Part 5
Pria itu perlahan mengangkat kepala dari ta bung gas.
Tata pan mereka bertemu di bawah cahaya lampu jalan yang redup.
Ma tanya langsung tertuju pada koper kecil Putri, lalu tas kain di bahunya, dan terakhir gerobak cilok yang berdiri di belakangnya.
Keningnya berkerut.
“Habis diu sir suami, ya?”
Putri langsung membe lalak.
“Hah?!”
Pria itu pa nik dan buru-buru mengangkat kedua tangannya.
“Eh... maaf, Mbak! Saya asal nebak!”
Putri masih menatapnya heran.
Pria itu menun juk koper di tangan Putri.
“Soalnya yang datang malam-malam sambil bawa koper biasanya cuma dua kemungkinan.”
“Apa?”
“Diu sir pasangan...” Ia berhenti sebentar. “Atau dike jar debt collector.”
Putri spontan menggeleng.
“Bukan dua-duanya!”
Pria itu menghela n a p a s lega.
“Syukurlah. Saya tadi sudah kha wa tir gerobak bakso saya ikut disita.”
Putri yang sejak tadi m e n a h a n se sak akhirnya tertawa kecil.
Pria itu tersenyum.
“Nah, begitu dong. Ternyata Mbak masih bisa ketawa.”
Putri menggeleng.
“Mas ini memang suka bercanda dengan orang yang baru dikenal?”
“Harus.”
“Kenapa?”
Pria itu menun juk gerobak baksonya.
“Kalau hidup terlalu serius, nanti bakso saya ikut te gang.”
Putri kembali tertawa.
“Mas aneh.”
“Bukan aneh. Saya cuma terlalu berbakat bikin orang ketawa.”
Putri menggeleng ge li.
Lalu ia teringat tujuannya.
“Oh iya, Mas. Tadi saya mau tanya. Mas tahu pemilik kon tra kan ini?”
“Tahu.”
Pria itu menun juk r u m a h kecil bercat hijau di ujung gang.
“Itu r u m a h Bu Marni.”
“Alhamdulillah.”
Namun pria itu segera menambahkan,
“Tapi biasanya Bu Marni sudah t i d u r jam segini.”
Wajah Putri kembali mu ram.
“Oh... kalau begitu saya cari tempat lain saja.”
Ia baru hendak mendo rong gerobaknya ketika pria itu buru-buru berkata,
“Mbak, jangan!”
Putri menoleh.
“Saya bangunkan saja Bu Marni.”
“Jangan, Mas. Sudah malam.”
“Tenang. Beliau sudah biasa saya bangunkan.”
Putri mengernyit.
“Kenapa?”
Pria itu menjawab polos,
“Kalau saya telat ba yar kon tra kan.”
Putri kembali tertawa.
“Mas ini ada-ada saja.”
“Daripada Mbak t i d u r di jalan.”
Ucapan sederhana itu membuat senyum Putri perlahan menghilang. Ada keha ngatan yang tidak ia sangka dari orang asing.
“Ayo. Saya antar.”
Putri mengangguk.
Mereka berjalan berdampingan.
Beberapa langkah kemudian, pria itu meli rik gerobak cilok Putri.
“Kalau gerobak kita parkir sebelahan, kayaknya seru.”
“Kenapa?”
“Bakso saya, cilok Mbak.”
Ia tersenyum.
“Pembeli pasti bingung mau makan yang mana dulu.”
Putri terkekeh.
“Kalau mereka lebih suka cilok saya?”
Pria itu langsung memasang wa jah serius.
“Wah, itu masalah besar.”
Putri m e n a h a n tawa.
“Kenapa?”
“Berarti saya harus belajar jualan cilok.”
“Mas tidak takut kalah?”
Pria itu menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena saya punya strategi.”
“Apa?”
“Saya makan cilok Mbak dulu sebelum jualan.”
Putri tertawa le pas.
“Mas benar-benar aneh!”
“Kalau Mbak terus tertawa, berarti strategi saya berhasil.”
Untuk pertama kalinya malam itu, langkah Putri terasa sedikit lebih ringan.
Tak lama kemudian mereka tiba di depan r u m a h kayu bercat hijau.
Pria itu menge tuk pintu.
Tok... tok... tok...
“Siapa malam-malam begini?!”
“Saya, Bu Marni! Ada calon penye wa!”
Terdengar suara gerendel dibuka.
Sebelum pintu terbuka, pria itu menoleh.
“Oh iya, kita belum kenalan.”
Ia mengulurkan tangan, lalu buru-buru menariknya kembali.
“Eh, tangan saya habis pegang ta bung gas.”
Putri tersenyum.
“Saya Putri.”
Pria itu mengangguk.
“Indra.”
Pintu pun terbuka.
Dan malam itu, tanpa Putri sadari, pertemuannya dengan seorang penjual bakso bernama Indra menjadi awal dari kehidupan baru yang tidak pernah ia bayangkan.
BERSAMBUNG...
PENASARAN DENGAN KELANJUTANNYA?
Yuk, baca bab selengkapnya sekarang juga cuma di KBM APP!
📚 Judul: Ter j e r a t Cinta Putri Cilok
✍️ Penulis: JuwitaJS

















































