Diary Cancer Warrior
We're celebrating our 17th wedding anniversary
Terima Kasih sudah menjadi teman hidupku dan menjadikanku teman hidupmu.. ❤️❤️ Mari Menua Bersama
Kalau ditanya gimana rasanya punya cerita cinta 17 th bareng pasangan, apalagi sambil jalanin proses sebagai cancer warrior, jujur rasanya campur aduk. Ada banyak momen "Happy 17th Wedding Anniversary" yang kelihatannya bahagia di foto, tapi di balik itu ada air mata, rasa takut, dan doa panjang yang nggak kelihatan. Dulu sebelum sakit, anniversary itu identik dengan dinner romantis, kado, dan jalan-jalan. Sekarang, hal sesederhana bisa bangun pagi bareng, masih bisa bilang "Happy Anniversary beb" sambil peluk, itu rasanya mewah banget. Kata-kata seperti "Makasih untuk selalu berada di sisiku" dan "mau mencintai serta menerimaku apa adanya" jadi jauh lebih dalam maknanya ketika kita pernah sama-sama ada di titik terendah. Dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, kalimat yang dulu cuma kita ucap pas ijab kabul, sekarang kerasa nyata. Ada hari-hari di mana aku nggak kuat secara fisik, mood berantakan, dan perasaan campur aduk. Di situ aku ngerasa bersyukur punya pasangan yang selalu berusaha memahami perasaanku, bukan cuma kondisi tubuhku. Cerita cinta 17 th itu bukan cuma soal lamanya hubungan, tapi gimana kita berdua belajar tumbuh bareng. Dulu mungkin lebih sering berantem hal sepele, sekarang rasanya lebih mudah buat milih untuk saling mengerti. Sakit bikin kami belajar bedain mana yang penting beneran dan mana yang cuma ego sesaat. Yang paling kerasa adalah definisi bahagia yang berubah. Kalau dulu bahagia identik dengan pencapaian besar, sekarang hal kecil kayak bisa tertawa bareng di ruang tunggu rumah sakit, atau saling pegang tangan pas lagi cemas menunggu hasil pemeriksaan, itu sudah jadi "happy moments" yang berharga banget. Buat kamu yang lagi punya cerita cinta 17 th atau mungkin baru mulai, aku cuma mau sharing: hubungan jangka panjang itu nggak selalu mulus, tapi ketika kalian mau sama-sama nerima dalam suka duka, sehat sakit, akan selalu ada alasan buat berkata, "Dan bersamamu aku bahagia, mari menua bersama." Versi romantis kami sekarang mungkin sederhana, tapi justru di situ kami merasa paling tulus. Semoga cerita kecil ini bisa jadi pengingat kalau cinta itu nggak melulu soal momen besar, tapi keberanian buat tetap memilih satu sama lain setiap hari, bahkan di hari-hari yang terasa paling berat.



































































