Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terus berlanjut. Pada saat sama, harga minyak impor Indonesia menjadi 117,31 dolar AS per barel atau melonjak 15,05 dolar/barel.
Kombinasi penurunan tajam rupiah dan pelonjakan harga minyak bakal makin mempersempit ruang gerak fiskal pemerintah karena akan melambungkan nilai subsidi produk yang diperoleh dari impor seperti minyak dan gas.
Nilai tukar rupiah pada Selasa per 11.02 WIB bergerak melemah 60 poin atau 0,34 persen menjadi Rp17.728 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menilai pelemahan rupiah dipicu dampak dari konflik Timur Tengah yang merembet ke harga minyak mentah dan inflasi AS.
“Ini masih euforia konflik Timur Tengah yang merembet kemana-mana seperti kenaikan harga minyak mentah dan inflasi,” ucapnya kepada Antara di Jakarta, Selasa.
Kenaikan ekspektasi inflasi AS ini meningkatkan tingkat imbal hasil atau yield obligasi AS. Tercatat, yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 2 tahun di 4,105 persen, 10 tahun di 4,631 persen, dan 30 tahun di 5,159 persen. Peningkatan ini menjadi level tertinggi baru untuk tahun 2026.
Melihat sentimen dalam negeri, tekanan dari harga minyak mentah yang di atas 100 dolar AS per barel membuat harga kebutuhan masyarakat naik. Dengan begitu, impor minyak mentah menaikkan permintaan dolar AS di tanah air.
Baca selengkapnya di matasemarang.com
=============================
Pengalaman saya mengikuti perkembangan nilai tukar rupiah dan harga minyak menunjukkan bahwa dampak pelemahan rupiah tidak hanya terbatas pada nilai tukar saja, tetapi juga menyentuh berbagai aspek perekonomian secara langsung. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor, terutama minyak dan gas, otomatis meningkat. Hal ini menyebabkan subsidi pemerintah melonjak tajam karena harus menutup selisih harga yang lebih tinggi tersebut, sehingga anggaran negara menjadi lebih terbebani. Selain itu, kenaikan harga minyak impor yang melonjak drastis di atas 100 dolar AS per barel juga memiliki efek domino pada harga kebutuhan pokok masyarakat. Pengalaman pribadi saya saat belanja menunjukkan bahwa harga barang kebutuhan meningkat, terutama bahan bakar dan produk yang bergantung pada energi minyak. Ini tentu mempengaruhi daya beli masyarakat secara luas. Saya juga memperhatikan dampak geopolitik seperti konflik Timur Tengah yang memicu ketidakstabilan harga minyak global dan inflasi di Amerika Serikat. Kondisi ini menyebabkan investor beralih ke instrumen investasi yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah AS, sehingga yield obligasi meningkat ke level tertinggi untuk tahun 2026. Fenomena ini memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah, karena permintaan dolar AS meningkat di pasar domestik untuk kebutuhan impor minyak. Secara keseluruhan, kombinasi pelemahan rupiah dan lonjakan harga minyak menciptakan tantangan besar bagi kebijakan fiskal pemerintah, terutama dalam hal pengelolaan subsidi dan inflasi. Dari pengalaman saya, langkah strategis perlu dilakukan untuk memperkuat stabilitas ekonomi, seperti diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan devisa, agar dampak fluktuasi global tidak terlalu membebani perekonomian Indonesia.




