“Qobiltu Ijazah” berasal dari bahasa Arab, yang artinya “Aku terima ijazah ini.” Kalimat sederhana, tapi sarat makna. Ia bukan sekadar ucapan,
melainkan ikrar hati seorang murid kepada gurunya.
Saat seorang guru memberi ijazah —
entah itu ilmu, doa, atau amalan —
murid mengucap, “Qobiltu Ijazah.”
Di situlah adab bersemi.
Murid menyatakan penerimaan penuh hormat, dengan niat menjaga amanah ilmu yang bersanad.
Karena dalam setiap ilmu,
bukan hanya kata yang diwariskan,
tapi juga barakah dan keikhlasan yang mengalir dari hati ke hati.
Maka ketika engkau berkata “Qobiltu Ijazah,” ucapkanlah dengan hati yang tunduk, sebab engkau sedang menyambung rantai cahaya, dari gurumu… hingga Rasulullah ﷺ.
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali dengar kalimat “Qobiltu Ijazah”, aku juga sempat bingung. Di majelis ilmu, semua murid serentak mengucapkan kalimat itu saat guru memberikan amalan dan doa. Rasanya sakral, tapi di kepala masih muncul pertanyaan: qobiltu ijazah artinya apa sih sebenarnya?
Secara bahasa, “qobiltu” (قبلت) artinya “aku menerima”, dan “ijazah” (إجازة) artinya “izin” atau “pengijazahan”. Jadi arti qobiltu ijazah adalah “aku menerima ijazah (izin) ini”. Dalam Islam, ini bukan sekadar kalimat formal, tapi semacam janji hati. Kita menyatakan bahwa kita menerima ilmu, doa, atau amalan itu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Biasanya kalimat ini diucapkan setelah guru membaca ijazah atau memberikan amalan tertentu. Kadang didahului dengan “Bismillah”, jadi lengkapnya jadi “Bismillah, qobiltu ijazah”, yang artinya: “Dengan nama Allah, aku menerima ijazah ini.” Ini mengingatkan kita bahwa penerimaan ilmu itu bukan hanya urusan murid dan guru, tapi juga disaksikan oleh Allah.
Kalau soal “qobiltu ijazah tulisan Arab”, bentuk yang sering aku temui adalah: بسم الله، قبلت الإجازة. Ada juga yang menuliskannya singkat: قبلت إجازة. Guru-guru biasanya menjelaskan dulu, supaya murid paham makna kalimat yang diucapkan, bukan sekadar menirukan.
Lalu, qobiltu ijazah jawabnya apa? Ini yang sering ditanyakan juga. Di beberapa majelis, murid cukup mengucapkan “Qobiltu ijazah” saja sebagai jawaban ketika guru berkata bahwa ia mengijazahkan doa atau amalan tertentu. Di tempat lain, guru akan bertanya, “Hal qobil-tum al-ijazah?” (Apakah kalian menerima ijazah ini?), dan murid menjawab bersama-sama, “Qobiltu ijazah.” Intinya, kalimat itu sendiri adalah jawaban sekaligus pengakuan penerimaan.
Dari pengalaman pribadi, momen mengucapkan “Qobiltu ijazah” itu terasa seperti sedang menandatangani ‘kontrak batin’. Bukan kontrak tertulis seperti di gambar “Qobiltu Diploma”, tapi perjanjian dalam hati bahwa ilmu ini akan dijaga, diamalkan, dan tidak disalahgunakan. Di situlah aku baru paham kenapa arti qobiltu ijazah dalam Islam begitu dalam: ia menghubungkan kita dengan sanad ilmu, dari guru, ke guru-gurunya, hingga Rasulullah ﷺ.
Makanya, waktu mengucapkan “Qobiltu ijazah”, coba niatkan hal-hal ini:
1. Menerima ilmu dengan adab dan hormat kepada guru.
2. Bertekad mengamalkan, bukan hanya menghafal.
3. Menjaga amanah, tidak sembarang menyandarkan ijazah pada guru jika belum diizinkan.
Sejak memahami maknanya, setiap kali guru mengijazahkan doa atau amalan dan aku menjawab “Qobiltu ijazah”, rasanya berbeda. Lebih khusyuk, lebih sadar bahwa ini bukan cuma rutinitas, tapi bagian dari menyambung rantai cahaya ilmu yang bersanad. Jika kamu juga pernah bingung soal “apa arti qobiltu ijazah”, semoga penjelasan ini bisa jadi jawaban yang ringan tapi mengena dari sesama pencari ilmu.