... Baca selengkapnyaAku selalu merasa kalimat “aku bukan ibu yang sempurna” itu benar-benar mewakili isi hati ibu berhijab biru yang lagi menggendong anak dan tersenyum di foto itu: kelihatan bahagia, tapi di dalam hati penuh harap dan kadang penuh rasa bersalah.
Setiap malam sebelum tidur, sering banget aku lihat wajah anak-anak yang lagi lelap sambil bertanya dalam hati: “Hari ini mereka cukup merasa dicintai nggak ya? Atau malah lebih banyak kena marah dan omelan?” Kadang rasanya sedih karena sebagai ibu, kita juga manusia biasa: capek, sensitif, kadang ngomel hanya karena kelelahan. Tapi justru dari situ aku belajar pelan-pelan menerima bahwa jadi ibu sempurna itu nggak mungkin, yang mungkin adalah terus berusaha.
Sekarang, aku punya beberapa kebiasaan kecil yang bantu aku meyakinkan anak-anak kalau mereka tetap dicintai, meskipun ibunya punya banyak kekurangan. Misalnya, aku usahakan selalu ada momen peluk sebelum atau sesudah marah. Kalau habis emosi, aku belajar minta maaf ke anak. Dulu aku pikir orang tua nggak perlu minta maaf, tapi ternyata waktu aku bilang, “Maaf ya, tadi mama capek dan kebawa emosi, tapi mama tetap sayang banget sama kamu,” mata anakku langsung kelihatan lebih tenang.
Aku juga mulai membuat “ritual kecil” sebelum tidur: sekadar ngobrol singkat di kasur, tanya, “Hari ini kamu senangnya karena apa? Sedihnya karena apa?” Kadang jawabannya sederhana banget, tapi dari situ aku tahu ternyata hal-hal kecil yang aku lakukan itu berharga buat mereka. Bahkan hanya ditemani nonton, dibikinin susu, atau dipeluk sambil dengerin cerita mereka.
Ada hari-hari di mana rumah berantakan, cucian numpuk, dan masakan nggak semewah masakan ibu-ibu lain. Di momen seperti itu, aku ingat lagi: anak-anak lebih butuh ibu yang hadir dan hangat, bukan ibu yang sempurna di segala hal. Foto ibu berhijab biru yang tersenyum sambil menggendong anak itu mengingatkan aku bahwa yang anak-anak butuhkan adalah rasa aman dalam pelukan ibunya, bukan sosok tanpa cela.
Kalau kamu juga merasa “aku bukan ibu yang sempurna”, kamu nggak sendirian. Kita boleh lelah, boleh salah, boleh nangis diam-diam di kamar mandi, tapi selama kita mau terus belajar, minta maaf, dan menunjukkan cinta tiap hari dengan cara-cara kecil, itu sudah lebih dari cukup untuk anak-anak. Sempurna versi mereka bukan berarti tanpa kekurangan, tapi ibu yang terus mencoba dan nggak menyerah untuk hadir buat mereka.