Idham Chalid (27 Agustus 1921 – 11 Juli 2010) adal

2025/9/15 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, dulu tiap pegang uang 5.000 aku cuma lihat gambarnya sekilas tanpa benar‑benar tahu siapa sosok di sana. Setelah cari tahu, ternyata itu adalah Dr. KH Idham Chalid, salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang kiprahnya cukup panjang, baik sebagai ulama maupun negarawan. Idham Chalid lahir pada 27 Agustus 1921 di Satui, Kalimantan Selatan. Dari kecil beliau sudah dekat dengan dunia pesantren dan pendidikan agama. Yang menarik, beliau bukan hanya dikenal sebagai kiai, tapi juga aktif di dunia politik dan pemerintahan. Beliau pernah memimpin lembaga tinggi negara (DPR/MPR) dan juga lama berkecimpung di kabinet sebagai menteri. Jadi, sosok beliau di uang 5.000 bukan sekadar simbol, tapi pengingat bahwa ada ulama yang punya kontribusi besar dalam perjalanan republik. Hal lain yang bikin uang 5.000 ini unik adalah adanya unsur budaya di desainnya. Pada salah satu seri, uang ini menampilkan Tari Gembyung, kesenian tradisional dari Jawa Barat. Dari yang aku baca, Tari Gembyung berkembang dari kesenian terbang (rebana) pada masa penyebaran Islam. Jadi di satu lembar uang, kita bisa lihat kombinasi tokoh ulama–negarawan seperti Dr. KH Idham Chalid dengan budaya lokal bernuansa Islam. Menurutku, pemilihan beliau sebagai gambar uang rupiah juga jadi cara halus untuk mengingatkan kita bahwa sejarah Indonesia bukan hanya diisi oleh tokoh militer atau politisi, tetapi juga ulama yang bisa menjembatani dunia agama dan negara. Banyak kebijakan penting di masa awal kemerdekaan sampai Orde Baru yang tidak lepas dari peran tokoh-tokoh seperti beliau, terutama dalam menjaga agar aspirasi umat tetap masuk dalam diskusi kenegaraan. Kalau kamu tertarik, coba perhatikan lagi detail uang 5.000 yang sekarang ada di dompet. Lihat nama "Idham Chalid" dan bayangkan perjalanan hidupnya dari pesantren sampai kursi tinggi negara. Buat aku pribadi, tahu cerita di balik uang ini bikin rasanya lebih menghargai setiap lembar rupiah, karena ada kisah ulama, negarawan, dan kesenian tradisional seperti Tari Gembyung yang ikut "tercetak" di dalamnya. Info seperti ini simpel, tapi lumayan banget buat nambah wawasan sejarah dan budaya kita sehari-hari.