Sedih banget loh😭
MALU MENGAKUI SANG IBU, SEORANG ANAK TAK KUNJUNG PULANG
BAB 1
Tak ada yang lebih sunyi dari seorang ibu yang menunggu dalam diam.
Seperti sore itu. Angin membawa aroma tanah basah dan sisa hujan semalam. Teras rumah yang mulai lapuk tetap menjadi panggung bagi satu ritual yang tak pernah absen, dia duduk, menatap jalan, berharap.
"Sepertinya anak ku sibuk," ucapnya lirih.
Tak ada yang istimewa dari teras itu, hanya lantai semen berlumut, kursi kayu yang kini hanya kuat menyangga setengah tubuh, dan meja kecil yang mengingatkan akan masa lalu yang terlalu cepat berlalu.
Namun, di sanalah Ranti meletakkan seluruh hidupnya.
Setiap hari, pukul lima sore, ia duduk di sana. Selalu dengan selembar foto yang mulai memudar dalam genggamannya, potret seorang pemuda berkaus putih, tersenyum canggung, dengan mata yang menyimpan mimpi. Bayu, anak semata wayangnya. Yang pergi membawa janji dan tak pernah kembali membawa kabar.
Sudah tujuh tahun. Tapi bagi Ranti, waktu tak pernah benar-benar berjalan. Ia terjebak di antara kenangan dan harapan yang makin samar.
“Kamu masih suka teh hangat, Nak?” gumamnya lirih. Suaranya tenggelam oleh desir angin dan suara ayam pulang kandang.
Bayu pergi setelah lulus SMA. Dengan tas ransel pinjaman dan pelukan terburu-buru, ia berpamitan, sepertinya dia takut jika bakal di tahan oleh sang Ibu.
Katanya ingin mencari kerja di Jakarta. “Sebulan-dua bulan lagi, aku pulang. Bawa kabar baik, Bu,” katanya, senyumnya penuh percaya diri.
Tapi sebulan berubah menjadi tahun. Dan tahun-tahun itu membatu dalam kesepian.
Ranti tak pernah benar-benar sendiri. Ia ditemani bayang-bayang anaknya. Di kamar Bayu yang tak pernah dikunci, seprai tetap rapi, baju-bajunya masih tergantung, bahkan sepatu robek yang dulu dipakainya untuk lari pagi masih tersimpan di bawah ranjang.
Tetangga kerap berkata, “Mungkin Bayu sudah punya hidup baru, Ran. Sudahlah…”
Tapi Ranti hanya mengangguk dan tersenyum. Ia tahu orang lain tak akan mengerti. Penantian bukan soal logika. Ia soal hati.
Setiap ulang tahun Bayu, ia memasak nasi kuning dan telur dadar kesukaannya. Ia letakkan di meja makan, di kursi tempat Bayu biasa duduk. Ia tahu itu sia-sia. Tapi bagaimana mungkin seorang ibu berhenti berharap?
Malam itu berbeda. Hujan turun rintik-rintik. Langit tampak berat, seperti ikut memikul beban yang selama ini dipendam Ranti.
Lampu teras berkedip lemah. Lilin kecil menyala di samping foto Bayu. Ranti menggenggam buku doa lusuh yang selalu diselipkan di saku bajunya. Di balik sampulnya, ada secarik kertas, ada tulisan tangan Bayu yang dulu ia selipkan tergesa.
“Bu, tunggu aku, ya. Aku pasti balik. Mau beliin Ibu kebaya baru dari gaji pertama.”
Air mata Ranti jatuh tanpa suara. Ia mencium kertas itu seperti mencium kening anaknya.
“Kalau kamu marah, waktu itu Ibu larang kamu pergi… Ibu cuma takut. Kota itu besar. Dan Ibu bukan siapa-siapa. Kalau kamu hilang, Ibu harus cari ke mana?”
Hening. Hanya bunyi kodok dari sawah dan sesekali gemeretak genting tua.
Ranti menatap jalan yang masih basah. “Kalau kamu pulang duluan, Nak, tunggulah Ibu di sana…”
Malam makin larut. Ranti hampir terlelap, ketika suara langkah terdengar dari kejauhan. Pelan… berat… ragu-ragu.
Jantungnya langsung terbangun. Ia membuka mata, tubuhnya kaku menahan harap. Langkah itu makin dekat. Dari balik kabut dan sisa gerimis, tampak sosok berdiri di ujung jalan. Diam. Tak menyapa. Tak membawa apa-apa.
Ranti menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas. “Bayu?” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Sosok itu tetap diam. Lalu melangkah... sekali... dua kali... lalu berhenti.
Ranti berdiri dengan langkah gontai. Tangannya gemetar. Tapi sebelum ia bisa maju, sosok itu perlahan berbalik dan mulai berjalan menjauh. Masuk ke dalam gelap.
“Bayu...!” teriak Ranti, suaranya nyaris patah.
Namun, malam hanya menjawab dengan kesunyian.
Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, selembar foto kecil tergeletak basah.
Bukan miliknya.
Foto itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Wajah Bayu tampak lebih dewasa, lebih tirus, dengan sorot mata yang asing. Di balik foto itu, tertulis dengan tinta yang sudah luntur air,
“Maaf, Bu. Aku belum bisa pulang.”
Dan saat Ranti memungut foto itu dengan tangan gemetar, ia tak menyadari...
Dari kejauhan, sosok yang tadi berdiri, kini berdiri sendiri lagi.
Tapi ia tak sendiri. Karena di belakangnya, ada bayangan lain muncul. Tinggi. Tegap. Tak terlihat wajahnya.
Dan dari kegelapan, suara berat menggumam,
“Sudah waktunya.kita ambil tanahnya,"
—Bersambung—
Judulnya; Nak, kapan kamu pulang?
Karya Fransdudik
Kbm










