Separated by over 4,000 miles, the hidden bond between Indonesia and Iran has quietly shaped global history.
1. Language Connection: Words like pahlawan, pasar, and anggur are direct loanwords from ancient Persian.
2. The Sukarno Spirit: Bung Karno’s speeches and anti-imperialism philosophy were translated into Persian, inspiring political movements in Iran.
3.Silent Mediator: While the world isolates Iran due to sanctions, Indonesia’s independent foreign policy makes Jakarta a trusted, invisible diplomatic bridge in times of Middle East crisis.
It’s a masterclass in high-level diplomacy that started with ancient mariners.
Sebagai seseorang yang pernah mencoba mendalami sejarah hubungan internasional, saya sangat terkesan dengan betapa dalam dan uniknya hubungan antara Indonesia dan Iran. Jarak geografis yang sangat jauh ternyata tidak menghalangi adanya ikatan budaya dan politik yang kuat. Misalnya, banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang sebenarnya berasal dari bahasa Persia kuno, seperti 'pahlawan', 'pasar', dan 'anggur', yang menunjukkan interaksi budaya yang sudah berlangsung lama dan berkelanjutan. Dari pengalaman pribadi saya mengikuti diskusi mengenai sejarah anti-imperialisme, saya menemukan bahwa pidato dan filosofi Bung Karno yang diterjemahkan ke dalam bahasa Persia benar-benar menginspirasi para pemimpin dan gerakan politik di Iran. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh pemikiran Bung Karno melampaui batas negara dan menjadi bagian dari perjuangan politik global. Saya juga sangat mengagumi peran Indonesia dalam diplomasi modern terhadap Iran, khususnya saat banyak negara menjauh akibat sanksi ekonomi dan politik. Indonesia yang menjaga kebijakan luar negeri independen menjadi mediator yang dipercaya dan "jembatan diplomatik" yang tidak terlihat tapi sangat penting, terutama dalam menjaga stabilitas regional di Asia dan Timur Tengah. Pendekatan semacam ini bagi saya adalah contoh nyata bagaimana sebuah negara dapat memainkan peran strategis di panggung dunia dengan prinsip kemandirian dan dialog yang konstruktif. Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa hubungan Indonesia dan Iran bukan sekedar sejarah yang ketinggalan zaman, tapi sebuah jalinan diplomasi dan budaya yang hidup dan signifikan hingga kini. Ini juga membuka mata saya bahwa memahami sejarah dan budaya lintas negara bisa membantu kita untuk lebih menghargai dan merawat hubungan baik yang telah terjalin selama berabad-abad.






































