Sang Jurnalis
*Sang Jurnalis*
Malam itu, kantor redaksi udah sepi. Rio, jurnalis magang yang nasibnya lagi di ujung tanduk, cuma bisa menghela napas panjang. Tenggat waktu berita tinggal hitungan 6jam, tapi kasus pembunuhan misterius di gudang tua pinggir kota mentok tanpa kejelasan.
Polisi angkat tangan, petunjuk nihil.
Karena panik diancam dipecat redaktur, Rio nekat cabut ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) sendirian jam sebelas malam.
Suasana gudang terbengkalai itu pengap, bau karat, dan gelap gulita. Senter HP miliknya jadi satu-satunya andalan buat menyibak debu yang mengepul.
Pas dia lagi jongkok ngeliat garis polisi yang mulai pudar, udara mendadak berubah dingin menusuk tulang. Bulu kuduknya langsung merinding hebat.
"Nggak usah dicari, Mas. Pelakunya nggak bakal ninggalin jejak di situ," suara bisikan lirih tiba-tiba.
Terdengar tepat di sebelah telinganya.
Rio loncat kaget, senternya hampir lepas dari tangan. Di bawah sorot lampu HP yang gemetar, sesosok bayangan transparan berdiri. Gadis muda dengan seragam kantor berlumuran noda gelap di dada tersenyum pucat ke arahnya. Itu Rasti, korban pembunuhan yang beritanya lagi dia kejar.
Mau lari, kaki Rio kayak di paku ke lantai semen. Lidahnya keluh.
"Kamu... kamu..." cicit Rio terbata-bata.
Tanpa suara, Rasti maju mendekat. Suhunya makin dingin bikin napas Rio ngebul. Rasti lalu mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk lehernya sendiri sambil memperagakan gerakan mencekik dengan kuat. Bibirnya yang kebiruan berbisik dingin, "Dia nyekik aku dari belakang pas mau kunci pintu... diseret ke sudut pojok timur... mayatku ditimbun di bawah tumpukan karung semen."
Rio merinding disko, matanya otomatis ngikutin arah telunjuk Rasti ke pojok gelap gulita di dekat tumpukan rongsokan.
"Terus... pelakunya?" tanya Rio setengah sadar, dikuasai rasa penasaran jurnalisnya.
Rasti menyeringai, matanya melotot tajam. "Atasan kamu sendiri... si Redaktur Kepala yang nyuruh aku bungkam karena tahu skandal korupsinya."
Belum sempat Rio nyerna ucapan itu, hawa dingin tiba-tiba lenyap. Ruangan kembali sunyi. Tapi di layar HP Rio yang menyala, sebuah pesan masuk dari sang Redaktur:
*"Gimana Rio? Udah dapat berita bagus buat besok pagi?"*
Rio menelan7 ludah, sementara dari sudut gelap gudang, langkah kaki perlahan mendekat...
#ceritamisteri #horormania #kisahtengahmalam #sangjurnalis #bismillahfyp






































