SEBAIKNYA MIKIR DULU BARU BICARA ...PLISSS BUKKK PLISSSSSS.....
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita menghadapi situasi di mana kata-kata yang kita ucapkan memiliki dampak besar, terutama di media sosial. Saya pernah mengalami momen di mana sebuah komentar yang saya tulis tanpa dipikirkan matang-matang malah menimbulkan salah paham dan konflik. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa "SEBAIKNYA MIKIR DULU BARU BICARA" bukan sekadar nasihat biasa, tapi memang prinsip penting untuk menjaga komunikasi agar tetap sehat dan saling menghargai. Dalam konteks perempuan dan netizen, seringkali komentar negatif atau tidak sensitif yang muncul justru merugikan pihak lain. Misalnya, ada kalanya komentar dari bapak-bapak di media sosial yang tidak mempertimbangkan perasaan wanita sehingga menimbulkan perdebatan tidak perlu. Oleh karena itu, etika berkomentar adalah hal yang harus diperhatikan oleh semua kalangan, tanpa terkecuali. Saya juga setuju dengan pentingnya mengelola emosi saat berinteraksi di platform digital. Ada kalanya kita tergoda untuk menulis komentar kasar atau provokatif hanya karena emosi sesaat. Namun, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa rekam jejak digital kita tidak bisa dihapus begitu saja—seperti yang tertulis pada layar perekaman yang "tidak dapat dihapus". Selain itu, penggunaan tagar seperti #perempuan dalam diskusi sosial media juga mengingatkan kita bagaimana peran perempuan dalam masyarakat diangkat dan dihargai. Komentar yang membangun dan komunikasi yang baik bisa menjadi jembatan untuk membuat lingkungan digital menjadi lebih positif. Mengutip dari pengalaman pribadi dan refleksi saya, mari kita semua berusaha lebih bijak dalam berkomentar, menghindari kata-kata yang menyakitkan, dan memberikan dukungan yang tulus. Dengan demikian, kita bisa berkontribusi menciptakan suasana media sosial yang lebih ramah dan bermartabat bagi semua pengguna.























































