Kampung Adat Bena adalah sebuah perkampungan megalitik yang terletak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebuu. Kampung ini terkenal dengan rumah adat yang masih mempertahankan bentuk dan tradisi leluhur, serta keberadaan simbol-simbol adat seperti megalit dan kerajinan tangan tradisional. Di ujung kampung, terdapat sebuah bukit kecil dengan patung Bunda Maria di atasnya, yang menjadi tempat berdoa dan beribadah bagi warga.
📍 Nama Tempat: Kampung Adat Bena
💸 Kisaran Harga: Rp. 20.000,-
🏨 Akomodasi: Kendaraan Darat, 19 km ari kota Bajawa
... Baca selengkapnyaPertama kali dengar soal Kampung Adat Bena di Bajawa, aku kira cuma desa wisata biasa. Ternyata begitu sampai, vibes-nya benar-benar beda, berasa mundur ke masa lalu. Desa Bena ini termasuk kampung adat tertua di Flores, katanya usianya sudah lebih dari 1.200 tahun dan masih dihuni sembilan suku.
Begitu masuk gerbang bertuliskan "Wisata Budaya Bena", kita langsung disambut deretan rumah adat Ngada beratap ilalang/jerami yang berbaris rapi. Bentuk rumah adat Bena ini unik: terbuat dari kayu, bambu, dan ilalang, dengan atap menjulang dan di tengah kampung ada batu-batu megalitik sebagai tempat upacara adat. Di beberapa rumah juga ada bangunan kecil simbol leluhur yang disebut sa’o dan bhaga.
Rumah adat di Kampung Bena ini sering disebut juga rumah adat Bajawa Ngada, dan tiap rumah biasanya mewakili satu marga atau suku. Ada juga rumah adat musalaki, yaitu rumah pemimpin adat yang jadi pusat kegiatan upacara penting. Kalau kamu suka arsitektur tradisional, detail seperti ukiran kayu, susunan batu, dan tata letak kampung benar-benar fotogenik.
Lokasi Kampung Adat Bena Flores ini ada di Kabupaten Ngada, NTT, sekitar 19 km dari kota Bajawa. Aksesnya pakai kendaraan darat, jalannya agak berkelok tapi sudah cukup oke. Sepanjang jalan menuju desa bena bajawa, pemandangannya hijau dengan latar Gunung Inerie yang megah. Dari dalam kampung, view Gunung Inerie seperti lukisan, apalagi kalau datang saat cuaca cerah.
Selain menikmati suasana kampung bena flores, jangan lupa perhatikan kain tenun yang digantung di depan atau di bawah rumah-rumah adat. Itu hasil karya perempuan Desa Bena sendiri. Motifnya khas suku Ngada, biasanya didominasi warna gelap dengan corak simbol adat. Harga kain tenun di sini bervariasi, mulai sekitar Rp100.000 sampai Rp500.000 tergantung ukuran dan kerumitan motif. Aku sempat beli satu selendang sebagai oleh-oleh dan langsung dipakai foto-foto di tengah kampung, hasil fotonya cakep banget.
Kalau datang ke kampung adat bena ngada flores, usahakan berpakaian sopan dan jaga suara, karena ini bukan sekadar objek wisata tapi kampung adat yang benar-benar dihuni warga. Biasanya ada warga yang akan menjelaskan singkat tentang sejarah desa bena flores, rumah adat suku Ngada, dan makna batu-batu megalitik di tengah kampung. Mereka ramah dan terbiasa menerima tamu, tapi tetap enak kalau kita minta izin dulu sebelum foto orang atau masuk ke teras rumah.
Waktu terbaik menurutku untuk berkunjung ke kampung bena bajawa adalah pagi atau sore hari. Selain cahaya buat foto lebih lembut, suasana juga lebih sejuk karena desa ini letaknya di ketinggian dan kadang berkabut. Kalau punya waktu lebih, kamu bisa lanjut jalan ke bukit kecil di ujung kampung untuk lihat patung Bunda Maria dan pemandangan Kampung Bena dari atas.
Buat kamu yang lagi menyusun itinerary ke Pulau Flores, apalagi sekitar Bajawa, kampung adat bena NTT ini wajib banget masuk list. Di satu tempat, kamu bisa belajar soal rumah adat kampung bena, tradisi megalitik, beli kain tenun, sambil menikmati panorama Gunung Inerie yang jadi ikon Ngada.