Rekomendasi Bacaan Novel
t"Dia pikir malam itu adalah batasnya. Anaknya demam, batuk, lemah…dan ia bahkan tidak punya uang untuk sekadar semangkuk nasi. Tapi Tuhan kirim seseorang di waktu paling tepat."
✨✨✨
Bab 3
Lestari tidak menunggu lebih lama. Ia menyambar ranselnya, menggendong Dian yang mulai merengek pelan di punggungnya, dan berjalan cepat menjauh dari perempatan itu. Rasa takut membuatnya mual. Ia harus mencari tempat aman. Bukan hanya hangat, tapi aman.
Hidungnya menangkap aroma samar. Aroma kaldu ayam dan bawang goreng yang menguar dari sebuah gang kecil. Seperti panggilan sirene bagi perutnya yang kosong, ia mengikuti wangi itu. Di sanalah ia menemukannya: sebuah warung makan sederhana dengan spanduk pudar bertuliskan
“Warung Makan Bu Sumi”.
Pintunya terbuka. Di dalam, seorang perempuan paruh baya bertubuh gempal sedang sibuk mengelap meja.
Lestari ragu-ragu di ambang pintu. Panas dari dalam warung terasa seperti pelukan.
“Cari apa, Neng?” Suara perempuan itu serak tapi ramah.
“Anu, Bu…” Lestari menelan ludah, rasa malunya kembali menyerang. Ia menurunkan Dian dari punggungnya. Anak itu terbatuk lagi, batuk kering yang menyakitkan.
Mata Bu Sumi langsung tertuju pada Dian yang pucat dan berkeringat. “Lho, anaknya sakit?”
Lestari mengangguk pelan. “Demam, Bu.”
“Sudah dibawa ke dokter?”
Lestari menggeleng lagi, matanya mulai berkaca-kaca.
Bu Sumi menghela napas, tatapannya melembut. Ia bisa membaca cerita dari daster kumal, wajah lelah, dan tatapan putus asa itu.
“Duduk dulu. Di dalam lebih hangat.”
Lestari menuntun Dian ke sebuah kursi kayu di sudut. Ia mendudukkan anaknya dengan hati-hati.
“Tunggu sebentar.” Bu Sumi menghilang ke dapur, lalu kembali dengan semangkuk nasi panas mengepul dengan kuah sup bening dan suwiran ayam. Aroma itu membuat perut Lestari melilit hebat.
“Ini, kasih anakmu makan selagi hangat,” kata Bu Sumi sambil meletakkan mangkuk itu di meja.
“Tapi, Bu… saya… saya tidak punya uang,” cicit Lestari, suaranya nyaris tak terdengar.
Bu Sumi melipat tangannya di dada, menatap Lestari lekat-lekat. “Saya tidak tanya kamu punya uang atau tidak. Saya bilang, kasih makan anakmu.”
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Lestari buru-buru menyekanya. “Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak.”
Ia mengambil sesendok nasi dan kuah, meniupnya pelan, lalu menyuapkannya ke mulut Dian. “Makan ya, Sayang. Biar cepat sembuh.”
Dian membuka mulutnya dengan lesu, mengunyah perlahan. Setelah beberapa suap, sedikit warna kembali ke pipinya. Lestari terus menyuapi anaknya sampai nasi di mangkuk itu tersisa sedikit.
“Kamu tidak makan?” tanya Bu Sumi yang sejak tadi mengamati dari balik meja kasir.
“Saya sudah kenyang, Bu,” bohong Lestari.
Bu Sumi mendecakkan lidah. “Jangan bohong sama orang tua. Perutmu itu keroncongan dari tadi saya dengar. Habiskan sisanya.”
Lestari ragu sejenak, tapi rasa lapar mengalahkan segalanya. Ia menghabiskan sisa nasi dan kuah itu dalam tiga suapan besar.
Rasanya seperti makanan paling lezat yang pernah ia makan seumur hidupnya. Kehangatan sup itu menjalar ke seluruh tubuhnya, mengusir sedikit rasa dingin dan putus asa.
📖 Baca kisah lengkapnya hanya di Novelah
Judul : Luka Yang Berbunga
By. Dakuromansu
#TentangKehidupan #novelindonesia #novelah #motivasihidup #novellemon8
Novel "Luka Yang Berbunga" menggambarkan bagaimana kebaikan kecil dapat memberikan perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Dari pengalaman saya membaca cerita ini, saya terinspirasi betapa pentingnya empati dan pertolongan tanpa syarat, terutama bagi orang-orang yang sedang menghadapi kesulitan. Cerita yang menggambarkan Lestari berjuang mencari kehangatan dan keselamatan untuk anaknya yang sakit ini sangat menggugah perasaan. Warung makan Bu Sumi bukan sekadar tempat makan, tapi simbol harapan dan kebajikan yang bisa menyentuh hati siapa saja. Saya juga menyukai bagaimana narasi ini menggunakan detail seperti aroma kaldu ayam dan suasana warung yang hangat untuk membangun suasana yang nyata dan mendalam. Hal ini membuat pembaca terasa ikut merasakan lapar, dingin, dan kehangatan yang dirasakan Lestari dan Dian. Bagi saya, judul "Luka Yang Berbunga" sangat tepat karena mengisyaratkan luka yang bukan hanya kesedihan, tapi juga peluang untuk tumbuh dan menemukan kebaikan di tengah penderitaan. Bagi pembaca yang mencari cerita inspiratif dan mendalam tentang kehidupan dan kasih sayang, novel ini sangat direkomendasikan. Membaca kisah seperti ini mengingatkan kita untuk selalu membuka hati dan menolong sesama, karena kebaikan kecil bisa mengubah hidup seseorang.




