Part 10
POV Surya
Aku menghela n a p a s, mencoba mengatur emosi agar tak memuncak. Aku tak ingin liburanku kali ini dinodai dengan k e m a r a h a n akibat perbuatan Farhan, anakku.
Aku menutup telepon setelah mengatakan kalimat yang membuat ia terdiam seribu bahasa: "Minta saja sama keluargamu. Bapak kan bukan keluargamu."
Aku sedang berada di k a m a r hotel saat telepon dari Farhan berbunyi.
Akhirnya kuputuskan untuk mengangkat. Tanpa basa-basi dan menjawab salamku dengan nada tinggi, Farhan bertanya kenapa aku membatalkan semua pesanan, dari tiket pesawat hingga hotel.
Akhirnya kujawab saja bahwa aku bukan keluarganya. Lalu kenapa dia meminta u a n g padaku yang bukan keluarganya?
Aku memu tuskan untuk melanjutkan berbenah hingga baju terakhir kugan tung di lemari, ponselku kembali berdering.
Aku melirik lagi layar yang berubah menjadi terang itu. Nama Farhan kembali muncul. Aku menghela n a p a s.
Akhirnya, dengan kesabaran yang tersisa, aku mengangkatnya.
Baru saja aku ingin mengucapkan salam, terdengar nada tinggi seorang wanita yang kutebak adalah Winda.
"Assa..."
"Pak, Bapak ke mana saja sih dari kemarin ditelepon nggak bisa dihubungi? Bapak sengaja ya melakukan ini? Ponsel nggak aktif, terus sekarang Bapak mau mengacaukan liburan kami dengan membatalkan semuanya? Gara-gara Bapak kami kesu sahan dan terlantar di bandara berjam-jam. Dan sekarang Bapak tahu? Kami harus menginap di k a m a r kecil dan sempit karena pesanan k a m a r Bapak batalkan."
"Pak, kenapa diam? Bapak nggak bisu kan?" Ucapan h i n a a n kembali terdengar dari mulut perempuan yang dinikahi anakku lima tahun lalu itu.
"Kamu menelepon Bapak, m a r a h-m a r a h tanpa mengucapkan salam. Kamu nggak punya etika, Win?
"Etika? Buat apa, Pak? Bapak sendiri nggak punya etika dengan menghancurkan liburan kami. Apa alasan Bapak membatalkan semuanya padahal sebelumnya Bapak yang menyetujui untuk membiayai semuanya?"
" Saya hanya mengabulkan permintaan kalian yang ingin berlibur bersama keluarga. Karena saya bukan keluarga, ya sudah saya tarik lagi semuanya," ucapku dengan nada masih berusaha tenang.
"Jadi Bapak ngam bek? Hanya karena Bapak nggak diajak liburan ke luar negeri makanya Bapak mena rik semua fasilitas yang sudah diba yar? Pak, sadar diri dong. Bapak kan sudah tua. Buat apa jalan-jalan ke luar negeri? Yang ada nanti mengeluh terus kerjaannya. Ngeluh nggak cocok sama makanan, sama cuacanya, dan lain-lain karena beda sama di kampung. “
Perkataan Winda terasa m e n u s u k bagiku.
"Kamu yang ngelun jak dan nggak tahu diri!" sem protku!.
"Apa maksud Bapak? Bapak berani nga tain aku?" Suara tinggi Winda kembali m e n a m p a r gendang telingaku.
"Iya, saya berani ngatain kamu, bahkan saya bisa mencaci maki kamu dengan perkataan yang lebih k a s a r yang tidak pernah kamu bayangkan! Kamu itu sadar sedang bicara sama siapa? Saya ini Bapak mertua kamu, saya ayah kamu juga. Harusnya kamu bisa menghormati dan bersikap lebih sopan pada saya. Tapi apa? Selama lima tahun kamu memperlakukan saya tidak layak. Kamu hanya bisa menuntut dan menuntut. Apa pernah kamu melakukan kewajibanmu sebagai menantu? Tidak pernah!”
"Apa yang saya lakukan selama ini adalah untuk kebahagiaan dan kenyamanan kalian, a n a k, menantu, dan cucu saya. Tapi kalian menganggap itu adalah sebuah kewajiban. Dari mulai menikah hingga sekarang, semua keinginan kalian saya turuti. Kalian ingin menikah cepat di saat saya masih berduka atas kepergian istri saya. Kalian nggak memikirkan perasaan lelaki tua ini. Meskipun terlu ka, saya tetap menyetujuinya. Kalian ingin sebuah r u m a h, saya be likan. Kalian ingin mobil, juga saya turuti. Lalu kamu merengek minta r u m a h yang lebih besar dan menju al r u m a h yang menurutmu terlalu kecil dan sempit, apakah saya menolak keinginan kamu? Tidak, Winda!
"Tapi, Pak..." terdengar suara Winda yang mulai melemah.
"Diam, Winda!" Ben takku.
📚Judul : Ayah (Sang Penopang Yang Tak Dianggap)
✍️ Penulis: Tianarie
Hanya di KBM.















































