Ini kisah salah satu teman sekaligus mantan tetanggaku. Belio merupakan pejuang garis 2 hampir 10 tahun. Waktu itu blio minta maaf karena belum sempat jenguk bayiku. Tapi pas aku tahu alasannya—yang habis operasi pengangkatan miom— aku jadi sedih. Padahal aku lagi "setengah gila" jadi newmom, tapi rasanya pengen peluk blio karena aku baru sadar keremponganku ini adalah nikmat luar biasa 🥺
Namun, yang lebih hebat adalah ketegaran dan kesabarannya menghadapi kondisi ini. Blio gak banyak ngeluh, tapi justru jadi refleksinya untuk semakin dekat dengan Allah. Aaakh..makin tertampar yekaaan 🥲
"Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah berupa sakit atau yang lainnya, kecuali Allah akan menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya"
(HR. Bukhari dan Muslim)
Buat aku, ini bukan sekedar sakit temanku, tapi hikmahnya jadi pengingat luar biasa buatku.
Oya, gak lama setelahnya temenku dan suaminya ini diundang ke Baitullah loh. Padahal sebelumnya mungkin tampak mustahil baginya mengingat kondisi fisik, mental, dan finansialnya. Masyaallah tabarakallah, cara Allah menghibur memang luar biasa 🥺
Lemonades, pernah gak dapat pelajaran berharga justru dari sakitnya orang lain?
... Baca selengkapnyaSebagai IRT, jujur dulu aku termasuk yang sering banget bilang, "Sakit banget ya Allah" tiap badan mulai nggak enak. Apalagi kalau lihat tangan habis diinfus, penuh bekas tusukan jarum, rasanya langsung down. Sampai suatu hari aku lihat foto miom ukuran cukup besar (sekitar belasan cm) yang diangkat dari rahim temanku sendiri. Di situ aku benar-benar mikir ulang tentang makna sakit dan ujian.
Waktu itu dia kirim foto tangannya yang lagi diinfus di rumah sakit, plus wadah berisi miom yang baru diangkat. Katanya, "Miom ini sudah pergi, semoga Allah ganti dengan titipan terbaik." Padahal sebelumnya dia hampir 10 tahun jadi pejuang garis dua. Di posisi itu, banyak orang mungkin akan protes sama Allah. Tapi dia justru nulis, "Allah kasih sakit ini mungkin supaya aku lebih dekat sama-Nya." Dari situ aku pelan-pelan belajar berhenti mengeluh berlebihan.
Kalau lihat gambar kamar rumah sakit, tiang infus, atau tangan diinfus, sekarang rasanya beda. Dulu yang kubayangkan cuma rasa perih dan capek. Sekarang aku jadi ingat bahwa setiap sakit itu bisa jadi penggugur dosa, seperti hadis yang aku tulis di cerita awal. Bahkan, kadang justru dari kasur rumah sakit seseorang mulai rajin doa, murojaah, dan merenungi hidupnya.
Aku juga sempat kepikiran soal ukuran miom yang besar. Di satu sisi ngeri, di sisi lain aku jadi sadar kalau tubuh ini amanah banget. Temanku cerita, selama ini dia suka menyepelekan nyeri haid, gampang skip cek kesehatan karena sibuk kerja dan urus rumah. Baru ketika sakitnya makin parah dan harus operasi, dia merasa ditempelak: tubuhmu ini titipan, bukan milikmu sepenuhnya.
Kalimat yang paling membekas dari dia kurang lebih begini, "Ternyata Allah bisa banget mengubah sesuatu yang aku anggap musibah jadi jalan pulang mendekat ke-Nya." Setelah operasi dan proses pemulihan yang cukup panjang, Allah bukakan rezeki sampai akhirnya dia dan suaminya bisa berangkat ke Baitullah. Kalau diingat lagi titik awalnya: kamar rumah sakit, tiang infus, sakit operasi miom. Tapi ending-nya: menatap Ka'bah langsung. Masyaallah.
Jadi kalau sekarang aku lagi drop, entah karena badan nggak fit atau mental capek sebagai IRT, aku coba ganti kalimat "sakit banget ya Allah" jadi "Ya Allah, ajari aku apa yang mau Engkau sampaikan lewat sakit ini." Bukan berarti tiba-tiba jadi kuat dan nggak nangis, tapi setidaknya hati sedikit lebih lapang.
Buat kamu yang lagi baca ini sambil mungkin tangan masih habis diinfus, atau baru keluar dari rumah sakit, semoga kamu juga bisa merasakan pelan-pelan bahwa Allah nggak pernah asal kasih sakit. Entah sebagai penggugur dosa, pengingat untuk jaga tubuh, atau jembatan menuju kejutan indah yang belum kamu duga, seperti temanku yang akhirnya diundang ke Baitullah. Semoga Allah kuatkan kita di setiap ujian, sekecil apa pun itu terlihat di mata orang lain.
MasyaAllah ikut jadi pelajaran juga kakk🥺