BAB 1

"Indri, sini ibu mau bicara!"

Siska memanggilnya dengan nada tinggi dari ru ang tamu. Indri baru saja selesai menata bunga di samping foto ayahnya.

"Ada apa bu?" tanya Indri mendekati ibu tirinya, sementara Nina dan Dina membereskan sisa tahlilan 7 hari ayah mereka.

"Kamu tahu ayah sudah mening gal. Itu artinya, kamu sudah tidak punya hak tinggal di r u m a h ini. R u m a h ini milik ibu dan kedua adikmu," ucap Siska ke tus.

Indri terdiam. R u m a h me wah ini adalah hasil kerja k e r a s almarhum ayahnya dan ibu kan dungnya. Siska dinikahi ayahnya 3 tahun lalu dengan membawa 2 a n a k.

Indri tersenyum t i p i s, "Tak apa bu kalau ibu dan kedua a n a k ibu mau tinggal sementara waktu. Aku bisa tinggal di ruko usaha ayah yang aku teruskan." Indri memang mengelola toko plastik dan bahan roti di pa sar kota Magelang, sedangkan Siska mengelola to ko sembako dekat r u m a h.

"Ya karena ayahmu hanya mewa riskan toko itu ke kamu lewat notaris," kata Siska. "Sekarang kemasi barangmu dan pergi, nanti ada yang menggantikan ka marmu."

"Si-siapa bu?" tanya Indri berge tar.

"Selamat malam! Maaf terlambat, macet tadi," suara pria menge jutkan Indri. Bima berdiri di pintu memakai kemeja abu-abu dan ransel.

"M-mas Bima," bisik Indri. Pria itu 3 bulan lalu memu tuskannya tanpa alasan jelas. "Ngapain kamu ke sini?"

"Aku kan akan tinggal di r u m a h ini," jawab pria 35 tahun itu.

"Indri, Bima adalah calon suamiku," te gas Siska.

Indri ka get. Pria 35 tahun ini mau menikahi wanita 42 tahun? Bima mantan kekasihnya, dulu mereka bertemu di toko sembako Siska saat Bima jadi pe ma s o k barang.

"Calon suami ibu?" ulang Indri.

"Ibu berhak bahagia. Bima sudah melamar minggu lalu," po tong Siska.

"Apa yang harus aku katakan? H u b u n g a n kita sudah selesai, Indri. Aku dan ibumu saling cocok," ujar Bima santai.

"Kamu memang pan tas bersama mereka, mas," kata Indri dingin m e n u s u k. "Ayahku baru 7 hari meninggal, kalian sudah sibuk mengatur hidup baru."

"Jangan sembarangan! Cepat ambil barangmu lalu pergi!" ben tak Siska.

Nina dan Dina hanya mena tap datar dari dapur.

"Baik bu," jawab Indri tenang.

Dia melangkah ke kamarnya di lantai dua tanpa menangis. Ada hal yang ia simpan. Saat pemakaman 7 hari lalu, Pak Herman, pengacara almarhum ayahnya, memberikan am plop coklat secara rahasia.

Isinya serti fikat asli r u m a h me wah ini yang tercatat atas nama Indri dan almarhum ibu kandungnya sejak 15 tahun lalu. Ayahnya hanya menempati sebagai pemakai. Ada juga surat pernyataan dari Siska saat menikah yang menyatakan tidak akan pernah menun tut hak atas r u m a h tersebut.

Indri mengambil am plop itu dari laci, mema sukkannya ke ransel berisi p a k a i a n seadanya dan laptop tua.

"Indri, cepat!" te riak Siska dari bawah.

PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?

Yuk, baca bab selengkapnya sekarang juga cuma di KBM APP!

📚 Judul: Aku Pergi Bersama Serti fikat Ru mah Ayah

✍️ Penulis: Theresia Anastasia

Jangan lupa download KBM APP dan cari judul di atas ya!

#fyp #kbm #AkuPergiBersamaSertifikatRumahAyah #TheresiaAnastasia #RekomendasiNovel

3 jam yang laluDiedit ke