Bab l

"Bu ...,"

Rima memanggil ibunya dengan suara parau. Tanpa mera ba, ia mencari sang ibu dengan penglihatan yang tidak aktif lagi. Namun, mata batinnya jauh lebih t a j a m; ia mampu m e n c i u m kehadiran ibunya dan merasakan luka mereka.

"Sabar, S a y a n g. Rendi pasti datang," Salmah menenangkan.

Rima tahu k e b o h o n g a n ibunya adalah obat paling ampuh. Kepalanya yang lembek menggeleng. "Ti ... dak mung ... kin, Bu."

N a p a s Rima kian pendek, pasrah akan ikatan pernikahannya dengan Rendi. Salmah menggeng gam tangan Rima erat-erat.

"B o h o n g! Rendi bukan laki-laki yang layak diharapkan!" Ana, kakak Rima, masuk dengan mata merah.

"Apa ada kabar dari Rendi?" bisik Salmah.

Ana mengembuskan n a p a s k a s a r. "Aku hubungi Rendi pakai ponsel perawat. Rendi bilang sudah menjenguk kemarin dan sibuk, padahal Rima kritis!"

"Bu ... uu, Ka ... aa ..." Rima tersengal-sengal. Wajahnya memu cat, bi birnya pias. Ana mene kan bel darurat.

"S a y a n g, ikuti Ibu ... *La ilaha illallah* ..." Salmah membisikkan kalimat tauhid. Tangan Rima tetap m e r a b a. Ana teringat nomor pribadinya diblokir Rendi.

"Dokter! T o l o n g a n a k saya!" Salmah menangis histeris saat d a d a Rima naik-turun tak teratur.

"Boleh saya pinjam ponselnya? Saya belum sempat mengisi data," b o h o n g Ana pada suster.

Ana meminjam ponsel perawat lalu melakukan panggilan video ke Rendi. Layar menampilkan Rendi di balkon hotel daerah Puncak bersama wanita muda ber p a k a i a n minim.

"Rendi! Lihat istrimu! Dia sedang sekarat!" teriak Ana.

Rendi menatap dingin dan penuh keji jikan. "Kak Ana, jangan te ror saya! Saya sedang makan, saya bisa mual melihat kondisi Rima yang menji jikkan begitu!"

"Rima ibu dari a n a k-anakmu!" Salmah berteriak.

"Ibu, Rima itu sudah cacat. Dia buta, kepalanya lembek. Kalau dia mau pergi, biarkan pergi dengan tenang. Saya butuh hidup normal!" ucap Rendi tenang namun m e m a t i k a n.

"Hidup normal dengan seling kuhanmu?!" te riak Ana murka.

"Urus sendiri jenazahnya kalau dia sudah tidak ada. Saya sibuk."

**KLIK.** Sambungan terputus.

Garis di monitor melambat. *Tit......... Tit......... Tit.........*

Rima mengem buskan n a p a s panjang terakhirnya. Di detik terakhir, memorinya kembali pada janji suci pernikahan mereka.

Monitor berubah menjadi garis lurus.

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT.

"Bu, maaf, Rima sudah mening gal," ucap dokter lirih.

"Rimaaaa!" Salmah am bruk di atas t u b u h anaknya. Ana tersungkur, tangisnya pecah membe lah ruangan.

Ana m e n c i u m pipi k u r u s Rima. "Rima, pergilah ... di alam lain kamu akan bahagia. Jangan khawatirkan kedua anakmu, ada aku dan Ibu."

Rima telah pergi membawa lu ka. Sementara di Puncak, Rendi justru tengah mencecap dinginnya malam bersama teman sekantornya.

"Ana, kabari pihak keluarga Rendi," Salmah memak sakan diri.

Ana menghubungi Jery, adik Rendi.

"Assalamualaikum ..."

"Ada apa lagi, Kak Ana? Kan kemarin Kak Rendi sudah menjenguk istrinya yang gun dul itu. Masih belum pu as mengganggu kami dengan adiknya yang bu ta itu, sampai—" Jery mence car tanpa jeda.

--

PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?

Yuk, baca bab selengkapnya sekarang juga cuma di KBM APP!

📚 Judul: SA DIS ( Aku Seka rat, Suamiku Berkhia nat)

✍️ Penulis: Muntaha H. S SKMM

Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!

#kbmapp #SADISAkuSekaratSuamikuBerkhianat #MuntahaH.SSKMM #RekomendasiNovel

1 hari yang laluDiedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman saya membaca cerita "SA DIS (Aku Sekarat, Suamiku Berkhianat)" benar-benar membuka mata tentang konflik keluarga dan pengkhianatan. Sering kali, kisah seperti ini terjadi dalam kehidupan nyata, di mana seseorang menghadapi kesulitan besar, apalagi ketika sakit berat, justru tidak mendapatkan dukungan dari orang terdekat. Saya pernah melihat secara langsung bagaimana keluarga menghadapi situasi serupa, di mana seorang istri yang sedang sakit parah merasa terluka bukan hanya karena penyakitnya, tetapi juga karena sikap dingin dan tidak peduli dari suaminya. Hal seperti ini sangat menyakitkan, apalagi jika si suami malah memilih jalan hidup yang menyimpang, seperti berselingkuh, sebagaimana digambarkan Rendi yang justru asyik bersama wanita lain saat istrinya berjuang untuk hidup. Kisah ini juga mengingatkan pentingnya solidaritas dan komunikasi keluarga di saat-saat sulit. Ana dan Salmah sebagai keluarga Rima berjuang sekuat tenaga untuk mendampingi dan melindungi Rima, walaupun hasilnya sangat tragis. Saya yakin banyak orang bisa merasa terhubung dengan kisah ini karena ada unsur sangat manusiawi yaitu harapan, kesakitan, pengkhianatan, dan kehilangan. Selain itu, novel ini menyoroti realita pahit mengenai sikap egois dan perlakuan tidak adil yang sering dialami oleh perempuan yang sakit atau memiliki disabilitas, seperti Rima yang tidak hanya buta tapi juga mengalami kecacatan serius. Ini menjadi pengingat pentingnya empati dan dukungan sosial yang lebih baik terhadap mereka yang membutuhkan. Jika kalian tertarik dengan kisah yang sarat emosi dan ingin memahami bagaimana menjalani kehidupan setelah dikhianati dan berjuang dalam sakit, saya sangat merekomendasikan membaca kelanjutannya di KBM APP. Dari pengalaman saya, membaca cerita semacam ini bisa menjadi refleksi dan pembelajaran mengenai nilai kesetiaan, kasih sayang, dan arti keluarga sejati. Jangan lupa untuk selalu mencintai dan mendukung orang-orang terdekat kita, karena kita tidak pernah tahu kapan mereka sangat membutuhkan kita, sebagaimana Rima yang mengharapkan Rendi tapi hanya mendapatkan ketidakpedulian. Semoga kisah ini juga bisa menjadi pengingat untuk menjaga kepercayaan dan janji suci dalam pernikahan.