JODOH UNTUK GUS ZAIN 2
Pagi itu suasana riuh memenuhi kelas dua tingkat diniyah. Bagaimana tidak, gus yang telah lama ditunggu akhirnya datang beberapa hari yang lalu dan kabarnya akan mengajar hari ini.
Tentu saja para santri putri kegirangan mendengarnya, terutama murid kelas dua tingkat diniyah. Rasa penasaran yang melanda mereka sebentar lagi akan segera terobati. Mereka sudah tak sabar ingin melihat seperti apa paras putra kyai yang terkenal tampan itu.
Dari jauh tampak seorang laki-laki melewati halaman sekolah diniyah dengan penuh wibawa. Rambutnya sedikit gondrong namun rapi tertutup kopiah berwarna putih senada dengan warna kemejanya.
Wajahnya bersih dengan aura yang mempesona. Dengan membawa beberapa kitab yang didekap di dadanya, ia berjalan menuju ruang kelas dua.
Tak hanya mencuri perhatian kelas dua saja, bahkan semua murid dari kelas satu dan kelas tiga melongo keluar jendela karena terpesona pada ketampanan Gus Zain. Tak ayal guru yang sedang mengajar marah-marah karena tak diperhatikan.
"Hei, ayo semuanya perhatikan! Ini masih jam pelajaran ya," teriak Ustadz Saiful yang mengajar di kelas satu. Ia menjadi jengkel karena perhatian mereka tersita pada kedatangan Gus Zain.
"Aduh ganteng banget ih," seru salah satu santri putri.
"Iya, lesung bolongnya gak nahan euy, kayak oppa Korea," timpal yang lain.
Berbagai komentar kekaguman akan sosok sang Gus membahana di seluruh penjuru kelas. Gus Zain yang jadi pusat perhatian hanya tersipu.
Sesekali melirik pada santri yang berani berteriak memanggil namanya, dan mereka akan bersorak tatkala Gus Zain melempar senyum membalas mereka.
Awalnya, tugas mengajar di santri putri masih seminggu lagi, mengingat masih harus menyesuaikan jadwal asatidz yang lain dan mata pelajaran yang pas untuk diajarkan. Namun, karena tiba-tiba ada seorang ustadz yang izin libur, akhirnya mau tidak mau Gus Zain harus menggantikannya untuk sementara.
Di sisi lain, seorang santri putri baru saja keluar dari kamar mandi sambil meringis memegangi perutnya. Ini sudah ketiga kalinya ia bolak-balik kamar mandi untuk buang air besar.
Suasana sepi. Memang sudah jam masuk. Bel telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Sebenarnya, tadi ia sudah bersiap dengan temannya yang lain. Namun, tiba-tiba perutnya mulas, ia urung masuk kelas malah berlari menuju kamar mandi.
"Gara-gara rujakan semalam nih, perutku mules banget," gumamnya masih memegangi perutnya.
Matanya membulat saat melihat jam di pergelangan tangannya. Sadar sudah terlambat, secepat kilat ia berlari menuju kelasnya.
"Hari ini waktunya Ustadz Bahri yang terkenal disiplin dengan waktu, semoga saja belum datang," batinnya.
Gadis itu memang biangnya terlambat. Tak terhitung berapa kali ia mendapat takzir karena keterlambatannya. Baik di sekolah maupun di musholla saat pengajian kitab dan salat berjemaah.
Dengan kecepatan penuh, Ayin -nama gadis itu- berlari menuju kelasnya. Namun ketika sampai di depan kelasnya...
Bruuk!
Ayin terperangah, kepalanya membentur bahu seseorang yang berdiri di pintu masuk. Dan orang itu adalah Gus Zain.
"Minggir dong!" teriak Ayin yang belum sadar akan kehadiran putra kiyainya itu.
Gus Zain berbalik dan menatapnya. Emosi Ayin yang hampir meluap seketika hilang. Wajahnya berubah drastis menjadi cerah.
"Siapa dia? Ganteng banget."
Bersambung...
Judul: Jodoh untuk Gus Zain
Penulis: Umma Mafaza


































































