Drama Tamu Tak di Undang
Bab 3
Pintu utama kediaman Xiao kini terbuka lebar, namun fungsinya bukan lagi sebagai jalan keluar-masuk, melainkan sebagai panggung teater dadakan. Yifan berdiri di ambang pintu, dengan gaya eksekutif muda yang siap memecat siapa saja, sementara Feng di sebelahnya tampak seperti kakak paling usil sedunia, masih mengangkat tinggi-tinggi kotak bekal pink bergambar kucing itu.
Kaikai, QiaoMu, dan LinXi yang tadi berniat masuk untuk rapat, kini malah tertahan di anak tangga teras. Mereka terjebak dalam formasi barisan pria tampan yang kalau difoto pasti disangka sedang syuting drama seri F4 Versi Banyak Cabang.
"Feng, turunkan kotak itu. Kau terlihat seperti sedang melakukan ritual pemanggilan hujan," tegur Yifan tanpa menoleh, suaranya tetap tenang meski di depannya Yueyue sudah mulai melompat-lompat dengan wajah merah padam.
"Biar saja, Kak. Ini latihan kardio buat Yueyue sebelum ujian matematika. Siapa tahu otaknya jadi lebih encer kalau badannya gerak," sahut Feng sambil tertawa mengejek.
"KAK FENG!! TURUNIN NGGAK?! ITU AYAM GORENGKU LAGI KESEPIAN DI DALAM SANA!" teriak Yueyue, tangannya menggapai-gapai udara dengan sia-sia.
Keadaan di depan makin ramai saat Yangya masih berjuang memutar balik motor Ninjanya. Di saat yang bersamaan, sebuah motor matic butut berhenti tepat di seberang jalan. Mufan, turun dari motor dengan gaya yang dipaksakan keren. Ia mengenakan jaket kulit hitam yang sedikit kebesaran dan celana jeans robek yang tampak kumal. Dia berusaha menutupi karismatik kemewahannya, tapi yang terpancar darinya sama sekali tidak terlihat miskin. Aura sang bos mafia dalam misi penyamaran masih terlihat melekat dalam dirinya.
"Bos, ini beneran rumahnya? Kok isinya cowok semua? Apa ini asrama model pria?" bisik anak buahnya yang menyamar jadi tukang ojek, matanya melotot melihat Yifan, Feng, Kaikai, QiaoMu, dan LinXi berjejer di teras.
Mufan tidak menjawab. Ia baru saja hendak melangkah maju ketika suara melengking Yueyue memecah konsentrasinya.
"Eh! Kak Preman Langganan!" Yueyue menunjuk ke arah gerbang dengan jari yang masih sedikit berminyak bekas roti. "Ngapain berhenti di situ? Mau malak Kak Yifan ya? Jangan ya, Kak Yifan itu pelitnya minta ampun! Kalau Kakak minta uang seribu, dia bakal minta laporan arus kas balik dalam bentuk PDF!"
Mufan membeku. Harga dirinya sebagai penguasa dunia bawah tanah serasa merosot sampai ke sol sepatunya. "Aku... aku cuma mau lewat," gumamnya datar, mencoba memperbaiki posisi jaketnya yang miring.
"Lewat kok lama banget? Itu motornya kasihan, suaranya kayak kucing lagi sakit gigi!" lanjut Yueyue tanpa filter.
Belum sempat Mufan membalas, sebuah van hitam berhenti mendadak di sisi lain gerbang. Huahai melompat turun dengan gerakan yang lari random arah ia terlihat panik seolah-olah sedang dikejar oleh sekawanan serigala lapar yang sebenarnya adalah fans fanatiknya di ujung jalan. Ia memakai masker, topi, dan kacamata hitam, berusaha menjadi manusia paling tidak terlihat di muka bumi.
"Aduh, gawat... kenapa di sini malah jadi pameran pria ganteng?" bisik Huahai panik. Begitu ia sampai di depan anak tangga teras, ia malah terhenti melihat lima pria di depan menatapnya dengan pandangan menghakimi.
"Mas Masker!" Yueyue kembali berteriak, mengalihkan targetnya. "Kamu juga mau malak ya? Atau mau ikut ujian matematika juga? Gayanya kok kayak mau ngerampok bank, sih?"
Yifan memperbaiki posisi kacamatanya, menatap Huahai dan Mufan bergantian. "Feng, sepertinya rumah kita baru saja masuk ke dalam Google Maps sebagai tempat Berkumpul Pria Mencurigakan. Kenapa mereka semua berhenti di sini?"
"Mungkin karena aroma ayam goreng mentega Yueyue, Kak," sahut Feng sambil akhirnya menurunkan kotak bekal itu karena tangannya mulai pegal. Begitu kotak itu mendarat di tangan Yueyue, gadis itu langsung memeluknya seolah itu adalah bayi yang baru ditemukan.
"Yueyue, bekal itu isinya ayam goreng mentega kesukaanmu yang potongan dada, kan?" LinXi mencoba mencairkan suasana dengan suara lembutnya yang karismatik. "Apa kau tidak ingin memakannya sedikit dulu supaya tenang sebelum ujian?"
"Enggak bisa, Kak LinXi! Ini jimat! Baunya saja sudah bisa menambah IQ-ku sepuluh poin!" jawab Yueyue bangga sambil menghirup aroma dari sela-sela tutup kotak.
QiaoMu, yang dari tadi hanya menonton dengan tangan bersedekap, akhirnya turun satu langkah mendekati Huahai. "Mas, kalau mau minta tanda tangan Kak Yifan buat proposal sumbangan, mending antre. Kalau mau minta nomor telepon Yueyue, mending kamu lari sekarang sebelum Kak Feng melemparmu pakai tablet Kak Yifan."
"Aku... aku cuma mau numpang lewat!" Huahai berteriak panik karena suara fansnya makin dekat.
Mufan yang merasa terabaikan, akhirnya melangkah masuk ke halaman. "Siapa yang malak? Aku ini penegak keadilan... jalanan!" ucapnya membela diri.
Yueyue menatap Mufan dari atas ke bawah. "Kak Preman, mending Kakak bantuin Mas Masker itu lari. Tuh, para wanita di sana sudah mau sampai! Kasihan kalau dia ketangkap, nanti maskernya copot terus ternyata wajahnya mirip Kak Feng, kan kasihan mereka nanti kecewa!"
"Apa kau bilang?! Wajahnya mirip aku?!" Feng protes tidak terima. "Aku ini standar visual nasional, Yueyue!"
Di gerbang, Yangya yang sedari tadi menunggu di atas Ninjanya mulai merasa kepalanya mau pecah. Ia menarik gas motornya hingga suaranya menggelegar, memaksa semua orang untuk menoleh. "YUEYUE! AYAM GORENGNYA SUDAH DI TANGAN, KAN?! AYO JALAN! GURU MATEMATIKA KITA BUKAN MALAIKAT, DIA BISA BERUBAH JADI DINOSAURUS KALAU KITA TELAT!"
Yueyue langsung tersadar. Ia menoleh ke arah barisan pria di teras. "Dadah semuanya! Kak Yifan, jangan terlalu rajin kerjanya nanti cepat botak! Kak Feng, jangan habisin susu cokelatku di kulkas! Kak Kaikai, Kak QiaoMu, Kak LinXi, hati-hati sama Kak Yifan ya! Dan Kak Preman sama Mas Masker... semangat ya kerjanya!"
Yueyue berlari menuju Ninja Yangya dengan kotak bekal dipeluk erat-erat. Ia naik ke boncengan dengan gerakan yang sedikit ceroboh, membuat Yangya harus sigap menahan keseimbangan motor besarnya.
Begitu Ninja itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap dan aroma ayam goreng mentega, suasana di depan pintu utama mendadak hening. Yifan, Feng, Kaikai, QiaoMu, LinXi, Mufan, dan Huahai saling pandang dalam kecanggungan yang luar biasa.
"Jadi..." Kaikai membuka suara, mencoba memecah kesunyian. "Kita tetap jadi rapat bisnis, Kak Yifan?"
Yifan menatap gerbang tempat Yueyue menghilang, lalu melirik Mufan dan Huahai yang masih mematung di halamannya. "Rapatnya batal. Aku harus menelepon sekolah untuk memastikan adikku tidak makan ayam goreng di tengah ujian."
Feng tertawa sambil menepuk bahu Yifan. "Sudahlah, Kak. Setidaknya pagi ini kita tahu kalau musuh kita bukan cuma rekan bisnis, tapi juga preman jalanan dan pria bermasker misterius."
Mufan mendengus, kembali ke motor maticnya dengan gaya angkuh. "Gadis yang aneh. Tapi... dia tahu aku preman langganan ya?" gumamnya dengan senyum tipis yang tersembunyi.
Sementara Huahai langsung melesat masuk ke dalam van hitamnya sebelum para fans berhasil mencapai gerbang. "Rumah ini... benar-benar zona bahaya untuk jantungku," bisiknya di balik masker.
LinXi hanya bisa berdiri diam, menatap sisa debu dari motor Yangya. "Ayam goreng mentega ya? Besok aku harus belajar cara masaknya."
QiaoMu menepuk bahu LinXi dengan simpatik. "Sainganmu banyak, LinXi. Dan saingan terberatmu bukan pria-pria ini, tapi sepotong ayam goreng."
To be continued













































