... Baca selengkapnyaKadang aku mikir, ternyata kalimat "aku tak bisa menahan" itu bukan cuma soal air mata, tapi juga soal emosi yang numpuk dan nggak pernah sempat disembuhin. Di luar, aku kelihatan santai, bisa ketawa, bercanda sama teman, upload foto rapi pakai blazer hitam dan kacamata hitam. Tapi di dalam hati rasanya kayak hujan deras yang nggak kelihatan.
Tulisan di gambar itu bener-bener relate: "Jika hujan bisa turun tanpa di minta, maka aku juga bisa menahan rasa sakit sambil tertawa." Dulu aku bangga banget sama diri sendiri karena bisa pura-pura kuat. Setiap ada masalah, aku mikir, "udah, tahan aja, jangan lebay, jangan nangis." Tapi makin lama, aku sadar kalau terlalu sering menahan malah bikin hati lelah.
Ada fase di hidupku di mana aku ngerasa aku tak bisa menahan lagi: nggak bisa menahan marah, nggak bisa menahan kecewa, bahkan nggak bisa menahan diri buat terus pura-pura nggak apa-apa. Di titik itu aku mulai belajar satu hal: nggak apa-apa kok kalau kamu lelah. Nggak apa-apa kalau kamu berhenti sebentar, nangis, atau cerita ke orang yang kamu percaya.
Sekarang, setiap kali perasaan itu datang, aku nggak langsung maksa diri buat kuat. Aku kasih waktu buat diriku sendiri. Kadang aku tulis semua unek-unek di catatan HP, kadang cuma dengerin lagu yang liriknya menyentuh hati sambil rebahan sendirian. Dengan cara itu, rasa sesak di dada pelan-pelan berkurang, meski nggak hilang total.
Buat kamu yang juga lagi di fase "aku tak bisa menahan" apa pun itu—entah rindu, kecewa, marah, atau rasa sakit—coba pelan-pelan jujur sama diri sendiri. Kita nggak harus selalu jadi orang yang paling kuat di ruangan. Boleh kok rapuh, boleh kok terlihat lemah. Karena justru dari situ, kita pelan-pelan belajar apa yang benar-benar kita butuhin: batasan, ketenangan, atau mungkin sekadar pelukan dan didengar tanpa dihakimi.
Pada akhirnya, tertawa di tengah rasa sakit itu bukan berarti kita pura-pura bahagia. Kadang itu cara kita bertahan hidup. Tapi jangan lupa, sesekali kasih kesempatan ke diri sendiri untuk berhenti menahan dan benar-benar merasakan. Dari situ, perlahan, hati yang tersakiti bisa belajar pulih, meski bekasnya mungkin tetap ada.