Aku pikir. Suka masak karena... tapi ternyata...
Hai...
Ada yang sama kayak aku ga sih? Waktu masih di rumah ortu dilarang keras pegang perabot dapurnya ibu... yah dapur di rumah ortu itu wilayah teritorialnya ibuku, kalau kita lancang memasuki wilayahnya dan pakai perabotnya beliau merasa dijajah dan bakal melakukan serangan balasan. Misal aku pakai wajan 1 jam ajah, bisa dapet serangan balasan selama 7 hari 7 malam.
Setiap wajan walaupun bentuk dan ukurannya sama ternyata menurut beliau beda fungsi, ada yang khusus buat goreng2, ada yang khusus numis... nih kalo aku salah make.. waduuuhhh bahaya mengancam. Setiap hari bakal ada suara yang kencengnya melebihi petasan "NIH KAN WAJAN JADI LENGKET, KAYAK GINI BUAT GORENG JADI HANCUR, DLL"
Jadi sekarang udah punya rumah sendiri, punya dapur sendiri hari2ku ga pernah absen buat masak di dapur. Misal pagi bikin sarapan simple kayak nasi goreng atau penyetan, siangnya bikin mie2 entah itu mie goreng Jawa atau spageti, sorenya baru deh bikin yang menu lengkap.
Kadang aku mikir apa ini efek inner child aku yang terluka yah, tapi sepertinya sih karena aku doyan makan ajah tapi sukanya yang fresh from the wajan...
Teman-teman disini masak karena apa biasanya?
#Seandainya #SukaDukaCewek #MaluGak #BudeLemon8 Lemon8_ID Lemon8IRT
Sejak punya dapur sendiri, salah satu menu yang paling sering aku eksperimenin itu omelet daging cincang. Awalnya cuma omelet biasa, tapi lama-lama jadi kreatif: aku bikin omelet gulung berisi mie dan daging cincang, lengkap dengan saus dan taburan herba kering biar tampilannya kayak menu kafe, padahal masaknya di rumah aja. Versi paling simpel, aku pakai mie instan yang direbus setengah matang, tiriskan. Lalu daging cincang aku tumis dulu pakai bawang putih, bawang bombai dikit, garam, lada, dan kecap. Kadang aku tambahin wortel potong kecil atau daun bawang biar lebih berwarna dan ada teksturnya. Setelah itu baru deh campur telur dengan sedikit susu atau air, bumbu dikit, lalu tuang ke wajan anti lengket yang udah dipanaskan. Begitu telur setengah matang, aku tata mie dan daging cincang di salah satu sisi, lalu pelan-pelan digulung pakai spatula. Kuncinya sabar dan api kecil, supaya omelet daging cincang nggak gampang sobek. Kalau sudah kecokelatan di luar dan bagian dalam terasa padat tapi masih lembut, baru aku angkat dan potong-potong. Biasanya aku sajikan di wadah persegi panjang, kasih saus sambal atau mayo di atasnya, plus taburan herba kering kayak parsley kering atau oregano biar makin cantik. Menurutku, omelet daging cincang model begini tuh pas banget buat sarapan atau bekal. Karena di satu menu sudah ada karbo dari mie, protein dari telur dan daging cincang, plus sayuran kalau mau ditambah. Kalau lagi buru-buru, aku bikin versi lebih praktis: tanpa isi mie, cuma telur dan daging cincang, tapi tetap digulung. Rasanya tetap enak dan lebih ringan. Kalau kamu punya riwayat kayak aku yang dulu dilarang keras pegang wajan, bikin omelet daging cincang bisa jadi latihan awal yang nggak terlalu ribet. Tinggal sediakan wajan anti lengket yang nyaman dipakai dan jangan takut gagal. Pertama kali bikin mungkin gosong atau kejunya luber ke mana-mana, tapi justru dari situ kita belajar ngerasain tekstur dan panas wajan. Sekarang tiap kali aku masak omelet daging cincang, aku selalu keinget masa lalu di dapur ibu yang galak sama perabot, dan rasanya puas banget bisa punya kreasi sendiri di dapur kecilku. Kalau kamu suka eksperimen, omelet daging cincang ini bisa dimodif jadi omelet daging cincang pedas dengan cabe rawit atau saus sambal ekstra, atau jadi versi lebih sehat dengan mie kering rendah kalori dan lebih banyak sayur. Intinya, sesuaikan selera dan stok yang ada di kulkas. Yang penting, masak jadi momen menyenangkan, bukan lagi hal yang menakutkan gara-gara trauma sama wajan di rumah ortu.

aku suka masak karena keadaan kak. . klo jajan boros mau ga mau harus masak. trus juga sejak nikah bagi aku penting ngenyangin perut suami hasil masakan sendiri