PASAR UJUNG DESA
*Pasar Ujung Desa*
Jam 3 pagi, Rini keganggu ketukan pelan di pintu kamar. Pas dibuka, ada Ibu—mertuanya yang sudah 3 hari ini tidur di kamar belakang. Wajahnya agak pucat kena temaram lampu koridor.
"Rin, tolong ke pasar ujung desa ya. Beliin daging sapi sekilo. Ini uangnya seratus ribu," kata Ibu sambil nyodorin uang lembar ratusan ribu. Tangannya dingin banget waktu nyentuh jemari Rini. Karena masih ngantuk dan nggak enak sama mertua, Rini cuma ngangguk nurut.
Suaminya, Dimas, lagi tugas luar kota dari kemarin.
Rini jalan kaki sendirian ke arah pasar ujung desa. Rini yg belum 1 bulan pindah baru tahu jika diujung desa ada pasar.
Kabut tipis nutupin jalan setapak yang temaram. Begitu nyampe pintu gerbang pasar, dahi Rini berkerut. Rame banget. Banyak pedagang dan pembeli lalu-lalang. Tapi... sunyi senyap. Nggak ada suara tukang becak nawarin penumpang, nggak ada suara pisau daging ngebasuh talenan. Semuanya gerak pelan banget kayak video slow-motion, wajah mereka datar, pucat, dan cuma nunduk.
Rini ngeri, tapi tangannya kayak digerakin paksa buat nyamperin salah satu lapak daging. Dia bayar pakai uang 100 ribu itu, nerima bungkusan keresek hitam, terus cepet-cepet balik.
Jam 5 pagi, Dimas nyampe rumah pakai motor dengan muka panik setengah mati. Dia teriak-teriak manggil nama istrinya. Pas lihat Rini baru muncul dari arah ujung desa, Dimas langsung meluk Rini kenceng banget sambil Gemetaran.
"Kamu dari mana aja, Rin?! Aku dari jam 4 subuh keliling nyariin kamu! HP kamu mati!" suara Dimas pecah.
Rini agak bingung. "Aku dari pasar dong, Mas. Disuruh Ibu beli daging."
Dimas langsung ngelepas pelukan. Matanya terbelalak natep Rini. "Ibu...? Ibu kan..."
"Iya, Ibu mertuaku, ibumu mas. Tadi beliau yang bangunin aku jam 3," potong Rini polos.
"Di pasar tadi rame lho, Mas. Tapi... aneh, semuanya pendiam banget."
Rini buru-buru ngambil bungkusan keresek hitam di meja sama uang kembalian dari saku bajunya buat ditunjukin ke suaminya.
Begitu keresek hitam itu dibuka... isinya bukan daging segar, tapi gumpalan belatung putih segede jempol yang langsung menggeliat ribut ke segala arah.
Rini menjerit kaget. Waktu dia mau nunjukin uang kembaliannya ke Dimas, yang jatuh ke lantai dari telapak tangannya cuma lembaran daun kering kecokelatan yang langsung hancur.
Dimas narik tangan Rini mundur ke belakang, wajahnya pucat pasi kayak orang kehabisan darah.
"Rin... pasar ujung desa itu udah nggak ada," bisik Dimas dengan suara bergetar hebat. "Belasan tahun lalu pasar itu kebakaran besar. Puluhan orang terpanggang di sana... Dan Ibu, salah satu korban yang jasadnya nggak pernah ketemu sampai sekarang."
Di luar jendela kamar, jam dinding baru saja menunjukkan pukul 05.15 pagi, dan sayup-sayup terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu dapur...
Pengalaman menghadapi cerita horor, seperti kisah Pasar Ujung Desa ini, sering membuat kita merenung tentang batas antara kenyataan dan dunia gaib. Saya pernah membaca dan menonton berbagai cerita rakyat dari daerah terpencil di Indonesia yang menyertakan pasar atau tempat umum yang tiba-tiba kosong dan sunyi, namun dipenuhi oleh sosok-sosok yang tampak seperti bayangan atau arwah penasaran. Fenomena pasar yang tiba-tiba menjadi mencekam tersebut biasanya memiliki akar sejarah tragedi seperti kebakaran, kecelakaan massal, atau peristiwa mengerikan lainnya yang menyebabkan tempat tersebut tidak lagi berfungsi secara normal. Dalam cerita ini, kehadiran mertua yang tiba-tiba meminta bantuan di jam-jam yang sangat tidak biasa (jam 3 pagi) menambah unsur ketegangan dan misteri, yang menjadi tanda adanya gangguan gaib atau penampakan. Selalu ada simbolisme kuat di dalam cerita horor lokal, seperti uang yang berubah menjadi daun kering dan belatung yang keluar dari bungkusan daging yang seharusnya segar. Ini menandakan bahwa apa yang kelihatan nyata bisa jadi hanyalah ilusi atau jebakan dari makhluk halus yang ingin menyesatkan manusia. Saya pernah mengunjungi sebuah pasar tradisional di desa kecil yang dikenal sebagai tempat tampaknya berhantu. Pengalaman personal saya ketika berada di sana adalah suasana yang sunyi dan berat, berbeda dengan riuh rendah pasar pada umumnya. Seperti yang diceritakan pada pasal ini, para penjual dan pembeli bergerak pelan, bagaikan dalam slow motion, dan tidak saling berinteraksi dengan suara yang khas. Semua ini menciptakan suasana yang sangat tidak nyaman dan membuat kita was-was. Cerita Pasar Ujung Desa juga mengingatkan kita untuk lebih menghargai sejarah dan kisah-kisah yang tersembunyi di balik tempat-tempat yang kita anggap biasa. Kadang, ketenangan suatu lokasi menyembunyikan rahasia kelam yang tidak semua orang siap mengetahuinya. Jadi, ketika diminta melakukan sesuatu pada jam yang tidak lazim atau di tempat yang tidak familiar, selalu penting untuk waspada dan memikirkan keselamatan diri sendiri. Saya juga menyarankan pembaca untuk tidak mudah panik jika mengalami kejadian aneh. Mencari informasi lebih dalam tentang sejarah lokasi atau bertanya pada orang yang lebih mengerti bisa membantu memahami situasi. Tetap tenang dan jangan langsung mengambil kesimpulan sebelum semua fakta diketahui. Seperti cerita ini, horor tradisional memberikan warna tersendiri dalam budaya kita, sekaligus menjadi pengingat akan sejarah yang terlupakan dan misteri yang belum terpecahkan. Semoga kisah Pasar Ujung Desa ini bisa menambah wawasan dan memperkaya pengalaman membaca cerita horor Indonesia.

Lihat komentar lainnya