Aku tau ini bakal timbul pro dan kontra, tapi disini aku mau speak up atas apa yang udah aku pelajari..
So,,Siapa nih yang dirumahnya, atau ortunya, atau sodara nya yang masih menganut budaya patriaki? Bagi yang sudah menganut budaya ini dan tidak keberatan, ya it’s oke, itu hidup kalian.. TETAPI, jika kalian sudah menganut budaya ini dan kalian merasa keberatan, kalian wajib diskusikan hal ini, agar tidak ada rasa “dibabukan” oleh pihak manapun yaa.. semangat❤️ #MyRelationshipStory#relationship#patriarchy#lemonadefashionqueen#StyleItYourWay #couplestory #lemonadehijabtalks #lemonadehijabtalks2023 #TanyaJawabdiLemon8
2025/9/4 Diedit ke
... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku juga pernah mikir, “Apa aku salah pilih suami sampai rasanya kayak jadi babu di rumah sendiri?” Bangun paling pagi, tidur paling akhir, semua kerjaan rumah dipegang, tapi dihargai pun kayak enggak. Dari situ aku pelan‑pelan sadar, masalahnya bukan cuma di aku, tapi di pola pikir patriarki yang udah numpuk dari dulu.
Banyak laki‑laki penganut patriarki diajarin sejak kecil kalau tugas perempuan itu: mengandung, melahirkan, menyusui, masak, beres‑beres, ngurus anak, dan mereka tinggal kerja cari uang. Padahal, hakikat perempuan yang berkaitan sama tubuh (menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui) memang enggak bisa digantikan, tapi kerjaan rumah kayak nyapu, ngepel, cuci piring, ganti popok, masak simpel, itu semua bisa dipelajari siapa saja – baik istri maupun suami.
Aku mulai dari hal paling sederhana: ngobrol dari hati ke hati. Bukan marah‑marah, tapi cerita jujur, “Aku capek, aku merasa lebih kayak babu daripada istri.” Lalu aku jelasin kalau pernikahan itu kerjasama, bukan atasan–bawahan. Aku ajak dia bikin list tugas rumah, lalu bagi bareng. Misalnya, dia bagian cuci piring & buang sampah, aku bagian masak & nyetrika. Kalau dua‑duanya kerja, berarti dua‑duanya juga wajib ikut turun tangan di rumah.
Kalimat yang paling sering aku pakai ke diri sendiri adalah: “Istri bukan babu.” Jadi kalau ada yang nyeletuk, “Namanya juga istri, ya harus nurut sama suami apa pun,” aku sekarang berani jawab halus, “Istri itu partner hidup, bukan pembantu pribadi.” Kita tetap bisa patuh dan menghormati suami tanpa menghapus martabat sendiri.
Kalau kamu merasa sudah terlanjur terjebak dan takut mengungkapkan, kamu bisa mulai dengan:
1. Tulis dulu unek‑unekmu biar saat ngobrol tidak meledak.
2. Pilih waktu saat suasana tenang, bukan pas dia lelah atau emosi.
3. Fokus ke perasaanmu, hindari kalimat menyalahkan. Contoh: “Aku sedih kalau semua kerjaan rumah dibebanin ke aku sendirian.”
4. Ajak dia melihat fakta: kamu juga bisa capek, sakit, atau butuh istirahat.
Kalau setelah diajak diskusi, dia mau berubah pelan‑pelan, hargai setiap progres kecil. Tapi kalau dia tetap keras kepala dan menganggap istri wajar jadi babu, di situ kamu perlu mempertimbangkan batas toleransimu sendiri. Yang jelas, kamu tidak salah hanya karena ingin diperlakukan sebagai manusia seutuhnya, bukan babu. Kita berhak bahagia dan dihargai di rumah kita sendiri.
sejauh 23 tahun aku hidup, ga pernah melihat sisi baik dari budaya patriarki, outputnya sangat menyudutkan wanita