... Baca selengkapnyaJujur aja, dulu pas nemu buku "Primbon Lengkap Untuk Wanita" peninggalan alm. ibu, aku tuh antusias banget. Di dalamnya ada primbon haid menurut hari, tanggal dan waktu, terus ada juga arti bersin, kedutan, mimpi, watak wanita berdasarkan hari lahir kayak Sabtu Pon, Rabu Kliwon, sampai soal zodiak dan astrologi. Rasanya kayak semua hal di hidup bisa dijelasin sama primbon.
Misalnya soal haid, di buku primbon lengkap itu dijelasin kalau haid di hari tertentu punya firasat sendiri. Ada yang dibilang bakal dapat rezeki, ada yang dibilang bakal dapat kabar buruk, atau bakal ketemu seseorang. Dulu setiap haid datang, aku langsung buka halaman primbon haid menurut hari, tanggal dan waktu. Kalau tulisannya bagus, aku jadi semangat seharian. Kalau tulisannya jelek, aku jadi was-was padahal belum tentu kejadian apa-apa.
Begitu juga dengan bersin. Di salah satu halaman tertulis firasat bersin pagi, siang, atau malam. Kalau aku tiba-tiba bersin, otomatis tangan langsung gerak ambil buku primbon. Sama halnya dengan kedutan mata, kedutan bibir, semua ada tafsirnya. Makin sering dibaca, makin sugesti sendiri. Kadang kejadian sepele aku hubung-hubungkan sama primbon.
Yang paling bikin aku percaya dulu adalah bagian watak wanita berdasarkan hari lahir. Di buku itu tertulis karakter perempuan yang lahir Sabtu Pon, misalnya bakal punya sifat tertentu. Karena aku lahir Sabtu Pon, otomatis aku ngerasa, "Ih kok mirip, ya?" Padahal kalau dipikir lagi, kalimat-kalimatnya umum dan bisa cocok ke banyak orang. Tapi namanya juga dulu, masih polos, jadi lumayan kehipnotis.
Sampai satu titik, aku mulai mikir: kok aku jadi ketergantungan banget sama buku primbon ini, ya? Mau ambil keputusan kecil aja rasanya harus lihat firasat dulu. Dari situ aku pelan-pelan belajar lagi soal tauhid, kalau dalam agama, yang bener-bener tahu masa depan dan takdir kita cuma Allah. Primbon lengkap, ramalan bintang, zodiak, sebenarnya cuma bikin hati nggak tenang karena kita jadi menerka-nerka hal yang belum tentu terjadi.
Sekarang, kalau haid datang di hari tertentu, aku lebih fokus ke kesehatan: apakah siklusnya teratur, apakah ada nyeri berlebih, hal-hal yang bisa dipantau secara medis. Kalau bersin ya mungkin karena alergi atau lagi mau flu, bukan langsung mikir firasat. Aku juga tetap menghargai buku primbon alm. ibu sebagai bagian dari kenangan dan budaya Jawa, tapi bukan lagi sebagai pedoman hidup.
Menurutku, kalau kamu masih punya buku primbon di rumah, nggak masalah kalau cuma dibaca sebagai pengetahuan budaya atau sejarah, tapi jangan sampai bikin kita lebih percaya sama ramalan daripada sama Tuhan. Pengalaman pribadi sebagai IRT yang pernah percaya primbon ini ngasih pelajaran besar: sugesti itu kuat banget, jadi hati-hati memilih apa yang kita yakini.
Kalau kamu dulu juga punya primbon lengkap atau pernah ngikutin primbon haid menurut hari, tanggal dan waktu, boleh banget sharing. Seru lho baca pengalaman orang lain yang sama-sama pernah "terjebak" di dunia primbon, lalu pelan-pelan belajar lepas dan jadi lebih tenang karena bersandar ke agama dan logika, bukan ke ramalan.
Ada primbon yg pseudosains (cuma mitos) dan ada yg bisa dikaitkan dg psikologi, Kak 🥰
👉 misalnya membaca karakter dr wajah, orang yg di antara alisnya ada kerutan vertikal tandanya mudah marah dan sering sedih. Penjelasannya: saat kita marah atau sedih, kita cenderung mengerutkan alis. Kalau ini sering dilakukan bisa bikin bagian di antara alis terdapat kerutan. 🥰
Kak itu buku nya udah lama banget ya pasti?