Lemon8Komunitas gaya hidup

Send To

Line
Facebook
WhatsApp
Twitter
Salin tautan

Dapatkan pengalaman lebih lengkap di aplikasi

Temukan lebih banyak postingan, hashtag, dan fitur di aplikasi.

Buka Lemon8
Buka Lemon8
Buka Lemon8
Jangan sekarang
Jangan sekarang
Jangan sekarang
  • Kategori
    • Untuk Anda
    • Beauty
    • Skincare
    • Fashion
    • Travel
    • Food
    • Home
  • Versi aplikasi
  • Bantuan
  • Indonesia
    • Indonesia
    • 日本
    • ไทย
    • Việt Nam
    • Malaysia
    • Singapore
    • US
    • Australia
    • Canada
    • New Zealand
    • UK
Situs web resmiKebijakan privasiPersyaratan LayananCookies Policy
Tapi Hamza tetap berdiri tegap “Saya tahu keadaan kami, Nek. Justru karena tahu, saya tidak pernah minta apa-apa dari Nenek. Termasuk daging itu.” Hening menyergap. Leman hanya bisa mengusap wajahnya yang kusam dengan tangan gemetar. Ia merasa gagal melindungi anaknya dari hinaan itu. Sit
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

“Berantakan sekali rumahmu, Aini. Tidak kau bersihkan, ya? Sudah seperti kandang Ayam.” Kalimat itu mengudara cepat ketika langkah kaki Nenek Siti lebih dulu masuk ke ruang tamu kecil itu. Ia masuk tanpa mengetuk sambil menatap langit-langit rumah dengan raut jijik, seolah ia baru saja menginjak
Author_Putri

Author_Putri

1 suka

“Bu ... sampai kapan Ibu mau bersikap begini pada Ana?” Ibu Salma tidak menoleh. “Sikap yang mana?” “Sikap yang membuat Ana merasa seperti orang asing yang paling berdosa di dunia ini. Ibu tahu kan, Ana itu sangat perasa? Dia tidak akan pernah tega menyakiti Ibu.” Ibu Salma menghela napas
Author_Putri

Author_Putri

1 suka

Dewi menoleh lagi ke arah Rey. “Dia bertaruh nyawa untuk Ibu di saat kamu sibuk mengusirnya. Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah benci melihat mukamu, dan pergi dari sini.” Dewi berdiri, merapikan bajunya. “Masuklah kalau Mas Radit sudah keluar. Bukan untuk meminta dimaafkan, tapi untuk meliha
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

“Mas Radit, kalau adikmu memang cuma mau drama pingsan di sini untuk cari perhatian, mending bawa dia balik ke hotel. Jangan bikin suasana makin keruh.” Radit mengangkat kepalanya ke wajah Rey, amarahnya ketahan. Sebagai kakak, harga dirinya terusik, “Rey, jaga bicaramu. Ana tidak pernah minta p
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

Cinta di Balik Kamar 312
“Anda tidak tahu apa-apa soal perasaan kami!” “Benar. Saya tidak memang tidak tahu apa-apa tentang hubungan kalian. Tapi, saya tahu satu hal.” Radit mengangkat telunjuknya, menekan dada Rey tepat di ulu hati. Kuat dan tegas. “Laki-laki sejati tidak akan membiarkan wanitanya melarikan diri s
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

Cinta di Balik Kamar 312
“Mbak Ana sudah nggak seperti dulu lagi sejak pulang, Kak. Dan sekarang dia tidak di sini ...” Amar kembali menunduk dan meremas jemarinya. “Maksud kamu, Mbak Ana pergi kemana, Mar?” “Mbak Ana tidak ingin Kak Rey atau siapapun orang dari kota tau. Mbak Ana mau menyendiri dulu katanya. Te
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

Tuan salah sambung vs Nona kamar 312
"Bapak pikir harga diri saya semurah itu?” Suara Ana penuh tekanan namun pelan. Pria itu masih mematung dengan posisi kepala masih tertoreh ke samping. Bekas tamparan itu mungkin mencetak jelas dan masih terasa panas yang berdenyut. Tapi, tentu saja tidak sebanding dengan hantaman telak pada
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

Cinta di Balik Kamar 312
Malam itu masih dengan suasana gerimis. Bau tanah b a s a h, Dewi mencoba kembali menelepon Rey. Setelah tadi siang pesannya dibalas, jujur saja ada kerinduan di hati Dewi yang tak bisa dibendung. Sampai membuat hatinya terketuk untuk berbicara, apalagi sejak Rey kembali dari kampung, mereka hanya
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

Cinta di Kamar 312
Rey: Ana, sepertinya pesanan hari ini lebih, ya? Balasan datang cepat. Ana: Iya, sengaja. Sebagai permintaan maaf kami tempo hari. Salah label. Disertai satu emotikon senyum kecil. Rey tersenyum tanpa sadar. Rey: Pelayanan terbaik dari kafe kalian. Sepertinya saya harus kasih lima b
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

Cinta di Balik Kamar 312
“Maaf, Anda salah nomor.” “Salah nomor? Tidak mungkin. Saya sudah cek, ini kamar 315, kan?” “Bukan. Ini kamar312. Anda pasti keliru.” “Tapi alamat dan nomor yang dikirim memang ini. Kamu siapa?” “Anda yang siapa?” Ana menahan napas. “Ini asrama putri Kampus Bima Sakti. Apa ada klien Anda di
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

Satu keberanian, Satu Ancaman kalah telak....
“Kamu berani juga, hubungi aku duluan.” katanya sambil berdiri. Suasana taman kota dengan cahaya siang terbuka, ramai orang lalu-lalang. Tidak ada sudut ge lap untuk salah paham. Farrel sudah duduk di bangku kayu ketika aku datang. Kemeja polos, wajah yang sama seperti terakhir kali, terlalu
Author_Putri

Author_Putri

0 suka

Perang Mulut yang Elegan...
Spoiler Part Premium “Narel, Neda bawain es krim!” serunya ceria dari depan. Mama Nirmala datang. Aku membukakan pintu. Senyumnya lebar dan sopan yang terjaga. Tapi matanya bergerak cepat, me nang kap satu hal penting begitu ia masuk. “Ibu sudah di sini?” katanya, sedikit terkejut. Ibu b
Author_Putri

Author_Putri

1 suka

Tipu Muslihat ( Sepotong Hati Yang Kembali)
Hi! Aku baru di Lemon8! Hal yang aku sukai… Aku ingin posting… Ketahui aku lebih lanjut #FirstPostOnLemon8 #Hello2026 #GoodBye2025 #PengalamanKu #cerita ‎“Lucu sekali,” ujarnya pelan. “Sepertinya aku datang di waktu yang tepat?” ‎ ‎Dave menelan ludah. “Kami cuma membicarakan re
Author_Putri

Author_Putri

1 suka

Author_Putri
60Mengikuti
21Pengikut
4Suka dan simpan

Author_Putri

Kalau suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalin jejak ya.😊 Semoga terhibur🌹