Dimensi masa lalu ku ada di Warcil, kalau kalian bilang “enak ya kak jadi kakak bisa punya warcil” atau temanku suka bilang “ih enak ya kerja ga macet-macetan!”
“Enak ya punya usaha sendiri”
“Enak ya bisa kerja rasa main”
Iya memang enak, tapi sebelum mencapai titik ini, 15-20 tahun yang lalu saat masi usia anak2 aku pernah namanya gapunya teman saat usia 3 SD dan itu serentak di kelas 3 SD di sekolah sedang di bully dan dirumah juga di bully, jujur sakit hati banget gapaham kenapa di bully!
Aku dibully teman sebangku yang mana dia tu secara verbal hina bahkan aku duduk aja buat duduk harus lewat kolong🥺 + aku pernah difitnah hal yang ga menyenangkan 🥲🥲aku gatau salahku dimana:( beruntungnya anak ini pergi dan pindah sekolah entah kemana sehingga selepas dia pergi aku gak ada yang namanya dibully, tapi teman dirumah ku ga seideal itu, aku pernah didorong, pernah di jambak:( dan itu sakit! Gatau salahnya dimana!!!!! Sakit bangetttt, dimana lokasinya? Ya dibangunan ini!!!
Terus kenapa harus kembali dan tinggal disini? Karena aku mau gak ada lagi luka masa kecil di hati anak-anak ini, biar lingkungan ini jadi sehat. Setidaknya lebih banyak hal positif drpd hal negatif yang tercipta, bahkan 99% harus fokus positif, berkarya, bermimpi dan berkolaborasi bersama dalam misi 1001 Mimpi Bocil
Menghadapi masa kecil yang penuh dengan pengalaman sulit seperti bullying memang tidak mudah. Aku pernah merasakan betapa menyakitkannya dihina secara verbal, bahkan diperlakukan kasar oleh teman sebangku dan orang di rumah. Namun, pengalaman pahit itu menjadi motivasi bagiku untuk tidak membiarkan anak-anak lain merasakan hal yang sama. Aku percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya dengan penuh kasih sayang dan tanpa rasa takut. Oleh sebab itu, aku memilih untuk kembali dan tinggal di lingkungan yang dulu menjadi saksi luka masa kecilku, agar bisa ikut menciptakan perubahan positif. Dalam misi 1001 Mimpi Bocil, kami berusaha fokus pada hal-hal yang membangun: positif, kreatif, dan penuh kolaborasi. Aku juga selalu mengingat kata-kata yang pernah menjadi harapanku di masa kecil, yaitu punya teman yang tulus dan tempat yang bisa disebut rumah penuh kehangatan. Aku merasa sangat bersyukur bisa menjalani hari-hari dengan berwirausaha yang membuatku bebas dari kemacetan dan bisa bekerja sambil bermain. Namun, yang terpenting adalah bagaimana aku bisa memberikan arti dan kontribusi bagi lingkungan sekitar—membantu anak-anak lain merasa diterima dan dicintai. Jadi, jangan pernah menyepelekan tatapan mata seorang anak. Di balik tatapan itu, ada cinta dan harapan yang sangat dalam. Mari bersama-sama kita ciptakan dunia yang lebih baik untuk mereka dengan kasih dan pengertian.











































