... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali aku dengar istilah liminal space, aku cuma tahu dari gambar-gambar aesthetic di internet: koridor kosong, tangga darurat sepi, parkiran malam hari, atau jalanan lengang. Ternyata, arti liminal lebih dalam dari itu. "Liminal" sendiri berasal dari kata Latin "limen" yang artinya ambang/batas. Jadi, liminal space adalah ruang peralihan atau transisi, baik secara fisik maupun psikologis.
Buat aku pribadi, liminal space kerasa banget justru di dalam hidup, bukan cuma di foto-foto. Misalnya saat hidup terasa kosong, pekerjaan jalan tapi nggak bikin bahagia, hubungan sama orang lain datar, dan setiap hari terasa kayak mode auto-pilot. Di luar kelihatan baik-baik aja, tapi di dalam hampa. Dulu aku kira ini tanda aku gagal atau tertinggal, tapi belakangan aku sadar: bisa jadi ini tanda aku lagi di ambang level up.
Kalau kamu lagi nanya, "apa itu liminal space dalam hidup sehari-hari?" bayangin fase-fase ini:
- Baru resign, tapi belum dapat kerja baru
- Baru putus, tapi belum siap buka hati lagi
- Baru lulus, tapi belum jelas mau ke mana
- Berhenti dari kebiasaan lama, tapi kebiasaan baru belum kebentuk
Semua fase itu nggak nyaman. Identitas berasa goyah, masa depan nggak jelas, dan hati sering ngerasa takut. Dari yang aku pelajari, ini sebenarnya ruang transisi antara kekacauan dan transformasi. Kayak gambar perahu merah kosong di air tenang: kelihatannya sepi, tapi justru di situ ada kesempatan buat akses bawah sadar, melepas masa lalu, dan mulai bangun identitas baru.
Waktu aku berada di liminal space versiku sendiri, ada beberapa hal yang cukup membantu:
1. Mengakui perasaan hampa.
Bukan pura-pura kuat, tapi jujur: "iya, aku lagi kosong dan bingung". Aneh banget kalau kita lagi di ruang transisi tapi pura-pura semua baik.
2. Nggak buru-buru lari dari ketidakpastian.
Dulu aku selalu ingin cepat-cepat "keluar" dari rasa nggak nyaman. Sekarang aku belajar duduk sebentar di sana, observasi diri, dan nanya apa yang sebenarnya mau aku ubah.
3. Mulai ngobrol dengan diri sendiri (atau profesional).
Buat sebagian orang, ini bisa lewat journaling, meditasi, hipnoterapi, atau konseling. Intinya, mengakses pikiran bawah sadar yang selama ini menyimpan belief lama yang udah nggak relevan.
4. Mengingat bahwa liminal space itu sementara.
Kayak koridor dengan lampu "EXIT" di ujungnya: fungsinya memang jadi jalan lewat, bukan tempat tinggal selamanya. Perasaan hampa dan stagnan bisa jadi tanda kamu lagi dipersiapkan menuju versi terbaik dari dirimu yang baru.
Jadi kalau sekarang kamu merasa hidupmu terasa kosong dan seolah-olah lagi berdiri di ambang pintu yang gelap, coba lihat dari sudut pandang lain: mungkin kamu lagi ada di liminal space, dan ini bukan akhir, tapi pintu menuju level up berikutnya.