BAB 3
Anda tidak ti dur?" tanya Aini pelan dari balik se li mut.
"Ti durmu adalah tugasku malam ini. Aku tidak akan membiarkan bayangan masa lalumu masuk ke ka mar ini lewat mimpi sekalipun," jawab Dirga tanpa menoleh.
Keheningan malam di barak terasa begitu magis. Namun, di dalam hati kecilnya, sebuah keta kutan baru muncul. Keta kutan bahwa ia akan terbiasa dengan perlindungan pria ini. Ketaku tan bahwa ia akan ja tuh cin ta pada pria yang menikahinya hanya karena tu gas.
Aini mulai meme jamkan mata, namun ia tersen tak saat merasakan sebuah tangan kas ar namun hangat mena rik seli mutnya hingga ke ba hu. Itu tangan Dirga. Pria itu memperbaiki posisi seli mutnya dengan sangat hati-hati.
"Ti durlah, Aini. Tapi ingat, di ruangan ini hanya ada satu ran jang, dan jangan pernah sa lahkan aku jika besok pagi kamu terba ngun di pe lu kan ku."
"Jangan le paskan pega ngan tanganmu, Aini. Jika kamu terlihat ra gu, mereka akan menci um aro ma keboho ngan ini seperti hiu menci um da rah."
Suara rendah Dirga terasa mengge litik di teli nga Aini. Pagi itu, Dirga berdiri di depan cermin kecil, mengenakan seragam PDL (P a k a i a n Dinas Lapangan) yang telah disetrika licin. Ia mena rik tangan Aini, menya tukan je mari mereka dengan erat.
"Saya ta kut, Mas. Bagaimana kalau mereka bertanya soal surat nikah kita?" bisik Aini, suaranya geme tar.
Dirga berhen ti melangkah tepat di depan pintu barak. Ia berbalik, merapikan he laian rambut Aini yang berant akan.
"Surat bisa dibuat, tapi tata pan ma ta tidak bisa bo hong. Tatap saya seolah saya adalah satu-satunya pelindungmu di dunia ini."
Saat mereka memasuki area kantin, suasana menda dak hening seketika. Ratusan pasang mata tertuju pada satu titik: tangan sang Kapten yang menggeng gam erat tangan seo rang wanita.
"Siap, Kapten!" suara serempak para prajurit membuat Aini terlon jak ka get.
Dirga m e m b a l a s hormat mereka dengan tenang, lalu mena rikkan kursi untuk Aini. Tak lama kemudian, Mayor Baskoro mendekat dengan wa jah serius.
"Kapten Dirga," suara Mayor Baskoro mengge legar. "Bisa jelaskan siapa wanita ini dan kenapa dia ada di wilayah terbatas tanpa laporan resmi dari intelijen?"
Dirga berdiri tegak. "Lapor, Mayor! Beliau adalah Aini Pramudya, istri sah saya yang saya nikahi secara siri sebelum berangkat tugas ope ra si bulan lalu. Karena situasi daru rat di perbatasan semalam, saya terpak sa membawanya masuk demi keselamatannya."
"Kamu tidak pernah melaporkan pernikahan di kesatuan, Kapten. Kamu ta hu risi konya?"
"Siap, ta hu, Mayor! Saya siap menerima sanksi disiplin apa pun, asalkan istri saya mendapatkan perlindungan."
Mayor Baskoro tertawa pendek. "Selamat bergabung di keluarga besar Batalyon, Nyonya Dirga. Jaga suamimu ini, dia pria yang sangat ke ras kepa la."
Setelah Mayor pergi, Dirga menyisakan sepiring nasi goreng untuk Aini. "Makanlah. Setelah ini, sandiwara kita akan semakin ber at," bisik Dirga.
"Sampai kapan kita harus berbo hong seperti ini, Mas?"
Dirga mencon dongkan tu buhnya. "Sampai semua o rang percaya bahwa kamu memang milikku, Aini. Termasuk sampai kamu sendiri lupa kalau ini hanya sebuah sandi wara."
Dirga menjeda, matanya beralih ke pintu ma suk kantin di mana seo rang pria berpakaian pre man tampak sedang berbicara dengan petugas jaga gerbang.
"Maksud saya, mu suhmu sudah ada di depan gerbang barak. Dan satu-satunya cara menyelamatkanmu adalah dengan menjadikannya nyata."
--
PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?
Yuk, baca bab selengkapnya sekarang juga cuma di KBM APP!
📚 Judul: Malam Pertama di Barak
✍️ Penulis: Muntaha H. S SKMM
Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya! #kbmapp #MalamPertamadiBarak #MuntahaHSSKMM #RekomendasiNovel







































