Lemon8Komunitas gaya hidup

Send To

Line
Facebook
WhatsApp
Twitter
Salin tautan

Dapatkan pengalaman lebih lengkap di aplikasi

Temukan lebih banyak postingan, hashtag, dan fitur di aplikasi.

Buka Lemon8
Buka Lemon8
Buka Lemon8
Jangan sekarang
Jangan sekarang
Jangan sekarang
  • Kategori
    • Untuk Anda
    • Beauty
    • Skincare
    • Fashion
    • Travel
    • Food
    • Home
  • Versi aplikasi
  • Bantuan
  • Indonesia
    • Indonesia
    • 日本
    • ไทย
    • Việt Nam
    • Malaysia
    • Singapore
    • US
    • Australia
    • Canada
    • New Zealand
    • UK
Situs web resmiKebijakan privasiPersyaratan LayananCookies Policy
[spoiler] Menikahi Anak Teman Mama
Nayara mendengus, matanya menyipit menahan emosi. “Ayah datang ke sini sebagai tamu,” katanya pelan tapi penuh tekanan. “Harusnya Ayah tahu diri. Minta izin dulu sama tuan rumah, boleh nggak datang.” Pak Mahesa menatap Bhaskara sekilas, lalu kembali ke Nayara. “Kamu kalau ngomong dijaga, Nayara!
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

[spoiler] Menikahi Anak Teman Mama
Bhaskara menatap Pak Mahesa lurus-lurus. “Kalau Bapak datang ke rumah saya hanya untuk membuat onar dan menyakiti istri saya, lebih baik Bapak keluar sekarang juga. Sekarang!” Pak Mahesa membeku di tempat, rahangnya mengeras. Ia mendesis, “Beruntung Ayah nggak mau jadi wali untuk menikahkan kamu
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

[spoiler] Menikahi Anak Teman Mama
Sebulan terakhir hidupnya benar-benar seperti roller coaster yang tak kenal belas kasihan. Ramai, penuh teriakan yang hanya bisa ia dengar di kepalanya sendiri. Kelokan tajam mempermainkan jantung, tanjakan tinggi membuatnya berharap, lalu turunan curam menghujam segala asa tanpa aba-aba. Hampir ta
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (11)
“Lima menit habis.” “Tam…” suara Ardhan turun, nyaris memohon. “Lo harus percaya sama gue. Gue nerima perjodohan ini bukan cuma karena Bunda.” “Lalu karena apa?” “Karena gue juga mau nikah sama lo.” “Karena Bunda.” “No!” Tamara menarik napas pelan. “Kamu tenang aja,” katanya datar. “Pe
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Endometriosis & luka masa lalu
"Kalau aku jadi Tamara ... " Sebenarnya ngebayanginnya aja udah bikin merinding. Ga sesanggup itu. Yang paling berat bukan rasa sakit di tubuhku. Bukan juga masa lalu yang terus datang menggedor-gedor pintu di masaku yang sekarang atau mendatang. Yang paling melelahkan adalah harus
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (10)
Di apartemen Naila, Tamara setengah terbaring di kamar tamu. Tirai setengah tertutup. Lampu kota berkedip masuk melalui celah. Tangannya gemetar di atas selimut. Ponselnya berdering lagi. Nama Bu Husnia muncul di layar. Tamara menatapnya lama… lalu membalik ponsel itu. “Boleh angkat telepon T
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Trims ya buat yg udah SUBS buku aku
Aku sadar sih di beberapa tulisanku di KBMapp masih banyak scene yang pake' teknik slow burn. Karena jujur ga gampang buat aku adaptasi dari bentuk novel yang ebook ke platform. Konflik satu ke konflik lain dibangun agak lama. Perasaan satu tokoh male untuk satu tokoh female atau sebalikny
just.nafiisah

just.nafiisah

1 suka

[spoiler] Loving My Closest Enemy
Cincin itu pas di jari Tamara. Tidak longgar. Tidak menekan. Seolah memang dibuat untuknya. Tapi alasan dia memakainya… bukan karena cinta. ==== “Closest enemy-ku… mungkin kamu.” Tapi tetap saja cincin itu dia pakai. === Cincin itu ringan di jari Tamara. Tapi maknanya terlalu be
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (9)
Naila menggenggam tangan Tamara lebih erat. Pandangannya jatuh pada cincin di jari Tamara. “Ini cincin…?” Tamara menarik tangannya pelan. “Sebentar lagi aku bakal nikah.” Naila mengerutkan dahi. “Sama siapa?” Tamara menelan ludah. “Ardhan.” “Ardhan?!” Naila terkekeh tak percaya. “Kalian
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (8)
Cincin di jari Tamara bukan tanda dia yakin untuk menikah, tapi tanda ia sudah memilih untuk ... berkorban. Tapi Ardhan masih terus menghubungi Aurel. Jadi sebenarnya Ardhan pilih siapa? Setelah dering ponsel itu dimatikan .. lagi, percakapan mereka bukan lagi soal Aurel. Itu tentang posisi
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (7)
Kalau cinta itu ada, kenapa setiap percakapan justru terasa seperti perang kecil? Kalian benar mau nikah ga sih? Berantem aja! Setelah momen di parkiran yang menggantung, jarak di antara Tamara dan Ardhan justru terasa makin nyata. Mereka sama-sama berjalan ke arah yang sama: kantor pusat, ruma
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy
spoiler 1 “Pergi nggak bilang-bilang. Bikin Bunda khawatir tau nggak?!” Tamara hanya menunduk. “Aku capek banget, Dhan… marahnya nanti aja.” === Sebulan sebelumnya: “Tam!” Ardhan berteriak dari belakang. Satu detik kemudian ... tubuh Tamara menghantam mobil yang terparkir ===
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (6)
Apa yang lebih menyakitkan: mendengar pria yang melamarmu berkata “I love you”… tapi bukan untukmu? Ardhan memilih berdiri dari ranjang IGD dengan infus yang bahkan belum sepenuhnya dilepas, bukan karena ia kuat, tapi karena ia takut terlihat lemah. Ia memohon pada Tamara untuk merahasiakan ping
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (5)
Cincin itu bukan model umum. Tipis, sederhana, dengan berlian kecil yang tertanam tenang. Bukan untuk pamer. Tapi untuk seseorang yang tidak suka jadi pusat sorotan. Tamara tahu itu. Tangannya gemetar ketika menyelipkannya ke jari manis kiri. Pas. Seolah memang sudah diukur untuk menetap di san
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (4)
Taruh boks cincin di meja Tamara. "Kita bahagiakan Bunda? Kalau kamu berkenan, kamu pakai." Ardhan ngelamar musuh bebuyutannya? 😱 Ketegangan pecah saat Bu Husnia tiba-tiba meminta Tamara dan Ardhan untuk menikah. Bukan karena emosi, bukan pula karena ingin cucu cepat-cepat, tapi karena i
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (3)
Adu mulut ga habis-habis. Debat ga selesai-selesai. Saling jual-beli argumen terus terjadi. Padahal Bu Husnia sedang sakit kaki. Mendingan ... "Udah nikah aja kalian!" Telepon itu datang seperti jarum yang menembus dada. Bunda jatuh. Kesakitan. Dalam satu detik, semua ego, semua luka
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (2)
Abi: Kirain, Tom and Jerry udah gencatan senjata? Kali aja. Tamara: “Siapa bilang kami Tom dan Jerry?” Abi: "Terus apa? Papa Zola dan Mama Zila?" Tubuh Ardhan akhirnya menyerah pada gelombang kecemasan yang tak pernah benar-benar sembuh. Di apartemennya yang gelap, napasnya tersengal, d
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Loving My Closest Enemy (1)
Ardhan marah besar karena Tamara pergi tanpa kabar. Tamara hanya diam: "Endometriosis ... Kalau kamu tahu…” bisiknya lirih pada ruang kosong. “Kamu masih bakal berdiri di samping aku nggak, Dhan?” Malam itu, rumah Bu Husnia terasa lebih sunyi dari biasanya. Ardhan menunggu Tamara dengan napa
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Antara Ramadhan & Mantan (4)
Baru sah jadi suami, Ramadhan sudah dihadapkan ancaman, fitnah. Merasa Laily direbut, Johan siap hancurkan Ramadhan. Di kamar hotel luar pulau, Johan menatap foto akad itu seperti sedang melihat sesuatu yang dirampas darinya. Ramadhan dan Laily. Sah. Sumpah serapah keluar dari mulutnya.
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Antara Ramadhan & Mantan (3)
Dihina, diremehkan, tapi tetap diam. Rumah besar yang katanya dipinjamkan. Siapa sebenarnya Ramadhan? Vania tidak menyerah. Rencana pertamanya gagal. Ramadhan tetap menikahi Laily. Tapi permainan belum selesai. Di depan aula yang mulai sepi, ia “hampir” jatuh ke pelukan Ramadhan. Ref
just.nafiisah

just.nafiisah

0 suka

Lihat lainnya
just.nafiisah
0Mengikuti
29Pengikut
5Suka dan simpan

just.nafiisah

just.nafiisah

just.nafiisah

Batal

IRT, penulis di KBM.id (Nafiisah FB) & Mayar id (allstory). Alhamdulillah.