Ada seorang gadis yang begitu sederhana, namun entah mengapa, setiap kali aku melihatnya, hatiku seakan menemukan alasan baru untuk berdebar. Senyumnya seperti cahaya pagi, lembut tapi mampu menembus dinding hatiku yang paling dalam. Aku jatuh cinta, tapi cinta ini hanya berani aku simpan dalam diam. Bukan karena rasa itu kecil, justru karena ia terlalu besar hingga aku takut mengucapkannya.
Aku sering berandai-andai, bagaimana jika aku jujur? Bagaimana jika aku berkata, “Aku menyukaimu”? Namun lidahku selalu kelu, langkahku tertahan, dan keberanian itu menguap sebelum sempat kuungkapkan. Maka aku hanya memilih satu cara—menitipkan namanya dalam doa. Biarlah ia tak tahu, biarlah dunia tetap diam, asalkan Allah mendengar rahasia hatiku. Jika memang dia ditakdirkan untukku, maka aku percaya, suatu saat semesta akan mempertemukan kami pada waktu yang paling indah.
... Baca selengkapnyaAku pernah berada di posisi mencintai seseorang dalam diam menurut Islam, persis seperti pria dan wanita berhijab yang duduk di bangku taman saat senja. Dari luar kelihatan tenang, tapi di dalam hati ada doa yang terus bergema. Awalnya aku kira, memendam perasaan itu tanda pengecut. Tapi pelan-pelan aku sadar, kadang diam justru bentuk penjagaan.
Dalam Islam, mencintai seseorang itu bukan hal yang salah. Yang jadi masalah adalah ketika cinta itu mendorong kita ke hal yang dilarang. Makanya, saat aku menyukai seseorang, aku belajar untuk tidak berlebihan stalking, chatting tanpa tujuan, apalagi flirting yang bisa menjerumuskan. Aku memilih cara sederhana: menyebut namanya dalam doa, tanpa menuntut harus jadi jodohku.
Aku pernah bertanya pada seorang ustazah, apakah mencintai dalam diam itu dianjurkan? Jawabannya kurang lebih begini: "Boleh saja, selama tidak membuatmu lalai dari ibadah, tidak membuatmu patah semangat, dan tidak menjatuhkan harga dirimu." Jadi patokanku sekarang, kalau cinta itu bikin aku makin semangat memperbaiki diri, berarti aku sedang di jalan yang benar. Tapi kalau cinta itu malah bikin aku susah shalat, overthinking, cemburu terus, berarti ada yang salah dengan caraku mencintai.
Satu hal yang juga aku pelajari, doa dalam cinta diam-diam itu sebaiknya begini: bukan cuma, "Ya Allah, jadikan dia jodohku," tapi lebih luas, "Ya Allah, jika dia baik untuk agamaku, hidupku, dan akhiratku, maka dekatkanlah. Jika tidak, jauhkanlah dengan cara yang lembut dan tenangkan hatiku." Doa seperti ini membuatku lebih ikhlas menerima apapun hasilnya.
Kalau kamu juga sedang mencintai seseorang dalam diam menurut Islam, mungkin beberapa hal ini bisa dicoba:
1. Perbaiki niat. Tanyakan ke diri sendiri, "Aku suka dia karena apa? Sekadar kagum fisik atau karena akhlaknya yang baik?"
2. Jaga pandangan dan interaksi. Kalau memang belum siap melamar atau ta’aruf, batasi hal-hal yang bisa menjerumuskan hati.
3. Fokus memperbaiki diri. Jadikan rasa suka itu sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih layak secara agama dan akhlak.
4. Jangan melupakan ikhtiar. Kalau suatu saat kamu sudah siap, dalam Islam ada jalan terhormat seperti ta’aruf dan khitbah. Diam bukan berarti selamanya pasif.
5. Siap menerima takdir. Bisa jadi dia bukan jodohmu, tapi Allah sedang menyiapkan seseorang yang lebih tepat.
Buatku, mencintai dalam diam menurut Islam itu seperti menikmati senja: indah, hangat, tapi kita tahu ia pasti berlalu. Yang penting adalah bagaimana kita mengisi waktu di bawah cahaya keemasan itu: dengan maksiat yang sia-sia, atau dengan doa dan perbaikan diri yang mendekatkan kita pada-Nya. Jika suatu hari semesta tidak mempertemukan kami dalam ikatan halal, setidaknya aku pernah belajar mencintai dengan cara yang lebih menjaga diri dan lebih dekat kepada Allah.
assalamu'alaikum wr wb 🙏🏻 siang K. selamat beraktivitas semoga sukses selalu