Tahun 1985an, RS swasta Jakarta di daerah Salemba masih pakai gedung peninggalan Belanda yang lorongnya panjang minta ampun. Waktu itu, Suster Lastri dikenal sebagai perawat senior yang paling rajin, tapi nasibnya tragis. Dia meninggal saat jaga malam gara-gara kecelakaan *lift* tua yang anjlok.
Sejak saat itu, kalau sudah lewat jam 2 pagi, pasien di bangsal lantai 3 sering merasa ada yang aneh. Bukan cuma hawa dingin, tapi suara khas
"srek... srek..." yang pelan di lantai koridor.
Pernah ada pasien operasi usus buntu, namanya Pak Budi, terbangun karena haus. Dia lihat pintu kamarnya terbuka sedikit. Di luar, ada sosok suster yang duduk di lantai, menyeret kakinya yang lunglai dengan tangan sebagai tumpuan. Punggungnya bungkuk, kepalanya terkulai ke samping, tapi dia terus "berjalan" maju dengan suara seretan yang bikin merinding.
Pak Budi tadinya mau minta tolong, tapi dia sadar, di lorong itu nggak ada suara langkah kaki, cuma suara gesekan kain seragam perawat yang kasar di ubin. Pas sosok itu lewat tepat di depan pintu, dia berhenti. Wajahnya—yang pucat dengan mata yang cuma putih semua—menoleh pelan ke arah Pak Budi. Bibirnya menyeringai tipis, lalu dia lanjut "ngesot" menjauh sampai hilang di tikungan gelap.
Sejak malam itu, suster jaga malam selalu punya aturan nggak tertulis: jangan pernah menyapa suster yang jalannya diseret kalau ketemu di lorong lantai 3 saat dini hari. Cukup tutup pintu, kunci, dan jangan menoleh sampai pagi tiba...
... Baca selengkapnyaPengalaman saya bekerja di rumah sakit tua di Salemba menunjukkan betapa kentalnya cerita urban legend seperti Suster Ngesot ini di lingkungan medis. Gedung-gedung lawas yang pernah menjadi saksi sejarah sering menyimpan aura misterius yang tidak bisa dijelaskan secara logika. Menjelang malam, suasana menjadi sunyi dan dingin, membuat setiap langkah terasa berbeda. Saya sendiri pernah mendengar suara gesekan samar di lorong yang sepi, layaknya deskripsi suara "srek... srek..." yang disebutkan.
Legenda Suster Ngesot tidak hanya menakutkan, tapi juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga etika dan penghormatan terhadap para tenaga medis yang telah meninggal. Cerita tentang sosok suster yang menyeret kakinya dengan punggung bungkuk dan mata putih tersebut seolah menunjukkan penderitaannya dan mungkin pesan agar tidak mengganggu ketenangan mereka beristirahat.
Bagi pasien yang pernah mengalami kejadian serupa, kisah ini menjadi nyata dan sangat menakutkan. Saya menyarankan kepada yang bekerja atau berkunjung ke rumah sakit tua agar tetap waspada dan menghormati peringatan yang ada. Mengunci pintu kamar dan menghindari kontak visual dengan sosok yang dicurigai adalah langkah bijak.
Urban legend seperti ini juga menambah warna budaya cerita horor di Indonesia yang menurut saya mempunyai ciri khas tersendiri. Meski hanya cerita, bagi saya, pengalaman-pengalaman personal yang berbagi cerita tentang fenomena mistis di rumah sakit tua sangat penting untuk dicatat sebagai bagian dari warisan cerita rakyat modern. Cerita Suster Ngesot ini mengajarkan kita bahwa tempat yang penuh sejarah juga bisa menyimpan kisah yang menggetarkan jiwa.