Bab 7

"Lo yakin mau samperin ke sana, Lun?" ragu Nadia.

"Iyalah, buruan!" Luna mena rik tangan sahabatnya. Mereka melangkah keluar area kemah secara diam-diam.

"Seenggaknya kita kasih tahu Kak Adrian atau Kak Yuda deh," pinta Nadia sembari menghentikan langkah.

"Kelamaan, Nat. Suaranya makin jelas. Nanti kalau ketemu baru kita kasih tahu yang lain," ban tah Luna terkekeh pelan.

"Tapi ini udah masuk hutan rindang, Lun. Lo nggak takut apa?"

"Ta kut apaan sih? Masih siang juga, Nat," jawab Luna. Namun menda dak, suara gh aib meminta tol ong itu makin samar dan menghilang.

"Lah, hilang suaranya! Udah balik aja ayo! Bentar lagi acara tadabur alam."

"Ya udah deh, ayo!" Luna menye rah. Mereka berbalik arah, tetapi hamparan pohon pinus di sekeliling tampak persis sama.

"Kita tadi lewat sebelah mana, Nat?" Luna mulai pa nik.

"Kan apa gue bilang! Gue juga nggak tahu!" Nadia mengo mel pa nik lalu melangkah asal.

"Bener ke sini, Nat?" Luna mere mas lengan Nadia.

"Coba aja, tuh ada jejak kaki!" Nadia memandu mengikuti jejak tanah basah. Sayang, setelah berputar jauh, mereka justru kembali ke titik awal yang sama.

"Kok balik ke sini lagi? Ini nggak beres, Lun."

Keduanya saling mende kap keta kutan. Meski jam tangan Luna menunjukkan pukul 1 siang, suasana hutan menda dak gelap gulita tertutup rindangnya pepohonan dan cuaca mendung yang menyelimuti langit.

"To long! To long!" Akhirnya mereka menje rit his teris, berharap ada panitia yang mendengar.

Sementara itu di perkemahan, para mahasiswa baru sedang dibagi kelompok untuk acara pos tadabur alam. Saat Adrian memanggil nama Aluna dan Nadia, suasana menjadi hening.

"Lah, belum pada pulang juga?" celetuk Erin dari belakang.

"Memangnya mereka ke mana?" tanya Adrian terkej ut.

"Tadi gue lihat mereka ke arah belakang perkemahan," tunjuk Erin.

"Kenapa nggak lo cegah? Itu kan area terla rang!" Adrian gu sar dan kha watir.

"Gue udah bilang, tapi mereka nekat bilangnya cuma sebentar!" bela Erin tak terima disalahkan.

Tak lama, Pak Jo dan Pak Damar datang mengecek lokasi. "Ada masalah apa?" tanya Damar te gas.

"Teman kami hilang, Pak! Aluna sama Nadia."

"Apa? Ayo kita bagi regu pencari! Sebaiknya berpencar!" te gas Damar.

Jo mengambil alih instruksi, "Mahasiswi tetap tunggu di tenda! Tidak boleh ada yang keluar!" Perintah Jo menyedot perhatian para mahasiswi yang sibuk terpesona dengan ketampanannya.

Dua regu pencari langsung bergerak me nem bus hutan. "Mau apa mereka ke sini sebenarnya?" gerutu Yuda yang menyusuri jalur bersama Adrian.

"Mana gue tahu!" sahut Adrian pa nik.

Di tengah pencarian, hujan deras menda dak mengguyur. Jo menyuruh sebagian mahasiswa kembali ke kemah demi keselamatan, sementara dirinya, Adrian, dan Yuda terus mene.ro bos guyuran air hujan.

Di sudut hutan lain, Luna dan Nadia terduduk le mas di tanah basah. Tu b u h mereka g e m etar hebat terkena hujan deras, terlebih Luna tidak memakai jaket. Suara mereka parau habis te riak.

"Kita harus gimana, Lun?" bi sik Nadia menggi gil.

Saat kesadaran mereka hampir habis, samar-samar terdengar teriakan memanggil nama mereka. Adrian, Jo, dan Yuda akhirnya menemukan posisi kedua gadis tersebut.

Adrian berlari hendak meraih Luna, tetapi Jo bergerak lebih cepat. Jo membung kus t u b uh menggigil Luna dengan jaket tebalnya lalu menggen dongnya secara sigap. Adrian terpa ku terke jut melihat perlakuan Jo pada Luna, sebelum akhirnya berfokus membantu Yuda menggen dong Nadia.

Sesampainya di tenda medis perkemahan, Luna dan Nadia langsung ditangani dosen wanita dan diganti pakaiannya oleh teman-teman mereka.

"Kalian ini ngapain coba? Bikin repot orang aja!" o m el Erin sambil memasangkan baju ke t u buh Luna.

"Udah sih, Rin! Yang penting mereka ketemu selamat," bela Bella.

"Tapi gara-gara mereka, Adrian harus hujan-hujanan!" Erin tetap sewot.

📚 Judul: Terjebak Duda Fresh Graduate

✍️ Penulis: Irma Marmaningrum

Download Fizzo APP dan cari judul di atas ya!

#Fizzo #TerjebakDudaFreshGraduate #IrmaMarmaningrum

2 hari yang laluDiedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman mengikuti kegiatan outdoor seperti tadabur alam seringkali memberikan kenangan yang tak terlupakan. Dalam kisah Luna dan Nadia yang terjebak di hutan, saya teringat saat ikut hiking bersama teman-teman di area hutan pinus yang cukup luas. Meski tidak separah cerita mereka, kami sempat tersesat akibat jalur yang tertutup dan cuaca mendung yang membuat suasana sekitar berubah menjadi gelap dan menyeramkan. Salah satu hal penting yang saya pelajari dari pengalaman tersebut adalah selalu memberitahu pihak berwenang atau panitia kegiatan ketika hendak keluar dari jalur yang sudah ditentukan. Hal ini penting agar jika terjadi sesuatu, seperti tersesat atau kecelakaan, bantuan dapat segera datang. Luna dan Nadia tampaknya agak gegabah karena memilih diam-diam keluar area kemah tanpa memberi tahu kakak panitia, sehingga menimbulkan situasi panik saat mereka hilang. Selain itu, perlengkapan juga sangat menentukan keselamatan saat berada di alam bebas. Seperti yang dialami Luna yang tidak memakai jaket saat hujan deras turun, membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Saya pernah membawa jaket anti-air saat hiking dan benar-benar merasa bersyukur karena cuaca bisa berubah dengan cepat. Suara misterius yang Luna dan Nadia dengar juga menambah ketegangan cerita ini. Dalam pengalaman pribadi, suasana hutan yang hening terkadang bisa menimbulkan ilusi suara atau bayangan yang membuat kita merasa waspada. Oleh karena itu, disarankan untuk selalu bersama teman dan menjaga komunikasi agar tidak mudah panik. Cerita ini juga mengajarkan pentingnya kerja sama dalam tim. Saat panitia dan mahasiswa lain menyusuri hutan untuk mencari Luna dan Nadia, itu menunjukkan betapa solidaritas dan kesigapan dapat menyelamatkan nyawa. Jadi, jika kamu berencana ikut kegiatan alam terbuka, pastikan selalu siap secara fisik dan mental serta patuhi aturan agar pengalamanmu aman dan menyenangkan.