Rekomendasi Baca Buku Novel
Saat semua orang lewat tanpa peduli, Lestari menjahit masa depan anaknya dengan setiap tusukan jarum. Sampai sebuah suara serak berbisik di telinganya, “Sendirian aja, Mbak?”
#lemon8indonesia #promosinovel #novelah #perempuankuat #bacabuku
✨✨✨
Bab 2
Pagi hari keenam, Lestari menggendong Dian yang lemas di punggungnya. Ia berjalan menyusuri trotoar dengan tatapan putus asa.
Setiap orang yang ia lewati terasa seperti hakim. Ia mencoba meminta-minta, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa.
Lalu ia melihatnya. Di sudut perempatan, seorang pengamen muda sedang memetik gitar bututnya. Suaranya sumbang, tetapi penuh semangat.
Yang menarik perhatian Lestari adalah kemeja flanelnya yang sobek di bagian lengan. Sebuah ide gila terlintas di benaknya. Di dalam ranselnya, di antara baju-baju Dian, ada satu set alat jahit kecil yang selalu ia bawa.
Ia mendekat perlahan, jantungnya berdebar kencang. Ia merasa seperti pencuri. “Permisi, Mas.”
Pengamen itu berhenti bernyanyi, menatapnya dengan curiga. “Apa?”
“Maaf mengganggu… Itu… kemeja Mas sobek.”
Pria itu melirik lengannya. “Terus kenapa? Mau kasih duit? Sini.”
Lestari menggeleng cepat. “Bukan, Mas. Saya… saya bisa menjahit. Saya bisa perbaiki.”
Alis pengamen itu terangkat. “Oh ya? Berapa bayarannya? Aku tidak punya uang.”
“Bukan uang, Mas,” kata Lestari, suaranya bergetar. Ia menunjuk bungkusan nasi di samping kotak gitar pria itu.
“Saya cuma minta… sedikit nasi itu. Untuk anak saya. Dia sakit.”
Pengamen itu menatap Dian yang terkulai lemas di punggung Lestari. Wajahnya yang semula keras sedikit melunak. Ia mengamati Lestari dari atas ke bawah. Perempuan putus asa dengan mata memohon.
“Kamu serius bisa jahit?”
“Bisa, Mas. Saya jamin rapi. Seperti baru.”
Pengamen itu berpikir sejenak, lalu mengedikkan bahu. “Oke. Buka bajuku sekarang?”
“Tidak perlu, Mas. Jahit dari luar saja bisa.”
“Ya sudah, kerjakan.”
Lestari menurunkan Dian dengan hati-hati, menyandarkannya ke dinding. “Dian, tunggu sebentar ya, Nak. Ibu kerja dulu.”
Ia mengeluarkan jarum dan benang dari ranselnya. Tangannya sedikit gemetar, tetapi instingnya mengambil alih.
Jarinya bergerak dengan lincah dan cepat, menyatukan kembali kain yang robek dengan jahitan yang rapi dan kuat.
Orang-orang yang lewat melirik sekilas, lalu melanjutkan perjalanan mereka. Di dunia yang sibuk ini, penderitaannya hanyalah sebuah pertunjukan kecil yang tidak menarik.
Saat ia sedang fokus pada jahitan terakhir, sebuah bayangan besar menutupi cahaya matahari. Lestari tidak mengangkat kepalanya, mengira itu hanya pejalan kaki yang berhenti sejenak.
“Sendirian aja, Mbak?”
Suara itu berat dan serak. Terlalu dekat.
Lestari membeku. Jarum di tangannya berhenti bergerak. Ia perlahan mengangkat wajahnya. Seorang pria bertubuh besar dengan senyum menyeringai menatapnya lekat-lekat.
Matanya liar, menjelajahi tubuh Lestari dari atas ke bawah, sebelum akhirnya berhenti pada Dian yang terbaring lemah.
✨✨✨
"Setiap luka punya cerita, dan bunga yang tumbuh darinya menyimpan arti yang dalam."
📖 Baca kisah lengkapnya hanya di Novelah
Judul : Luka Yang Berbunga
By. Dakuromansu




























