PKL 1

"Nanti di pesantren jangan sok kenal ya Ustadz, saya nggak mau ada yang tahu tentang pernikahan kita."

Suara Zea terdengar taj am di dalam mobil yang hening. Ia menyilangkan kedua tangan di depan d a d a, dagunya sedikit terangkat, menatap lurus ke jalanan yang ba s ah oleh sisa gerimis sore. Postur t u b u hnya kaku seperti sebatang kayu kering, menolak menoleh sedikit pun pada lelaki di sampingnya.

Aryan tidak menjawab, jemarinya hanya mengetuk-ngetuk setir dengan irama yang tenang dan teratur.

TUK TUK TUK

Suara itu terdengar seperti detak jam yang tidak peduli pada amarah Zea yang coba ia ledakkan. Udara di dalam mobil terasa sesak, seolah semua oksigen habis tersedot oleh kekesalan gadis itu.

"Turunkan saya di situ," kata Zea sambil menunjuk pertigaan jalan di depan, tak jauh dari gerbang utama pesantren. Itu adalah titik aman, tempat ia bisa melebur dengan santri lain tanpa ada yang curiga.

Lagi-lagi tidak ada jawaban, Aryan hanya mengurangi kecepatan mobilnya. Tapi, bukan untuk berhenti, roda mobil justru berbelok mulus menjauhi gerbang utama, lalu memasuki halaman sebuah rumah sederhana yang pagarnya menyatu dengan dinding tinggi pesantren.

Mesin mobil dimatikan, suara ketukan di setir pun turut berhenti. Hening yang tiba-tiba terasa jauh lebih menusuk daripada kebisingan tadi.

Zea mulai panik, matanya bergerak liar. "Ini, rumah siapa? Kenapa kita ke sini?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar, pertahanannya mulai goyah.

Aryan akhirnya menoleh, wajahnya tetap tenang seperti danau yang tak terjamah angin. "Rumah kita," jawabnya singkat.

Satu kata itu cukup untuk membuat semua udara di paru-paru Zea seakan tersedot keluar. Rumah kita, terdengar seperti sebuah hukuman tanpa akhir. Ia terpaku di kursinya, menatap gerbang kayu di depan mereka, yang di baliknya suara santri putra sedang bercanda tawa. Dunianya yang aman dan familiar berada persis di sebelah neraka barunya.

"Saya nggak mau turun," bisik Zea, lebih pada dirinya sendiri.

Aryan sepertinya tidak mendengar, atau mungkin tidak peduli. Ia sudah membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar. Sementara Zea tidak punya pilihan lain, dengan nafas tertahan, ia membuka pintu mobil.

Beberapa santri putra yang sedang berjalan di depan rumah sekilas menoleh, sepertinya mereka penasaran dengan mobil yang baru datang. Seketika, Zea meraih ujung jilbab, menariknya hingga menutupi separuh wajah seperti seorang buronan. Ia lalu berjalan cepat di belakang Aryan, menunduk dalam-dalam, berharap bisa menjadi tidak terlihat.

Aryan berhenti di depan pintu, menunggunya. Ia memperhatikan tingkah Zea dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa ditutup?" tanyanya datar.

"Banyak orang," jawab Zea dari balik kain jilbab.

Aryan diam sejenak, lalu berkata dengan nada yang sama datarnya, "Memangnya mereka kenal kamu?"

Pertanyaan itu menampar Zea lebih keras dari bentakan mana pun. Ia membeku, perlahan tangannya yang menutupi wajah pun turun. Pipinya terasa panas, tentu saja mereka tidak kenal. Memangnya dia siapa? Putri kiai? Bukan.

Dia hanya Zea, salah satu dari ratusan santriwati yang wajahnya mungkin hanya samar-samar diingat. Atau, bahkan tak ada yang tahu, rasa malunya kini terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada amarah dalam hati.

Di tengah keheningan yang canggung itu, Zea berusaha mencari pegangan untuk harga dirinya yang baru saja terinjak. "Saya harus ke aula," katanya, mencoba membuat suaranya terdengar tegas dan penting. "Acaranya sebentar lagi mulai. Saya ketua kelompok, saya nggak boleh terlambat."

Tanpa banyak bicara, Aryan membuka pintu rumah lalu memberi isyarat dengan kepalanya agar Zea mengikuti. Bukan ke dalam rumah, melainkan ke samping, menyusuri jalan setapak sempit yang diapit oleh dinding rumah dan dinding pesantren. Jalan itu membawanya ke sebuah pintu kecil di belakang gedung aula. Jalan pintas yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Mereka berhenti di belakang panggung yang sepi. Aroma kayu panggung yang lembap menyapa hidung Zea. Aryan menatapnya. "Selesai acara, langsung pulang." Kalimat itu bukan permintaan, melainkan sebuah perintah yang disampaikan dengan suara lembut.

Zea hanya mengangguk kecil, lalu bergegas masuk ke dalam aula lewat pintu samping, meninggalkan Aryan di sana. Suasana riuh di dalam langsung menyambut indera pendengarnya.

"Zea! sudah datang? diantar siapa?" tanya Ita, gadis bernama lengkap Qanita Salwa itu melambaikan tangan, memberi isyarat agar Zea mendekat. Zea tak mampu menjawab, lebih tepatnya ia tak ingin berdusta, mengatakan ayah atau kakak yang mengantar, padahal bukan.

"Dikit lagi nama kita dipanggil, sini duduk!" Aida, langsung menarik tangannya.

"Makasih," jawab Zea sambil memaksakan sebuah senyum. Ia mencoba larut dalam keramaian, dalam suasana normal bersama teman-temannya. Matanya berkeliling, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar tidak karuan.

Suasana aula begitu ramai, seluruh santri kelas 2 Aliyah berkumpul disana, di depan barisan berdiri podium kecil dengan kursi-kursi berjejer rapi, para masyayikh, bu nyai, kyai, nawaning dan gawagis menjadi satu kesatuan. Inilah kebanggaan Zea menjadi bagian dari pesantren Ar-raudhah, pesantren terbesar di kotanya. Meskipun dirinya masih minim ilmu, dan jauh dari label santri itu sendiri.

Ditengah bacaan sholawat nabi yang menggema dari grup al-banjari, Zea tak sengaja melihat sosok Aryan yang berjalan dengan tenang menaiki tangga kecil menuju podium, lalu duduk di antara para ustadz dan ustadzah disana.

Nafas Zea tercekat. "Ngapain dia ke sana?" bisiknya tanpa sadar.

Aida yang mendengarnya menyahut, "Ya iyalah ke sana, kan Ustadz Aryan salah satu pembimbing PKL tahun ini. Kamu nggak tahu? Duh, ganteng banget ya Allah, adem lihatnya."

Zea tidak mendengar pujian Aida, pikirannya sibuk merangkai sebuah permohonan pada yang maha kuasa, agar dijauhkan dari sosok Aryan selama PKL nanti. Bisa gawat kan kalau dia jadi pembimbing kelompoknya.

Ustadz Hadi sebagai pembawa acara mulai membacakan daftar nama kelompok beserta lokasi dan pembimbingnya. Zea berusaha fokus, mencoba mendorong kenyataan pahit tadi ke belakang kepalanya.

"...untuk kelompok putra di Desa Suka Asih, ketuanya adalah Ilham Alfatih."

Nama itu disebut dengan begitu jelas, Gus Ilham. Jantung Zea berdesir, Aida dan teman-teman di sampingnya langsung menyenggol lengannya sambil tertawa kecil. "Cieee... satu desa, Zea... Kesempatan emas ini mah!"

Zea hanya tersenyum tipis, hatinya terasa nyesek. Ada setitik rasa senang yang langsung ditimpa oleh sebongkah rasa sedih. Bagaimana bisa ia bahagia? Statusnya kini adalah istri dari paman lelaki itu, takdir sedang menertawakannya.

Tawa kecil teman-temannya belum juga reda saat Ustadz Hadi melanjutkan pengumuman.

"Dan guru pendamping untuk kelompok putra di Desa Suka Asih adalah... Ustadz Aryan Al-Faruq."

Seketika, seisi aula, terutama barisan santriwati, bergemuruh. Pekikan dan jeritan kagum terdengar bersahutan, Aryan hanya menunduk sedikit sambil tersenyum tipis sebagai balasan. Ia lalu maju selangkah menuju mikrofon yang ada di podium.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."

Suaranya yang dalam dan tenang mengalun lewat pengeras suara, meredam semua jeritan para santri. Tapi bagi Zea, suara itu terdengar seperti gema di dalam kepalanya yang kosong. Dunianya seakan runtuh, semua riuh di sekitarnya menghilang.

Di tengah tepuk tangan meriah yang menyambut salam suaminya, Zea hanya bisa menunduk lesu, berbisik putus asa pada dirinya sendiri.

"Mati aku."

🥝🥝🥝

#TentangKehidupan #PerasaanKu #ViralTerbaru #pkl #novelromance

Central
2025/11/5 Diedit ke

... Baca selengkapnyaPernikahan paksa sering kali membawa beban emosional yang berat, terutama apabila melibatkan hubungan yang kompleks seperti antara santri dan guru di pesantren. Dalam kisah Zea dan Ustadz Aryan, kita melihat bagaimana dilema batin terjalin dengan kehidupan sehari-hari di pesantren Ar-Raudhah. Zea yang dipasangkan dengan gurunya sendiri harus menanggung beban besar, bukan hanya dari tekanan sosial tapi juga rasa tak nyaman terhadap keadaan yang tak pernah ia pilih sendiri. Kehamparan tradisi dan adat pesantren sering kali menempatkan individu dalam situasi sulit, khususnya perempuan seperti Zea yang harus merahasiakan pernikahan demi menjaga kehormatan keluarga dan institusi. Perpaduan antara citra pesantren yang sakral dengan kisah cinta rahasia yang penuh konflik menciptakan ketegangan yang kental. Dialog antara Zea dan Aryan dalam perjalanan menuju pesantren menggambarkan betapa rumitnya hubungan mereka—di sini pernikahan tidak cukup hanya sekadar ikatan legal, tapi juga soal bagaimana menerima dan menjalani nasib yang terbentuk lewat takdir dan tradisi. Selain itu, dinamika acara PKL yang diadakan di pesantren menjadi latar penting yang turut mempertegas peran Aryan sebagai pembimbing sekaligus suami bagi Zea. Interaksi Zea dengan teman-temannya di aula menunjukkan betapa besar tekanan sosial yang harus ia hadapi, ketika identitasnya sebagai istri Ustadz Aryan masih disembunyikan. Kekhawatiran Zea akan reaksi orang lain, hingga rasa takut dikucilkan, sangat terasa realistis dan mengajak pembaca untuk memahami kompleksitas psikologis yang dialami oleh sosok seperti Zea. Pernikahan yang terjadi karena perjodohan dalam cerita ini menambah lapisan tragedi—Zea bahkan memiliki ketertarikan hati pada keponakan Aryan, Gus Ilham, yang kini menjadi ketua kelompok PKL. Ini memperlihatkan konflik batin yang pelik dan potensi drama lebih lanjut yang dapat menyentuh banyak pembaca yang mungkin memiliki pengalaman serupa atau setidaknya dapat berempati. Melalui cerita ini juga tergambar bagaimana pesantren sebagai institusi religius tidak lepas dari problematika sosial dan pribadi warganya. Keterbukaan dan dukungan dalam lingkungan pesantren penting untuk membantu menyelesaikan masalah internal seperti ini. Oleh karena itu, kisah ini tidak hanya menyentuh persoalan cinta dan pernikahan, tetapi juga mengangkat isu penting tentang hak dan perasaan perempuan dalam komunitas pesantren. Dalam menghadapi situasi seperti ini, penting untuk mengedepankan komunikasi terbuka dan mencari solusi yang menghormati perasaan semua pihak. Novel ini memberikan gambaran hidup yang autentik dan mengundang pembaca untuk merenungkan peran tradisi dan kebebasan individu di lingkungan konservatif. Dengan memahami konteks cerita ini, pembaca dapat lebih menghargai perjuangan para tokoh dan merasakan betapa rumit dan indahnya kisah cinta yang terjalin di tengah nilai-nilai religius dan tradisi yang kuat.

1 komentar

Gambar ERiyy Alma
ERiyy AlmaKreator

Judul : PKL (Praktek Kerja Lupa Cinta Lama) Penulis : ERiyyAlma Baca selengkapnya hanya di Kbm App