Kamu tau aku gak pernah misuhi orang kan? Misuh memang bukan aku, aku cuman mbatin "lemah teles gusti Allah sek bales" nek km macem macem sma aku pdhl aku nggak salah, yaudah yg bales Allah
Sebagai seseorang yang tumbuh dalam budaya Jawa, saya sering mendengar ungkapan "Lemah Teles Gusti Allah Sing Mbales" yang secara harfiah berarti menyerahkan ketidakadilan atau kesalahan yang dialami kepada Tuhan untuk menyelesaikannya. Ungkapan ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru membalas perbuatan buruk orang lain, melainkan bersabar dan meyakini bahwa keadilan sejati akan datang dari Tuhan. Dalam pengalaman saya pribadi, ketika menghadapi situasi yang membuat hati terluka atau merasa dizalimi, saya mencoba untuk tidak menyimpan dendam atau melampiaskan amarah dengan kata-kata kasar. Sebaliknya, saya merenungkan makna dari "tirakati, titeni, enteni" yang artinya berusaha, memperhatikan, dan menunggu. Ini membantu saya untuk lebih tenang dan ikhlas. Menjaga sikap tenang dan reflektif bukan hanya membantu mengurangi stres, tapi juga membuat saya lebih bijaksana dalam menyikapi konflik. Seringkali, keadaan yang terlihat tidak adil di mata manusia justru memiliki tujuan yang lebih besar yang hanya bisa dipahami oleh Tuhan. Saya juga menemukan bahwa menahan diri untuk tidak 'misuh' atau mengumpat orang lain merupakan bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain. Ini juga menjadi bagian dari menjaga keharmonisan dalam hubungan sosial. Dengan cara ini, saya merasa hati saya lebih damai dan tidak terbebani oleh emosi negatif. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Jawa yang sarat makna seperti ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga menjadi pedoman hidup untuk menjaga kesabaran, keikhlasan, dan kepercayaan kepada Tuhan. Menerapkan filosofi ini dalam kehidupan sehari-hari membantu saya untuk terus melangkah dengan kepala tegak meski menghadapi tantangan atau perlakuan tidak adil dari orang lain.


