5/20 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMenghadiri seminar nasional yang membahas rias pengantin adat Jawa seperti yang diselenggarakan oleh GKR Bendara memberikan pengalaman berharga bagi saya pribadi sebagai pelaku dan penikmat tradisi budaya. Di acara tersebut, saya belajar bahwa menjaga keaslian riasan tradisional seperti Paes Ageng membutuhkan tidak hanya keterampilan teknik tapi juga pemahaman filosofi budaya di baliknya. Salah satu hal menarik yang saya temui adalah peran penting Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) dan tokoh-tokoh seperti Kang Mamuk yang mempraktikkan teknik paes rapi tanpa mengabaikan nilai-nilai adat. Mereka menekankan penggunaan alat seperti kuas daripada pelati agar riasan cepat kering dan hasilnya lebih halus, dengan harga yang tentu saja sebanding dengan kualitas. Terkait pelestarian budaya, seminar ini membuka mata saya bahwa tidak semua klien memahami pentingnya mengikuti riasan adat asli tanpa modifikasi yang berlebihan. Edukasi terhadap klien menjadi kunci agar jasa rias dapat menjaga warisan budaya secara konsisten. Selain itu, parade pengantin khas Jogja menampilkan berbagai jenis paes seperti Paes Ageng Kanigaran dan Pakal adat TRP, yang masing-masing memiliki ciri khas dan ritual penting. Pengalaman ini menegaskan bagi saya bahwa belajar dan terus memperdalam ilmu mengenai adat dan budaya tidak boleh berhenti, terutama dalam dunia rias pengantin. Praktik rias yang sesuai tradisi akan menjaga identitas budaya sekaligus memenuhi estetika seni yang dihargai masyarakat. Saya sangat merekomendasikan teman-teman yang bergelut di bidang rias pengantin atau sekedar pecinta budaya untuk mengikuti seminar semacam ini demi pengetahuan dan kesadaran budaya yang lebih luas.