Rekomendasi Novel Kbm
"Siapa yang peduli dengan ibu yang lelah? Ketika semua hanya menyalahkan, tanpa pernah mengerti."
Part 1a
“Mama! Sarapanku udah siap belum?”
Mutia berlari tergopoh ke dapur. “Sebentar! Mama masih masak ini! Duh, diam, dong, Nak. Jangan nangis! Mama lagi riweh ini!”
“Ck, celanaku mana Ma? Belum disetrika?”
Mutia menoleh sekilas seraya dirinya terus bergoyang menimang si bungsu yang baru bangun tidur, rewel sebab tidur paginya terganggu oleh teriakan kedua saudaranya.
“Mama belum sempat nyetrika! Minta kakak kamu yang nyetrika, ya? Mama lagi masak! Kamu mau sarapan nggak? Ini si adek, kok, bangun, sih buat mama pusing aja! Bobok dulu kenapa?” Suara Mutia naik satu oktaf.
“Mama.. Eeek..”
Mutia melemas lututnya. “Ya, Allah.. Kapan kelarnya, sih, ini? Yah! Bantuin kenapa, sih? Jangan hp mulu yang di pegangin! Bantuin dong! Mana yang harus aku selesaikan kalau begini? Bangun sudah sedari tadi bukannya bantuin aku ngurus an ak malah hp yang terus di pegangin! Dikira aku nggak capek apa? Yah!” seru Mutia lagi. Suaranya lebih tinggi dari tadi.
Apa kabar dengan seseorang yang dia panggil sedari tadi? Jangankan datang bergerak pun tidak dari pembaringan. Dia malah sibuk dengan ponselnya. Sehabis subuh sudah bangun. Bukannya membantu dia malah sibuk main hp.
“Mama! Sabuk abang mana?! Kemarin ‘kan abang letakkan di lemari? Kok, hilang lagi, sih?”
Mutia hanya bisa diam sembari terus menggoyangkan tubuh kurusnya berharap si kecil berhenti menangis saat berada di gendongannya.
“Mama.. Kenapa lama banget, sih? Aku udah kesiangan ini, loh! Bisa nggak, sih, mama cepat bangunnya? Aku selalu kesiangan nggak pernah bisa sarapan pagi! Mama selalu siang masaknya!”
Nyuutt..
Ada yang sakit di dalam sana. Mutia menahan gemuruh di dada. Sakit, saat putri sulungnya berkata demikian tidakkah dia tahu kalau dirinya begitu lelah hingga bangun pun kesiangan? Mereka semua tidak ada yang membantunya ketika si bungsu sakit. Dia malah disalahkan karena tidak becus mengurus si bungsu yang sedang sakit. Sekarang pun disalahkan juga. Bibir Mutia bergetar.
“Tahu kamu mama bangun kesiangan, kamu yang bangun lebih dulu kenapa nggak masak? Kenapa kamu sibuk main hp dan nonton TV? Sudah tahu tadi malam adek ngamuk kamu malah menyalahkan mama! Seharusnya kamu bantu bukan ngomong doang! Punya an ak perempuan tak bisa diharapkan! Tahunya menyalahkan saja! Tak ayah tak a nak sama saja! Yah! Bantuin!” tak pernah Mutia berbicara demikian pagi ini lepas juga. Dia tahu ucapannya menyakiti putrinya. Akan tetapi, apa yang bisa diperbuat selain meluapkan amarahnya? Selalu disalahkan siapa juga yang mau?
“Punya laki macam tak punya laki! Bukannya sibuk bantuin malah sibuk main hp!"
__
Judul : LUKA BATIN ( luka terdalam seorang istri)
Penulis : Melisa
Platform : KBM
























