertahan hidup, saya melihat bagaimana tekanan lingkungan bisa memaksakan keputusan sulit dalam hidup seseorang. Penggunaan jaket loreng sebagai simbol perlindungan dan kehangatan juga sangat kuat. Jaket itu bukan hanya melindungi Aini dari dinginnya hutan, tetapi juga menjadi penanda harapan dan rasa aman yang diberikan sang Kapten. Aromanya yang maskulin membuat Aini merasa terlindungi, meski situasinya penuh ketegangan. Bagi pembaca yang suka novel bergenre militer dan drama psikologis, cerita ini sangat direkomendasikan karena menggabungkan elemen petualangan, ketegangan, dan hubungan interpersonal yang intens. Saya pribadi merasa terhubung dengan perjuangan Aini dalam memilih antara kebebasan yang berbahaya atau perlindungan yang harus dibayar mahal dengan identitas palsu. Jangan lupa untuk download KBM APP dan baca kisah lengkap "Malam Pertama di Barak" untuk merasakan ketegangan dan kebimbangan tokoh utama secara utuh. Cerita ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajarkan tentang keberanian dalam menghadapi situasi sulit dan nilai loyalitas antar manusia di tengah konflik. Selamat membaca!

