Both governments need this conflict to exist.
Iran uses "America as the enemy" to unite its people and bury economic problems at home. The US uses the "Iran threat" to justify military budgets and push billion-dollar arms deals to Gulf states.
Neither side benefits from the other's total collapse.
So how do they prevent actual nuclear war? Secret diplomacy.
Since 2012, Oman quietly hosted 8 rounds of private US-Iran talks — the longest sustained engagement between the two since 1979. Switzerland has been the primary messenger since the Revolution. When the US killed Soleimani in 2020, the Swiss delivered Washington's message to Tehran within hours.
About Iran "warning" the US before the April 2024 strikes — Iran claimed it gave 72 hours notice. The US and UK both rejected that. Communication did happen through intermediaries beforehand, but whether it counts as a real warning is still disputed.
The conflict is real. The casualties are real.
But behind every missile launch, someone is already on the phone making sure neither side goes too far.
That's not peace. It's managed hostility — and both sides wrote the rulebook.
Sebagai seseorang yang mengikuti perkembangan geopolitik Timur Tengah, saya menyadari bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat seringkali disalahpahami sebagai permusuhan total yang bisa berujung perang nuklir kapan saja. Namun, dari pengetahuan dan pengamatan saya, terlihat jelas bahwa di balik ketegangan tersebut, ada diplomasi rahasia dan komunikasi back channel yang sangat penting. Back channel ini bukan hanya sekadar jalur komunikasi alternatif, melainkan sarana vital untuk mencegah eskalasi konflik yang tidak terkendali. Misalnya, peran Oman dan Swiss sebagai mediator selama bertahun-tahun menunjukkan bagaimana negara-negara netral dapat membantu menjaga dialog terbuka meskipun hubungan resmi terputus. Informasi bahwa Oman secara diam-diam menjadi tuan rumah delapan putaran pertemuan antara pejabat AS dan Iran sejak 2012 membuka mata saya bahwa diplomasi damai berjalan jauh di luar pemberitaan publik. Hal menarik lainnya adalah klaim Iran yang menyatakan telah memberikan peringatan 72 jam sebelum melancarkan serangan April 2024, meskipun ditolak oleh AS dan Inggris. Ini memperlihatkan kompleksitas komunikasi lewat perantara seperti Turki dan Yordania, dan bagaimana definisi 'peringatan resmi' pun menjadi perdebatan. Dari sudut pandang saya, hal ini mengindikasikan bahwa kedua belah pihak sebenarnya berupaya menghindari konflik total lewat koordinasi rahasia. Selain itu, kepentingan geopolitik yang saling menguntungkan turut menjaga status quo. Iran menggunakan narasi 'musuh Amerika' untuk mengkonsolidasikan dukungan domestik dan mengalihkan perhatian dari masalah ekonomi, sementara Amerika Serikat mengandalkan ancaman Iran untuk mempertahankan anggaran militer besar dan penjualan senjata ke negara Teluk. Ini menciptakan kondisi di mana kedua negara membutuhkan konflik yang terkendali dan tidak ingin kehancuran total terjadi. Pengalaman mengikuti dinamika ini mengajarkan saya pentingnya melihat konflik internasional tidak hanya dari permukaan, tapi juga dari mekanisme tersembunyi yang menjalankan diplomasi tingkat tinggi. Jalur komunikasi back channel adalah jantung dari upaya menjaga perdamaian pasif—bukan kedamaian penuh, tapi ketegangan yang terkelola sehingga perang nuklir tidak terjadi. Bagi pembaca yang ingin memahami lebih dalam, memahami konsep 'managed hostility' dan peran mediasi rahasia adalah kunci untuk melihat bagaimana negara-negara besar mengelola konflik besar tanpa konfrontasi yang menghancurkan. Ini juga menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu harus terbuka dan mudah terlihat; kadang justru keberhasilannya terletak pada apa yang tidak diketahui banyak orang.






































