Sedan hitam itu perlahan memasuki pelataran gedung megah PT Maju Pangan Indonesia.
Jam digital menunjukkan p u k u l sepuluh lewat lima belas menit. Dessy mena tap gedung tinggi di hadapannya. Bertahun-tahun ia meninggalkan kekua saan ini demi hidup sederhana bersama pria yang dulu dianggapnya cinta sejati.
"Nona Muda... maaf karena insiden tadi, Nona jadi terlambat," ucap Pak Surya.
Dessy tersenyum lem but. "Ini bukan salah siapa-siapa, Pak. Aku tetap memilih m e n o l o n g a n a k kecil itu."
Dessy menolak diantar ke lobi dan memilih masuk sendiri.
**
Lobi tampak lengang. Dessy melangkah menuju meja resepsionis.
"Selamat pagi. Saya ingin bertemu Pak Aditya."
Belum sempat resepsionis membalas...
Ting!
Pintu lift eksklusif terbuka. Terdengar ketukan t a j a m sepatu stiletto. Seorang wanita bergaun merah marun melangkah keluar penuh keangvkuhan.
Namun saat melewati meja resepsionis, langkah aro gan itu terhenti.
"Des... Dessy...?" desisnya.
Dessy menoleh tenang. Erika. Wanita perusak itu masih sama, dipoles sempurna demi menutupi kepal suannya.
Erika tertawa kecil penuh penghinaan, menguliti kemeja putih usang, celana hitam, dan sepatu kusam Dessy.
"Ternyata mantan istri Mas Haris yang bau minyak goreng. Sengaja mengemis buat mencari Mas Haris?"
"Aku datang menemui seseorang," jawab Dessy tenang.
Erika mencemooh. "Mas Haris sedang rapat VIP bersama petinggi Grup Pratama. Lebih baik kamu tahu diri. Pakai kemeja kedodoran begini... mau melamar jadi pencuci piring?"
Beberapa staf mulai berbi sik-bi sik. Erika semakin bangga.
"Semua pimpinan sedang menyambut Pewaris Utama Grup Pratama. Orang penting seperti beliau tak sudi melihat perempuan ku sam seperti kamu!"
Ting!
Lift VIP kembali terbuka. Sekretaris Rina keluar dengan pa nik.
"Bu Erika! Segera bawa dokumen laporan itu ke atas. Direktur Utama dan pimpinan Holding sudah menunggu!"
"Baik, Bu Rina," jawab Erika.
Sebelum masuk lift, Erika melem parkan senyum sinis ke Dessy. "Tunggu di luar. Kalau satpam mengu sirmu... jangan bawa-bawa nama Mas Haris!"
Dessy menatapnya lurus. Tata pannya tenang namun m e n u s u k dingin.
"Erika."
"Apa?!"
Dessy mengulas senyum t i p i s yang m e m a t i k a n.
"Saat seseorang terlalu sibuk menertawakan orang lain... biasanya dia lupa... bahwa tak dir sedang menertawakannya tepat di balik pung gungnya."
Erika mendengus k e r a s. "Aku tidak percaya tak diri!"
"Sebentar lagi... kamu pasti akan percaya."
Sensor lift berbunyi. Dinding perak perlahan menutup. Di dalam lift, Erika menyemangati keang kuhannya. "D a s a r... perempuan g i l a!"
Lift meluncur naik. Dessy tetap berdi ri tegap tanpa k e m a r a h a n. Ia menatap lampu indikator yang berhenti di lantai pun cak.
Sudut b i bir Dessy terangkat, membentuk senyuman pengu asa.
"Hari ini... semua k e b o h o n g a n dan kesom bongan kalian akan mulai run tuh tanpa sisa."
PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?
Yuk, baca bab selengkapnya sekarang juga cuma di KBM APP!
📚 Judul: Pe wa ris Itu Mantan Istrimu, Mas!
✍️ Penulis: JuwitaJS
Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!
#fyp #kbm #PewarisItuMantanIstrimuMas! #JuwitaJS #RekomendasiNovel
Pengalaman membaca cerita seperti "Pewaris Itu Mantan Istrimu, Mas!" mengingatkan saya betapa dramatis dan kompleksnya konflik dalam dunia korporasi dan hubungan pribadi yang saling terkait. Kisah Dessy, yang kembali ke perusahaan lama setelah bertahun-tahun meninggalkannya demi hidup sederhana, membuka banyak sudut pandang tentang bagaimana masa lalu dapat membayangi masa kini. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita bertemu dengan situasi di mana seseorang yang pernah kita kenal dengan intim tiba-tiba hadir kembali dalam lingkup kita, membawa kenangan dan konflik lama. Seperti Dessy yang menghadapi hinaan Erika, menggambarkan bahwa lingkungan kerja tidak hanya soal profesionalisme, tapi juga tentang perasaan dan psikologi seseorang. Cerita ini juga menyinggung tema penting seperti pengkhianatan dan kebohongan, yang seringkali sulit dihindari di dunia bisnis. Misalnya, Dessy harus menghadapi ejekan dan penolakan dari pihak lain, namun sikap tenangnya menunjukkan betapa pentingnya keteguhan dan keyakinan diri dalam menghadapi tekanan sosial dan emosional. Saya menemukan bahwa unsur pengungkapan kebenaran secara perlahan sangat membangun ketegangan dan membuat pembaca terus ingin tahu kelanjutan cerita. Dalam konteks kehidupan nyata, ini mengajarkan kita untuk bersabar dan tetap fokus pada tujuan, walaupun dihadapkan pada konflik dan pandangan negatif orang lain. Bagi pembaca yang suka dengan cerita bertema keluarga, cinta, dan persaingan korporasi dengan bumbu drama psikologis, novel ini sangat cocok. Menggabungkan unsur realisme sosial dengan sentuhan drama personal, menjadikan cerita ini tidak hanya menghibur tetapi juga menyajikan pelajaran tentang kekuatan jiwa dan pentingnya integritas. Jika Anda tertarik dengan kisah seperti ini, saya sarankan untuk mengeksplorasi novel-novel sejenis yang tersedia di aplikasi KBM. Membaca karya-karya tersebut tidak hanya memperkaya imajinasi tapi juga memperdalam pemahaman kita tentang dinamika hidup, baik dalam hubungan personal maupun profesional.

