cerita dari Jawa Barat
Desa Kabut dan Penunggu Leuwi
Di kaki Gunung Salak, terpencil di antara hutan bambu yang lebat, terdapat sebuah dusun kecil bernama Kampung Ciaruteun. Warga setempat jarang bercerita tentang dusun ini kepada orang luar, kecuali satu hal: "Jangan pernah berjalan sendirian setelah azan Isya, apalagi jika kau mendengar suara gamelan dari arah sungai."
Rian, seorang fotografer muda dari Jakarta, tidak mempercayai takhayul itu. Ia datang ke Ciaruteun untuk mengejar momen "golden hour" di sebuah curug (air terjun) yang belum terjamah pariwisata. Ia tiba sore hari dan disambut oleh Pak Asep, tetua kampung yang wajahnya selalu tampak cemas.
"Nden, kalau mau foto, selesai sebelum Maghrib," kata Pak Asep sambil menyeduh teh panas. "Kabut di sini bukan cuma uap air. Kadang, dia membawa mereka pulang."
Rian hanya tersenyum sopos. "Saya cuma butuh satu jam, Pak. Janji saya langsung balik ke homestay."
Sore itu, langit berwarna jingga kemerahan, indah namun terasa menyesakkan. Rian berjalan menyusuri setapak berlumut menuju air terjun. Suasananya hening, terlalu hening. Tidak ada suara jangkrik atau burung, hanya desir angin yang menembus rumpun bambu, terdengar seperti bisikan-bisikan halus.
Saat ia sampai di tepi leuwi (kolam alami di bawah air terjun), matahari sudah mulai tenggelam. Kabut putih tebal tiba-tiba turun dengan cepat, menyelimuti seluruh area dalam hitungan menit. Visibilitas Rian berkurang drastis.
"Gling... gling..."
Suara itu samar-samar terdengar. Seperti dentingan lonceng kecil, atau mungkin gelang kaki. Rian menoleh ke kiri dan kanan. Kosong. Hanya kabut dan deru air yang kini terdengar lebih keras, seolah-olah airnya marah.
Tiba-tiba, dari balik tirai kabut di seberang sungai, terlihat sosok wanita berdiri diam. Ia mengenakan kebaya putih kusam yang basah kuyup, rambutnya panjang terurai menutupi wajah. Sosok itu tidak bergerak, hanya berdiri menghadap Rian.
"Halo? Ada orang?" panggil Rian, suaranya gemetar sedikit.
Sosok itu perlahan mengangkat tangan, menunjuk ke arah jembatan kayu rapuh di sebelah kiri Rian. Seolah mengajaknya menyeberang.
Rian teringat peringatan Pak Asep. Jantungnya berdegup kencang. Ia memutuskan untuk mundur perlahan. Namun, saat ia berbalik, jalan setapak yang tadi ia lalui telah hilang. Yang ada hanyalah tebing curam dan semak belukar yang rapat. Kabut seolah mengubah arah mata angin.
"Kembaliii... temani aku..."
Suara itu kini jelas terdengar di telinganya. Bukan lagi bisikan, tapi desisan dingin yang berasal dari tepat di belakang lehernya. Bau anyir darah dan bunga melati yang busuk menyeruak kuat.
Rian memberanikan diri menoleh ke belakang.
Wajah itu sudah ada di sana. Wajah pucat dengan mata hitam pekat tanpa putih, dan mulut yang tersobek hingga ke telinga, tersenyum lebar menunjukkan gigi-gigi runcing. Itu adalah Sundel Bolong, arwah penasaran yang konon sering menghantui wilayah aliran sungai di Jawa Barat.
"Tolong!" teriak Rian sambil terjatuh ke tanah berlumpur.
Sosok itu melayang mendekat, tangan panjangnya yang berkuku hitam menjulur hendak mencengkeram leher Rian. Di kejauhan, suara gamelan semakin nyaring, mengiringi langkah sang arwah.
Tiba-tiba, terdengar suara azan Maghrib yang dikumandangkan dari musholla kecil di ujung kampung, terdengar sayup-sayup menembus kabut.
Sosok itu menjerit kesakitan, suaranya melengking tinggi memecah gendang telinga. Asap hitam keluar dari tubuhnya saat cahaya redup dari lampu minyak warga mulai terlihat menembus kabut. Sosok itu perlahan surut, terseret kembali ke dalam kegelapan leuwi, meninggalkan Rian yang terkapar lemas.
Pak Asep dan beberapa warga menemukan Rian pagi harinya, menggigil kedinginan di tepi sungai, kameralnya rusak total seolah terkena air mendidih.
"Sudah kubilang, Nden," ucap Pak Asep sambil membantu Rian berdiri, wajahnya serius. "Orang Sunda punya aturan: Hormat pada yang gaib, jangan sok berani. Alam kami hidup, dan mereka yang menjaga alam ini tidak suka diganggu."
Sejak hari itu, Rian tidak pernah lagi mengambil foto di tempat asing tanpa izin penjaga setempat. Dan setiap kali ia mendengar suara gemerincing logam atau bau melati busuk di malam hari, ia akan segera membaca doa, mengingat tatapan kosong wanita berbaju putih di tepi Leuwi Ciaruteu








































Lihat komentar lainnya