... Baca selengkapnyaPengalaman menjadi ibu dari anak pertama hingga ketiga memang sangat berbeda satu sama lain. Saya ingat dulu saat punya anak pertama, segala hal yang dilakukan terasa penuh kecemasan. Misalnya, saat dot jatuh, saya harus merebusnya selama 10 menit agar steril sebelum diberikan kembali ke anak. Kalau anak menangis sedikit, langsung cari informasi di Google dan bahkan menghubungi dokter. Semua perlakuan ini demi menjaga kesehatan dan keselamatan si kecil.
Memasuki anak kedua, sikap saya mulai berubah. Saya lebih santai dan tidak terlalu panik seperti dulu. Misalnya, jika dot jatuh, cukup saya bilas dengan air mengalir dan lap dengan kain bersih sebelum diberikan lagi. Level kepanikan juga berkurang, karena saya tahu mana gejala yang memang perlu diperhatikan dan kapan anak hanya sekadar ingin perhatian.
Saat anak ketiga lahir, pendekatan saya jadi jauh lebih rileks. Selama anak masih mau makan dan tidur dengan baik, saya merasa tidak perlu panik berlebihan. Saya mulai belajar membedakan mana yang penting untuk dipikirkan dan mana yang bisa dibiarkan saja tanpa harus stres. Parenting bukan soal menjadi ibu sempurna, tapi bagaimana kita bisa belajar dan menyesuaikan diri sambil tetap menjaga kesehatan mental.
Selain itu, saya juga sadar pentingnya manajemen dokumentasi. Berbeda dengan anak pertama yang sering kali saya abadikan lewat foto-foto profesional, anak kedua dan ketiga lebih sering saya foto seadanya dengan HP karena kesibukan yang meningkat.
Hal yang perlu diingat bagi para ibu adalah jangan terlalu keras pada diri sendiri. Setiap anak dan fase keibuan membawa tantangan tersendiri, dan wajar jika merasa tidak sesempurna dahulu. Dari pengalaman, semakin banyak anak, fleksibilitas dan kepercayaan diri kita dalam mengurus mereka akan semakin meningkat.
Jadi, apakah kamu sekarang di mode anak pertama penuh perhatian, anak kedua yang mulai santai, atau anak ketiga yang lebih rileks? Membagikan pengalaman seperti ini bisa sangat membantu sesama ibu agar merasa tidak sendiri menjalani perjalanan parenting yang unik dan penuh warna.
# karna anak pertama tempat pertamanya kita belajar, sepenuhnya fokus terhadapnya,tp ketika anak kedua hadir, barulah kasih sayang kita terbagi , barulah muncul keadilan tersebut / aturan mainnya, apabila yg ke 3 hadir disitulah kita harus menjadi penengenah/ mediator yg baik, makanya dari orng tua kita menerima nasehat sedangkan anak kita adalah contoh untuk kita pelajari, maka belajarlah dari keturunan kita untuk tersambung sampai nenek moyang kita🤩🍋
Lihat komentar lainnya