NAFKAH YANG TERAMPAS 3
Membalas
"Mas bisa cari tahu sendiri ke mana perginya semua uang itu," ucap Savitri lirih. Ia berbalik, menyerahkan sebuah buku tabungan kusam dan selembar kartu plastik berwarna biru padaku.
Aku menerima benda itu dengan tangan gemetar. Namun, seolah kartu ini menyimpan bara yang siap membakar sisa-sisa kewarasanku yang masih tersisa.
*
Malam semakin larut. Di dalam kamar yang pengap dan hanya diterangi lampu pijar kekuningan, Savitri sudah terlelap. Tubuhnya miring ke arah dinding, membelakangiku. Napasnya pelan dan teratur, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihantam tuduhan keji oleh suaminya sendiri.
Aku masih terjaga. Duduk di tepi kasur lantai yang tipis, punggungku bersandar pada tembok dingin yang lembap. Lampu di langit-langit berkedip sesekali, seolah ikut lelah menyaksikan rumah ini bertahan dari lapuk.
Buku tabun gan dan kartu A T M itu masih di genggamanku. Belum kubuka. Entah kenapa ada ketakutan besar yang menahan jemariku. Aku belum siap melihat kenyataan yang mungkin akan menghancurkan bakti yang selama ini kujunjung tinggi.
Tanganku justru meraih ponsel. Layar menyala, memantulkan bayangan wajahku sendiri yang terlihat asing, letih, dan penuh tanya. Tanpa sadar, jariku membuka aplikasi hijau, lalu mengetuk lingkaran status WhatsApp milik Ibu.
Satu per satu unggahan muncul.
Tas bagus dengan logo mengilap. Perhiasan emas yang melingkar tebal di pergelangan tangan Ibu. Lalu, sebuah video pendek di depan sebuah rumah megah, berpagar besi tinggi minimalis, lantai granit yang berkilat, dan lampu-lampu taman yang terang benderang.
"Alhamdulillah, rezeki anak saleh," tulis Ibu di sana.
Dadaku menegang. Jariku menggulir lagi ke status adik laki-lakiku, pemuda yang baru lulus sekolah dan belum punya pekerjaan tetap. Tawa riang pecah di videonya. Meja makan penuh hidangan, daging, seafood, hingga minuman berwarna-warni di gelas tinggi. Lalu video singkat dari dalam kabin mobil yang harum, musik keras berdentum, sementara lampu kota berlarian di luar jendela.
Layar ponsel kembali menampilkan status adik perempuanku yang sudah menikah. Di sana ada banyak makanan enak di meja makan sebuah ruang makan yang terlihat rapi dan mewah. Lalu video anak perempuannya sedang bermain sepeda yang terlihat masih baru.
Seolah dunia mereka tak pernah mengenal kata kekurangan. Berbanding terbalik dengan satu piring ikan asin rendaman air panas yang mungkin setiap hari masuk ke perut putriku.
Aku menelan ludah. Ada sesuatu yang terasa salah. Seperti potongan puzzle yang dipaksa masuk ke tempat yang bukan miliknya.
Jariku berhenti di ruang obrolan dengan adikku. Percakapan terakhir kami terjadi beberapa bulan lalu. Aku men-scroll ke atas perlahan.
"Dek, kirim foto Shopia dong. Kangen," tulisku waktu itu.
Lalu balasan muncul di layar. Sebuah foto. Shopia duduk di kursi restoran mewah. Di depannya ada sepiring makanan lengkap, terlalu mewah untuk ukuran anak kecil di kampung. Wajahnya menghadap kamera. Tersenyum.
Aku menatap foto itu lama sekali. Lalu, aku memperbesar gambarnya. Mataku menyipit, jantungku mulai berdentum tidak keruan.
Senyum Shopia di foto itu terlihat kaku. Tangannya tidak memegang sendok, hanya diletakkan di atas paha. Dan piring itu posisinya terlihat tidak alami, seolah hanya diletakkan sebentar untuk keperluan potret. Atau bahkan mungkin foto hasil rekayasa?
“Kalau dia sering makan mewah seperti ini, kenapa tadi dia bilang sosis itu makanan paling enak yang pernah dia makan?”gumamku pelan, nyaris tak terdengar.
Hanya keheningan yang menjawab pertanyaanku. Di belakangku, Savitri tetap terlelap dalam diamnya yang misterius. Di tanganku, ponsel terasa semakin berat, seberat rahasia yang mulai tersingkap satu per satu.
*
Baca selengkapnya di KBM App
Judul : Nafkah yang Terampas
Penulis Isna Arini


























































