Percayalah... Semakin jauh seseorang dari Allah...
Percayalah... Semakin jauh seseorang dari Allah, semakin rapuh pula hatinya. Mudah gelisah, dilanda galau, bahkan tenggelam dalam stres dan depresi. Karena jiwa yang kosong dari Allah tak akan pernah benar-benar tenang.
ثق بي... كلما ابتعد المرء عن الله، أصبح قلبه أكثر هشاشة. من السهل أن يضطرب ويضيق صدره، بل ويغرق في التوتر والاكتئاب. لأن النفس الفارغة من الله لا يمكن أن تكون في سلام حقيقي.
Believe me... The further one is from Allah, the more fragile his heart becomes. It is easy to be restless, overwhelmed, and even drown in stress and depression. Because a soul empty of God can never be truly at peace.
... Baca selengkapnyaAku pernah berada di fase di mana perasaan hati benar-benar hancur. Bangun tidur rasanya berat, malam sulit tidur, pikiran penuh, tapi sekaligus kosong. Dari luar aku terlihat baik-baik saja, tapi di dalam hati seperti retak pelan-pelan. Waktu itu, jujur, aku lagi jauh banget dari Allah. Shalat sering bolong, doa hampir nggak pernah, dan Al-Qur’an cuma lewat di rak, nggak pernah dibaca.
Yang paling terasa adalah hati jadi rapuh. Sedikit masalah saja langsung bikin nangis. Ada perkataan orang yang sebenarnya biasa, tapi terasa menusuk. Aku jadi gampang overthinking, mempertanyakan semuanya, termasuk diri sendiri. Di titik itu aku baru benar-benar paham, kalau jiwa yang kosong dari Allah memang nggak akan pernah tenang, seperti yang sering kita baca di quotes islami.
Pelan-pelan aku mulai belajar mendekat lagi. Bukan langsung jadi alim, tapi mulai dari hal paling kecil. Pertama, aku paksa diri untuk shalat tepat waktu, meski kadang masih malas. Lalu aku biasakan baca satu halaman Al-Qur’an setiap habis shalat. Awalnya berat, tapi lama-lama jadi kebutuhan. Di sela-sela aktivitas, aku ganti waktu scrolling nggak jelas dengan dengerin murattal atau kajian ringan di YouTube. Aneh tapi nyata, hati yang tadinya sesak mulai terasa agak lega.
Kalau perasaan hati lagi hancur banget, biasanya aku ambil wudhu, meski bukan waktu shalat. Cuci muka, tangan, dan kaki sambil tarik napas pelan. Setelah itu aku duduk, baca istighfar dan shalawat pelan-pelan. Di situ aku ngerasa seolah Allah lagi bilang, "Kamu nggak sendirian." Air mata sering keluar sendiri, tapi kali ini bukan karena putus asa, lebih ke lega.
Aku juga belajar jujur dalam doa. Nggak pakai bahasa yang indah, cuma bilang apa adanya: kalau aku capek, kalau aku takut, kalau aku sedih. Di saat perasaan hati hancur, doa semacam curhat ke Allah itu rasanya beda banget. Ada rasa aman yang nggak bisa dijelasin. Mungkin inilah yang dimaksud ketenangan yang datang saat kita mendekat lagi pada-Nya.
Buat kamu yang lagi ngerasa hatinya hancur, apalagi kalau merasa jauh dari Allah, coba mulai dari langkah yang paling sederhana. Nggak perlu langsung sempurna. Satu shalat tepat waktu, satu ayat dibaca, satu doa tulus sebelum tidur. Sekecil apa pun usahanya, Allah tetap lihat. Kadang gambaran diri kita di luar bisa terlihat kuat, seperti wanita bercadar atau berhijab hitam yang tampak tegar, tapi di dalam hati tetap manusia biasa yang bisa rapuh. Dan itu nggak apa-apa, selama rapuhnya kita jadi alasan untuk kembali mendekat pada Allah.
Semoga perasaan hati yang hancur bisa perlahan disembuhkan oleh Allah, diganti dengan ketenangan dan keyakinan kalau semua yang terjadi bukan tanpa alasan. Pelan-pelan saja, yang penting jangan berhenti melangkah.