Part 2
Aku kembali ke r u m a h dengan t u b u h lung lai dan tatapan kosong.
Aku menatap layar ponsel, centang biru ganda di pesan yang kukirimkan pada Fahmi. Pesan yang berisi tiket pesawat PP untuk delapan orang, bukti pemesanan ho tel, serta tiket masuk tempat wisata selama di Singapura. Tapi tak ada b a l a s a n dari Fahmi.
'Pak, semua sudah dibatalkan. Dana akan dikembalikan ke r e k e n i n g Bapak dalam waktu 30 hari kerja,' bunyi pesan dari Pak Bagas.
Aku mengangguk dan m e m b a l a s dengan ucapan terima kasih. Kemudian, sebuah ide terlintas. Jika mereka bisa berlibur, kenapa aku tidak? Selama ini aku selalu mengabbaikan keinginanku demi kebahagiaan a n a k-a n a k dan keluarga kecil mereka.
Aku mengirimkan pesan singkat pada pemilik tour and travel terbesar di kotaku. "Pak Bagas, t o l o n g pesankan tiket pesawat PP dan hotel ke Paris atas nama saya. Buatkan juga jadwal wisata yang tidak terlalu padat selama lima hari.
Pesan itu terkirim dalam hitungan detik.
Paris, kota impian istriku yang sudah lama ingin ia kunjungi. Tapi impian itu tak pernah terwujud karena penya kit yang menggero goti tu buhnya, membuatnya tak mampu melakukan apa pun dan hanya terba ring le mah di r a n j a n g.
Aku kembali mengamati r u m a h sederhana. R u m a h yang mampu memberikan perlindungan dan kenyamanan, meski terasa kecil jika dibandingkan dengan r u m a h dua lantai milik Farhan di peru mahan me wah, atau a par temen bergaya Eropa milik Fahmi. R u m a h dan apartemen yang setiap bulan ci c i lannya menjadi tang gunganku. Ci ci lan sebesar 30 juta ru piah yang selalu kuba yar tepat waktu.
Kini, aku memu tuskan tidak akan lagi menang gung beban itu. C i c ilan tersebut akan ja tuh tem po tanggal 20 setiap bulan, berarti 15 hari lagi.
Tak lama, ponselku berdering. Sebuah invoice dan rencana perjalananku selama lima hari dikirimkan oleh Pak Bagas secepat kilat. Aku mengamati total bia ya yang mencakup makan, transportasi umum, dan tiket masuk tempat wisata. Semuanya sekitar 55 ju ta.
Aku segera m e n t r a n s f e r u a n g senilai total invoice tersebut.
Aku bergegas masuk ke k a m a r, mengambil koper, dan memasukkan baju-baju yang sebelumnya kupersiapkan untuk Singapura. Tangan tuaku mengambil sebuah pigura yang menampilkan foto istriku lima tahun lalu. Tubuhnya k u r u s dan wajahnya pu cat, tapi senyuman manis terbit dari bibirnya.
Aku menci umi pigura tua itu, menitikkan air ma ta lalu mengu sapnya. "S a y a n g, kita akan ke Paris. Kota impianmu," bi sikku.
Perjalananku akan dimulai tiga hari lagi, sehari lebih awal dari jadwal keberangkatan a n a k-a n akku ke Singapura.
Saat mema sukkan barang-barang ke koper, sebuah map tebal dengan kunci di tengahnya terja tuh. Aku membukanya. Di dalamnya berisi surat-surat penting: serti fikat r u m a h, serti fikat kebun kelapa sawit, ijazah a n a k-a n a k, rapor, surat k e m a t i a n istriku, serta dokumen berisi catatan ta gihan, nomor r e k e n i n g, dan jumlah bia ya hidup kedua a n a kku.
Aku membuka bundelan ta gihan itu satu per satu. Ci cil an apartemen dan r u m a h me wah, ci cil an dua mobil, biaya sekolah internasional Zaskia dan Darren, serta ta gi han dua kartu kre dit yang rata-rata mencapai 20 ju ta setiap bulannya. Totalnya sekitar 65 ju ta, dan semuanya kuba yarkan tepat waktu selama lima tahun ini.
Aku mere mas dokumen tagi han itu dan melem parnya ke tempat sampah, tapi tidak dengan bukti trans fernya.
Mulai bulan ini, kupu tuskan untuk menghentikan semuanya. Waktu operasional b a n k belum berakhir. Tangan tuaku menekan nomor call center b a n k penerbit kartu kre dit yang dipegang Farhan dan Fahmi. Dengan te gas, aku menyampaikan maksudku untuk memblo kir kedua kartu kre dit tersebut dengan alasan hilang.
Selengkapnya di KBM app
Judul : Ayah (Sang Penopang yang Tak Dianggap)
Penulis : Tianarie
--
📚 Judul: Ayah (Sang Penopang yang Tak Dianggap)
✍️ Penulis: Tianarie
#kbmapp #AyahSangPenopangyangTakDianggap #Tianarie #RekomendasiNovel
Sebagai seorang yang pernah merasakan peran sebagai tulang punggung keluarga, saya sangat mengerti bagaimana rasanya menjadi ayah yang selalu berusaha menyediakan kebutuhan keluarga meski terkadang tidak dihargai secara emosional. Dalam cerita ini, Pak Surya menggambarkan betapa besarnya pengorbanan seorang ayah yang secara finansial menopang anak dan menantu, bahkan menanggung cicilan rumah, mobil, dan pendidikan anak-anak mereka yang cukup besar setiap bulannya. Namun, cerita ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang materi semata. Ketika harus menghadapi kalimat yang menyakitkan dari anak sendiri bahwa "Bapak gak usah ikut liburan, kami mau liburan dengan keluarga saja," Pak Surya sadar bahwa dirinya selama ini hanya dianggap sebagai "dompet berjalan". Keputusan untuk menghentikan semua bantuan finansial bukan saja soal uang, tetapi juga tentang menghargai diri sendiri dan mengajarkan setiap anak untuk berdiri di kaki mereka sendiri. Dalam pengalaman pribadi saya, momen seperti itu memang berat tetapi penting sebagai titik balik. Kadang orang tua harus menegaskan batas agar anak-anak belajar mandiri. Paket liburan ke Paris sebagai hadiah untuk istri yang sudah tiada dalam cerita ini juga adalah simbol harapan dan penghormatan atas impian yang belum sempat terwujud. Selain itu, keberanian Pak Surya untuk melihat kembali kondisi keuangan yang terbebani cicilan besar, bahkan menutup kartu kredit yang digunakan oleh anak dan menantu tanpa pengawasan, memperlihatkan ketegasan yang harus dimiliki ayah dalam mengatur keuangan keluarga. Itu juga merupakan pelajaran penting bahwa pengelolaan keuangan keluarga harus sehat dan transparan agar tidak menjadi beban yang menekan. Sebagai pembaca, cerita ini sangat inspiratif untuk kita semua terutama yang sedang berjuang dalam peran sebagai kepala keluarga atau orang tua. Jangan takut untuk mengambil keputusan sulit demi kemandirian dan kebahagiaan bersama. Dan sekali lagi, jangan lupa menghargai diri sendiri karena menghargai diri adalah langkah awal untuk mencintai orang lain dengan lebih baik.

