Aku Pulang

*Aku Pulang*

Langit malam di Desa Karanganyar kelam banget, cuma diterangi lampu tempel di beranda rumah. Galih (28) jalan santai sambil nyeret koper besarnya. Setelah 8 tahun merantau di Jepang, akhirnya dia bisa pulang kampung. Dompetnya tebel, tapi hatinya gak sabar pengen meluk emak sama adeknya, Rian.

Anehnya, suasana desa sepi banget. Gak ada suara jangkrik, apalagi obrolan warga di gardu ronda. Tapi, lampu rumah-rumah tetangga kelihatan terang. "Pada tidur cepet amat," gumam Galih.

Sampai di depan rumahnya, pintu gak dikunci. Galih nyelonong masuk.

"Emak! Rian! Galih pulang nih!" teriaknya sambil senyum lebar.

Dari dapur, Emak nyembul, bawa nampan berisi teh hangat dan singkong rebus. Wajahnya pucat pasi, dingin, tapi senyumnya lebar banget.

"Eh, anakku wes mulih (sudah pulang). Kok ya gak ngabari, Le?" kata Emak dengan suara serak.

Galih meluk Emak.

Badan Emak rasanya kaku dan dingin banget kayak es batu, tapi Galih mangkirin pikiran jelek itu.

"Biar surprise, Mak. Bapak sama Rian kemana?"

"Bapak di belakang. Rian lagi main di lapangan desa," sahut Emak sambil nata hidangan di meja.

"Makan dulu, Le. Kamu pasti lapar."

Galih ngangguk. Dia makan singkong rebus itu lahap banget karena kangen masakan rumah. Sambil makan, dia cerita soal susah-senangnya kerja di negeri orang. Emak cuma senyum-senyum manggut-manggut, tapi gak nyentuh makanan sama sekali. Matanya juga gak pernah kedip mandangin Galih.

Selesai makan, Galih pamit mau keliling desa sebentar buat nemuin Rian.

"Kangen main ke lapangan, Mak."

Emak cuma senyum misterius.

"Iya, samperin sana. Rian pasti seneng."

Galih jalan kaki ke lapangan desa.

Dari kejauhan, bener aja, banyak orang kumpul lagi main bola. Lampu sorot lapangan nyala terang. Galih senyum, lari kecil nyamperin lapangan.

"Rian! Oper bolanya sini!" teriak Galih.

Begitu Galih masuk ke area lapangan, suasana mendadak hening. Semua orang yang tadinya lari-lari ngejar bola, pelan-pelan nengok ke arah Galih.

Wajah mereka semua pucat, lebam, dengan mata kosong melotot.

Galih ngerem mendadak. Bulu kuduknya merinding, keringat dingin ngucur deres.

Di tengah lapangan, Rian jalan mendekat sambil bawa bola plastik rusak. Kulit adeknya itu kelihatan biru lebam dan ada bekas luka parah di lehernya.

"Mas Galih..." suara Rian serak kayak keluar dari dalam tanah. "Kenapa baru pulang? Delapan tahun lalu, satu desa udah habis kena wabah kolera maut. Kita semua... udah dikubur massal."

Galih kaget setengah mati. Kakinya lemes, gak bisa gerak.

Rian nyengir lebar, nunjuk ke arah rumah-rumah warga.

"Tapi tenang, Mas... Kita semua tetep aktif kok tiap malam. Nemenin Mas Galih pulang..."

Seketika, puluhan warga yang tadinya main bola serentak jalan mendekat, ngepung Galih dengan senyum lebar yang mengerikan di bawah terangnya lampu lapangan...

#kontenhoror #ceritahoror #akupulang #cerpenhoror #bismillahfyp

2 hari yang laluDiedit ke

... Baca selengkapnyaPengalaman pulang ke kampung halaman setelah lama merantau selalu membawa emosi yang campur aduk, terutama saat berhadapan dengan perubahan yang tak terduga. Seperti kisah Galih yang kembali ke Desa Karanganyar, suasana desa yang senyap tanpa suara jangkrik maupun aktifitas warga menjadi sinyal misterius yang sudah mengganjal pikirannya sejak awal tiba. Saya pernah mendengar cerita serupa di mana tempat yang dulunya hidup dan penuh tawa mendadak berubah menjadi sunyi, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di balik kegelapan malam. Momen di mana Galih menemukan ibunya yang wajahnya pucat dan terasa dingin, disusul dengan pertemuan dengan Rian dan warga desa yang ternyata sudah menjadi sosok arwah akibat wabah kolera, memberikan sensasi horor yang nyata dan intens. Dalam pengalaman pribadi, perasaan antara rindu dan takut seringkali bercampur ketika harus kembali ke rumah lama dengan kenangan yang tak selalu indah. Cerita ini mengingatkan saya akan pentingnya menghargai waktu dan keluarga, namun juga kewaspadaan terhadap perubahan lingkungan sekitar yang kadang disembunyikan. Cerita "Aku Pulang" ini tidak hanya menyajikan narasi horor yang menegangkan, tapi juga menggambarkan konflik batin seseorang yang ingin kembali ke tempat asalnya namun harus berhadapan dengan kenyataan yang mengerikan dan tak terduga. Membaca kisah ini membuat saya teringat bahwa kadang keberanian terbesar adalah menerima dan menghadapi masa lalu yang pahit dengan kepala tegak. Untuk para pembaca yang suka cerita horor lokal, kisah seperti ini sangat pas dijadikan bacaan menjelang malam. Atmosfer desa yang sepi, arwah yang tetap "hidup" di malam hari, serta kejutan yang menyeramkan menjadi elemen penting untuk memperkuat sensasi suspen. Jangan lupa, berhati-hatilah saat pulang ke tempat lama, karena mungkin ada rahasia yang belum terlupakan oleh waktu.