Part 2
Ia tidak men4ngis. Air m4tanya habis saat lamaran dulu, saat tahu bahwa pernikahannya bukan karena cinta, tapi karena tran s4k si. Yang tersisa hanya kebekuan di da da.
Jam 4 pagi, alarm di ponselnya berbunyi. Wulan bangun dengan bad4n peg4l. Ia belum t i d u r nyenyak.
Dia berj4lan ke dapur. Matanya masih sembab, tapi ia memaksakan s3nyum saat meng4mbil waj4n.
Nasi goreng seafood. Jus alpukat. Roti panggang keju.
Ia mengerjakan semua dengan cek4tan. Di kampung dulu, ia memang sering memasak untuk ad1k-adikny4. Jadi ini bukan hal baru.
P u k u l 6 pagi, Bu Tuti turun. Mat4nya meny1pit melihat meja makan yang sudah tertata rapi. Dewi menyusul deng4n rambut ac4k-ac4kan. Arga keluar dari kam4rnya sambil menguap.
Wulan berdir1 di samping meja. T4ngannya terkepal di depan rok seragam krem itu. Seperti pemb4ntu sungguhan.
"Wah, lumayan juga," kata Bu Tuti sambil mencicipi nasi goreng. "Tapi ke4sinan. Besok kurangin garamnya."
"Baik, Ibu."
Dewi menguny4h roti panggang. "Ini rotinya gosong sedikit. Kamu nggak bisa bikin yang sempurna?"
"Maaf," ucap Wulan.
Arga duduk. Ia meng4mbil sendok, menyu4p nasi goreng sekali, lalu meletakkan sendoknya kembali. "Nanti sore kamu setrika baju kerjaku, ya."
"Aku juga, setrik4 baju aku," timpal Dewi. "Ada 6 blouse. Pokoknya rapi, ya. Jang4n sampai ada lip4tan."
Wulan hanya meng4ngguk. Ini hanya hari pert4ma. Aku bisa.
Setelah sarapan, ia memb3rsihkan meja, mencuci piring, meng3pel lantai d4pur, lalu naik ke lantai dua untuk memb3reskan k a m a r Arga yang tidak pernah ia tiduri. Di lemari p a k a i a n Arga, Wulan menemukan foto. Foto Arga dengan seorang wanita cantik berhijab, bergandengan tangan di pinggir pantai.
Di belakang foto itu tertulis: "Arga & Laras, 2019. Forever."
Wulan membalik foto itu dan menghela nap4s. Jadi dia sudah punya kek4sih sebelum menik4h denganku. Bukan rah4sia lagi. Seluruh kota mungkin tahu. Tapi ia terlalu n4if untuk percaya bahwa pernikahan ini akan berubah menjadi cinta.
Jam menunjukkan p u k u l 2 siang saat ia selesai menyetrika. 6 blouse Dewi, 3 kemeja Arga, 2 gaun Bu Tuti. Tang4nnya m3lepuh sedikit karena s3trika yang terlalu p4nas, tapi ia tidak berani meng3luh.
Bu Tuti memanggil dari ruang t4mu. "Wulan, ke sini!"
Wulan bergeg4s.
Di ruang tamu, Bu Tuti sedang duduk di sofa panjang sambil memeg4ng remote TV. Di depannya ada gelas kosong dan piring bek4s kue. "Angkat ini. Lalu buatkan aku teh hangat. Jangan pakai gula. Aku sedang diet."
"Baik, Ibu."
Wulan membawa gelas dan piring ke dapur. Ia mencuci gelas itu, lalu merebus air. Tangannya gemet4r sedikit. Aku menantu, bukan pemb4ntu. Tapi mana mungkin aku bilang begitu? Ayahku masih punya ut4ng.
Teh hangat ia siapkan. Dibawanya ke ruang tamu dengan nampan kayu jati yang ber4t.
"Ibu, tehnya."
Bu Tuti mengambil cangkir. Tapi bukan untuk diminum. Ia justru membuka tutup cangkir, meniupnya, lalu mengembalikan ke nampan dengan ekspresi tidak pu4s. "Terlalu pan4s. Buat ulang."
"Tapi Ibu, teh hang4t memang harus—"
"Buat ul4ng!" bentak Bu Tuti. Matanya membelalak. "Kamu di sini bukan untuk membantah. Kamu di sini untuk melayani. Paham?"
Wulan menunduk. "Pah4m, Ibu."
Ia kembali ke dapur. Air baru direbus. Daun teh baru diseduh. Kali ini ia biarkan agak dingin sebelum menu4ng ke cangkir.
Saat ia kembali ke ruang tamu, Dewi sudah bergabung dengan ibunya. Dewi tertawa melihat Wulan membawa nampan.
"Lihat deh, Bu. Beneran kayak pemb4ntu ya. Bisa tuh kita buka lowongan ART, nggak usah bay4r. Udah ada Wulan."
"Jangan bercanda, Dewi. Kasihan dia," kata Bu Tuti dengan nada manis yang palsu. Lalu ia menatap Wulan. "Tehnya taruh di meja. Lalu kamu lap semua jendela di lantai dua. Masih ada 10 jendela. Selesai sebelum magrib."
Baca selengkapnya di K B M App
📚Judul : Dulu P e m b a n t u, Kini jadi Ratu
✍️ Penulis: Theresia Anastasia
Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!
#fyp #kbm #DuluPembantuKiniJadiRatu #TheresiaAnastasia #RekomendasiNovel
Pengalaman Wulan dalam menghadapi pernikahan yang didasari oleh utang, bukan cinta, adalah gambaran nyata perjuangan banyak wanita dalam menghadapi kenyataan pahit setelah menikah. Saya pernah membaca beberapa kisah serupa di forum dan media sosial, di mana seorang menantu merasa seperti pembantu di rumah tangga mertuanya. Meski perjuangan itu berat, keteguhan hati Wulan untuk tidak menyerah menjadi inspirasi yang kuat. Mengurus rumah tangga sekaligus berusaha mendapat pengakuan keluarga suami bukan hal mudah, apalagi ketika harus melayani dengan penuh kesabaran seperti yang dialami Wulan saat menyajikan teh untuk Bu Tuti. Bagi saya, kisah ini mengajarkan pentingnya kesabaran dan kerja keras dalam membangun kepercayaan dan penghargaan. Selain itu, menemukan foto kekasih lama suami menambah berat beban batin yang Wulan tanggung. Hal ini menyadarkan saya bahwa masalah rumah tangga seringkali lebih kompleks dari yang terlihat. Meskipun demikian, dengan tekad dan niat untuk berjuang, tidak mustahil seseorang bisa mengubah posisi dan mendapatkan tempat yang layak di keluarga baru. Saya juga teringat kisah teman yang pernah mengalami situasi serupa, di mana ia diperlakukan seperti pembantu setelah menikah. Namun, ia memilih untuk belajar dan meningkatkan dirinya agar suatu saat dipandang sebagai bagian penting keluarga. Saat ini, hubungan keluarganya jauh lebih harmonis dibanding awal pernikahan. Dari kisah Wulan, pembaca dapat belajar bagaimana menjaga mental yang kuat di tengah tantangan rumah tangga, serta pentingnya menjaga komunikasi dan adaptasi terhadap lingkungan baru. Kisah ini bukan hanya sebuah cerita, tapi juga pelajaran hidup bagi kita semua yang berharap membangun rumah tangga bahagia meski dalam kondisi sulit. Untuk kamu yang sedang mengalami masa-masa sulit setelah menikah, jangan putus asa. Perjuangan seperti Wulan mungkin berat, tapi dengan kesabaran dan usaha, setiap wanita bisa menjadi ratu di rumahnya sendiri.

