KAU REBUT SUAMIKU, KUNIKAHI KAKAKMU 3
“Yun? Kamu kok di sini?”
“Kebetulan lewat terus mampir. Entah kenapa tiba-tiba aku pingin makan es krim,” jawab Ayunda ringan. “Mau beli apa?”
“Ah, ini … camilan doang.” Wulan mengangkat keranjang kecilnya.
“Oh."
Senyum Ayunda tetap hangat. Persis seperti dulu. Kini mereka duduk di bangku panjang depan minimarket.
“Yun, kamu keliatan capek,” kata Wulan, pura-pura perhatian.
“Iya. Kamu tuh emang paling perhatian. Tanpa aku cerita pun bisa langsung tau." Ayunda terkekeh sambil mengaduk es krimnya. “Lan, nginep di rumahku, yuk. Mas Yogi dinas luar kota. Nggak enak banget rasanya sendirian. Mumpung dia nggak ada, kita bisa senang-senang kayak zaman kuliah dulu."
“Aduh, sayang banget aku nggak bisa. Soalnya aku juga mau ke luar kota malam ini bareng mama."
"Yah, sayang banget. Padahal aku mau cerita banyak sama kamu."
"Abis aku balik aja."
"Ya udah. Nggak papa. Emang kamu mau ke mana?”
“Ban— eh Magelang. Tiga hari.”
"Oh, Magelang. Kalau Mas Yogi ke Surabaya."
Surabaya.
Padahal koper Yogi berisi jaket tebal untuk Bandung. Dan Wulan berbohong kalau ia akan ke Magelang. Ayunda terkekeh dalam hati.
“Semoga lancar ya dinasnya,” kata Wulan.
“Amin.”
Ayunda menatap sahabatnya itu lebih lama dari biasanya.
“Lan,” ucapnya pelan, “menurut kamu, orang bisa nggak sih selingkuh sama pasangan sahabatnya sendiri?”
Wulan tersedak kecil. “Maksud kamu?”
“Aku baca artikel,” Ayunda mengangkat bahu santai. “Katanya perselingkuhan paling sering justru sama orang terdekat. Sahabat sendiri.”
Wulan tertawa, tapi nadanya tipis. “Ih, kamu kebanyakan baca yang aneh-aneh.”
“Kalau kamu tahu ada sahabat kayak gitu,” lanjut Ayunda, “kamu bakal jujur nggak ke temennya?”
“Tergantung .…” Wulan menjilat bibirnya yang tiba-tiba kering. “Kalau nggak ada bukti, bahaya. Bisa merusak rumah tangga orang."
“Kalau ada bukti?”
Wulan terdiam. “Yun, kamu kenapa sih?” suaranya mulai tak tenang meskipun samar.
Ayunda tersenyum lembut. “Nggak kenapa-kenapa. Cuma penasaran.”
Hening beberapa detik. Ayunda memutuskan menusuk lebih dalam.
“Lan, anting kamu yang aku kasih dua tahun lalu masih ada?”
Wajah Wulan langsung berubah. “Anting?”
“Iya. Yang bentuk bunga. Custom. Ada inisial kita.”
“Oh .…” Wulan tertawa kecil, terlalu dipaksakan. “Itu ilang, Yun. Udah lama. Aku lupa bilang.”
“Ilang?” Ayunda memiringkan kepala. “Di mana?”
“Nggak tahu. Kayaknya jatuh pas aku jalan sama temen.”
“Temen kantor?”
“Iya.”
Bohong.
Ayunda merasakan detak jantungnya stabil. Tidak lagi kacau seperti dua hari lalu. Seperti saat ia baru mengetahui perselingkuhan suami dan sahabatnya.
Karena sekarang, ia tidak lagi mencari kebenaran. Ia sudah menemukannya.
“Sayang banget,” kata Ayunda lirih. “Padahal itu simbol persahabatan kita.”
“Iya … maaf ya.”
“Gak apa-apa.” Senyum Ayunda tipis. “Ngasi hadiah itu kan harus ikhlas.”
Ponsel Wulan bergetar.
Ia melihat layar, lalu cepat-cepat membalikkan ponselnya.
“Bos?” tanya Ayunda santai.
“Iya … nanyain laporan.”
Ayunda tahu itu bukan bos. Tanpa perlu diberi tahu pun ia sudah bisa menebaknya. Mungkin ini yang dinamakan dengan firasat.
“Lan,” ucap Ayunda tiba-tiba, “kamu percaya karma?”
Wulan menatapnya. “Kenapa? Kok tiba-tiba nanyain itu?”
“Karena aku percaya. Apa yang kita ambil dari orang lain, suatu saat akan diambil juga dari kita.”
Suasana berubah dingin.
Wulan tersenyum kaku. “Kamu serem deh, Yun.”
Ayunda tertawa pelan. “Bercanda.”
Mereka berdiri hampir bersamaan.
Sebelum berpisah, Ayunda mendekat dan memeluk Wulan. Erat. Wulan kaku di pelukannya.
Di dekat telinga sahabatnya itu, Ayunda berbisik sangat pelan— “Jaga baik-baik yang kamu pinjam ya, Lan. Jangan sampai rusak. Soalnya kalau rusak, aku nggak mau lagi.”
Bersambung.
Judul: Kau Rebut Suamiku, Kunikahi Kakakmu
Penulis: D'wie
Aplikasi: KBM


































































