... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku termasuk tipe istri yang gampang banget bilang, “Kok gajinya segini doang?”, atau, “Istri lain bisa jalan-jalan, aku kapan?” Tanpa sadar, kalimat-kalimat begitu bikin suami jadi ngerasa gagal dan rumah kerasa sempit, padahal penghasilan sama aja.
Satu waktu, aku lihat foto pasangan suami istri berdiri membelakangi kamera, memandang danau dengan pegunungan hijau, dengan tulisan besar: “HAL KECIL INI BIKIN SUAMI KAMU MAKIN MISKIN.” Kebangun banget rasanya. Ternyata, yang bikin rezeki serasa seret itu bukan cuma soal angka, tapi soal sikap: mengeluh, nggak menghargai nafkah suami, boros dan suka pamer.
Tentang “jangan katakan istri boros”, aku sekarang berusaha mulai dari diri sendiri. Aku bikin catatan pengeluaran, bedain mana kebutuhan dan mana sekadar gengsi. Dulu gampang banget kebawa tren, lihat orang lain upgrade HP, aku ikut-ikutan. Sekarang, kalau lagi pengen sesuatu, aku tanya dulu ke diri sendiri: ini buat hidup atau buat dilihat orang? Pelan-pelan, rasa pengen pamer malah jadi malu sendiri.
Soal gaya hidup, aku juga pernah ada di fase suka bandingin suami sendiri dengan suami orang lain. Lihat pasangan lain liburan terus, rasanya iri. Tapi setelah banyak dengar kata bijak tentang rezeki dan usaha sendiri, aku sadar: setiap rumah punya ujiannya. Suami sudah kerja keras dengan caranya, tugasku itu menghargai, bukan merendahkan. Banyak istri, banyak rezeki itu bukan soal jumlah istri, tapi banyaknya doa dan dukungan yang menyertai langkah suami.
Sekarang aku coba ubah, seperti di salah satu gambar yang pernah aku lihat: “Biar rezeki makin lancar, coba ubah jadi begini: bersyukur, mendoakan suami, menjaga rumah dari keluhan/boros, zikir/sedekah bersama.” Praktiknya, tiap suami berangkat kerja aku sempatkan doakan dia: dimudahkan pekerjaannya, dijauhkan dari lelah yang sia-sia, dan rezekinya berkah. Malamnya, sebelum tidur kami usahakan zikir bareng, sedekah semampunya, walau sedikit tapi rutin.
Yang aku rasakan setelah mengubah kebiasaan kecil itu: suasana rumah lebih tenang, suami lebih semangat cerita soal kerjaan, dan aku sendiri lebih legowo ketika keinginan nggak langsung terpenuhi. Rezeki mungkin secara angka nggak melonjak drastis, tapi rasa cukup itu yang makin besar. Dan di situ aku baru paham, berkah itu kadang bukan datang dalam bentuk uang lebih, tapi hati yang lebih tenang dan keluarga yang lebih rukun.
Kalau kamu lagi di fase sering mengeluh atau merasa rezeki suami seret, coba cek dulu: jangan-jangan ada kebiasaan kecil yang perlu diberesin. Nggak perlu langsung sempurna, tapi mulai dari satu langkah: kurangi mengeluh, tambah syukur, doakan suami lebih sering. Pelan-pelan, insyaAllah Allah jaga rezeki keluarga lewat hati istri yang dijaga.